Welcome!

Hallo semua! Welcome to my blog. I’m just an ordinary girl who juggles between my chaotic work load and personal life. And this blog is one of many other ways to keep me sane 🙂

Tema tentang perempuan selalu menarik perhatianku. Perempuan mana sih yang nggak pengin tampil cantik, modis, energik dan sehat luar-dalam? Makanya aku rajin ngumpulin tips praktis yang pastinya aku share juga disini. So, happy reading and feel free to leave a comment!

Its Party Time!

 

Yak, tahun baru 2012 udah tinggal beberapa jam lagi. Sudah semenjak Kamis sore, berbagai terminal dan stasiun, padat oleh pemudik yang ingin liburan dan merayakan tahun baru di rumah. Yang enggak mudik, udah banyak juga persiapan untuk tahun baruan. Pertanyaan jamak yang sering terdengar menjelang akhir tahun begini biasanya adalah, “tahun baruan ngapain?”. Tul, gak?   😀

Tahun baru sendiri, walau setiap tahun selalu ada, tetapi tetap saja dianggap spesial. Entah siapa juga yang mulai, mengapa pergantian tanggal kok dimulai dari pukul 00. Jadi nih, dalam rangka menunggu pukul 00 nanti, banyak orang yang rela melakukan sesuatu spesial. Spesial itu tidak musti bersifat hingar bingar pesta, ada juga yang menunggu dan mengisi pukul 00 tersebut dengan keheningan dan kontemplasi.

Sementara yang ingin melewatkan pukul 00 bersama-sama dengan orang lain, ada banyak acara yang digelar. Mulai dari New Year’s Eve dinner party di hotel mewah hingga sekadar kumpul-kumpul rame-rame di rumah teman sambil potluck (bawa makanan sendiri-sendiri yang nantinya dinikmati bareng-bareng).

Nah, ngomong-omong tentang pesta kecil-kecilan di rumah teman, kalian yang datang sebagai tamu tahu tidak sih, kalau ada etiket dalam berpesta? Coba sebutkan apa saja?

Pernah gak, menjadi tuan rumah pesta, bukan di tempat-tempat seperti restoran, tapi rumah sendiri. Pastinya lebih repot daripada kalau berpesta di restoran dll, kan? Sebagai tuan rumah, apa sih yang paling bikin seneng dan kesel?

Kalau pengalam pribadi sih, paling seneng kalau bikin pesta dihadiri banyak orang dan semua senang, rame. Trus tamu-tamu memuji makanan yang dihidangkan, tidak ada yang komplen kehabisan. Setelah pesta usai, tamu-tamu pulang dengan sejuta kesan, dan besoknya cerita kalau semalam/kemarin habis seru-seruan di pesta yang aku selenggarakan.

Bagian yang paling bikin kesel sih, lebih ke attitude/sikap tamu sih. Seperti, tamu yang jorok dan bikin rumah kotor. Oke, tiap pesta pasti tempat pesta jadi berantakan setelahnya. Senang sekali kalau ada tamu yang berinisiatif untuk bantuin beresin ‘kekacauan’ pasca-party. Bahkan sekadar membereskan gelas piring kotor ke dapur, waaah senang sekali.

Nah, yang nyebelin itu kalau ada yang numpahin makanan/minuman di sofa atau malah tempat tidur. Iyaaaa, ada lho tamu yang selama pesta gitu, masuk-masuk ruang privat rumah kita. Iiihhh itu sumpah bikin kesel, dan kesel kuadrat kalo udah intruder gitu eeeh ditambah bikin kotor. Uuurggghhh kesel, besok-besok yakin deh diblacklist dari party.

Nah biar di pesta besok, kalian ga masuk daftar blacklist gara-gara attitude, baiknya sih ngerti dulu etiket berpesta itu bagaimana. Membaca artikel ini, kita jadi tau sih, etiket pesta itu bagaimana. Walau artikel tersebut berlaku di barat tapi ga ada salahnya kan kalau kita mengikuti. Tujuannya bagus kok, biar tertib gitu party-nya, baik acaranya maupun tamu-tamunya.   😆

Coba dicermati beberapa etiket pesta berikut:

1. Tepat waktu, termasuk memberitahu/mengkabari kalau akan terlambat. Terutama kalau menghadiri pesta yang sifatnya formal, seperti dinner, launch produk, dsb. Jangan sampai baru datang ketika party udah mo kelar.

2. Kalau party-nya udah jelas disebutkan potluck/BYOB, mustinya bawa makanan/minuman sendiri untuk nantinya di-share. Jangan lantas mau enaknya aja, datang bawa perut doang, sampe TKP ngembat sana-sini. Atau bawa makanan sendiri, tapi pelit ga bagi-bagi, dimakan sendiri. Kesannya pelit bener, gitu.

3. Kalau mo bawa teman yang tidak masuk dalam undangan, minta ijin dulu. Jangan  niru kelakuan norak yang sering keliatan pas kawinan. Datang dengan membawa sekeluarga lengkap sampe ke bedinde-nya. Ga mau rugi sekaleeee…

4. Jangan mengkritik dan menjelek-jelekkan hidangan selama acara. Kecuali punya riwayat alergi tertentu terhadap makanan atau vegetarian atau alasan kepercayaan, nah yang semacam itu mustinya disampaikan ke tuan rumah.

5. Pamit dan mengucapkan terimakasih untuk undangan dan acaranya. Ga sopan banget, dateng acara, makan sana-sini, eee pulangnya gitu aja ga pake pamit.

6. Mingle dan outgoing. Ga enak banget lho, jadi tuan rumah suatu acara, kalau ada tamu yang mojok sendirian dan bertampang asem. Jadi tuan rumah udah cukup repot, so ga bisa ngarepin tuan rumah untuk memperkenalkan dan menemani tamu. Jadi tamu sebaiknya berinisiatif untuk mingle dengan tamu-tamu lain. Juga jangan men-judge tuan rumah sebagai tuan rumah yang jelek hanya karena tidak menyapa. Siapa tahu memang lagi sibuk, dan bagaimana mau menyapa jika selama acara lebih seneng nyempil? Keluar dari area kenyamanan, beredar bergaul dan sapalah lebih dulu.

 

Kalau udah gitu, sama-sama enak kan? 😀

 

 

 

 

 

it’s a gift time!

 

 

Menjelang Natal, di mana-mana terutama di pusat perbelanjaan, sudah terdengar lagu-lagu natal dan dekorasi serba cemara.

Salah satu tradisi natal yang menyenangkan adalah tradisi bertukar kado. Omong-omong kado, jadi inget beberapa waktu lalu. Waktu itu lagi asik-asiknya konsen menyelesaikan proyek, dalam rangka mengejar deadline. Tiba-tiba dideketin teman seproyek, cowok. Dia pasang tampang bingung dan ragu-ragu. Ditanya, awalnya cuma cengar-cengir aja. Karena cuma cengar-cengir geje gitu, ku cuekin lagi, konsen ke kerjaan. Belum ada lima menit, tau-tau dia colek pundakku.

“Vit, tanya dong. Mau minta pendapatmu nih,” katanya masih dengan cengiran lebar.

“Pendapat tentang apa?”

“Engg… anu… istri gue ulang tahun. Kasih kado apa ya?”

 

Astagaaaa…aku langsung ketawa ngakak. Ternyata cuma masalah kado, kok bingung-bingung kek gimanaaaa gitu. Etapi, temen ini dia udah nikah setahun lho. Sempet kepikiran juga sih, kok sampe bingung kasih kado buat istri yang udah dinikahin setahun sih? Apalagi sebelum nikah, mereka pacaran juga cukup lama. Dari masa pacaran hingga menikah itu, ngapain aja, kok masih bingung mo kasih kado apa? Kan tinggal dicocokin ama hobinya?

Gara-gara pertanyaan dari teman, malah membuat jadi mikir. Kalau ada pasangan yang sampai bingung mo kasi kado apa untuk pasangannya, apakah itu berarti dia belum cukup mengenal pasangannya? Lha, sampai ga tau, apa-apa yang bisa membuat si pasangan happy dengan kado pemberiannya. Apa itu berarti si pasangan bingung itu adalah pasangan yang kurang perhatian? Masak berhubungan sekian lama tapi tidak bisa menyebutkan hobinya apa, apa saja yang disenangi.

Tapi di sisi lain, jadi mikir juga. Kalau kita fokus dengan usahanya, bukan ketidaktahuannya, patut diapresiasi juga sih. Paling nggak dia berusaha untuk menyenangkan/membahagiakan si pasangan. Pada akhirnya niat tulus si pasangan, yang harus dihargai. Meskipun, kado yang dia berikan mungkin kurang berkenan, tidak seperti yang diinginkan. Hayooo, ngaku ajaaa, pernah ada yang merasa kecewa karena mendapat kado yang tidak sesuai dengan yang diinginkan?

Nah sekarang kalau membahas dari sisi penerima, kado seperti apa sih yang akan membuatmu bersuka cita? Terutama cewe nih. Apakah kado seperti sepasang sepatu berlabel Manolo Blahnik, tas Birkin, atau seuntai kalung mutiara? Kalau iya, huwaaaa…siap-siap yang jadi pasanganmu pucat pasi harap-harap cemas lirik dompet.   😆

Atau kado berupa buku yang ingin kamu baca, cd musik dari artis yang kamu sukai, atau voucher nonton film di akhir pekan? Kalau iya, hmmm berarti bisa jadi kamu termasuk tipe cewe simpel. Sedangkan jika kamu menyukai kado berupa lukisan wajahmu yang dibuat sendiri, cakram cd berisi video keseharian kamu yang diam-diam direkam dan dihias soundtrack lagu-lagu kesukaanmu (dan membuatmu berkaca-kaca terharu), atau kue tart yang dibuat khusus oleh si dia (padahal dia ga bisa masak dan belum pernah turun dapur), maka bisa jadi kamu termasuk cewe yang sensitif dan cukup nyeni.

 

Well, tapi itu cuma tebak-tebakan karakter secara sotoy ya, jangan dipercaya gitu aja.   :mrgreen:

Kembali ke soal kado, sebenarnya ada tips buat yang lagi bingung cari inspirasi kado. Pertama-tama adalah, ketahui dulu, apa hobi si dia, apa yang dia suka, apa yang dia ga suka. Kalau perlu, ketahui juga riwayat alerginya. Soalnya pernah ada cerita nih, sungguh-sungguh terjadi. Ada temen cowo kasi buket bunga yang bagus banget untuk cewe gebetannya. Tapi respon si cewek kok datar-datar aja. Usut punya usut, ternyata si cewe alergi serbuk bunga dan buket bunga tersebut membuat asmanya kambuh. Nah lo!

Kedua, jangan percaya gitu aja mitos-mitos tentang kado. Seperti misal, cewe pasti suka bunga, cewe pasti suka kejutan/kado yang romantis, dll. Well, jadi kenapa mengenali pasangan itu penting, karena biar sama-sama cewe, tapi karakternya bisa beda-beda, alias unik. Ada kan, cewe yang macho atau penyuka outdoor activity. Cewe kek gini, dikasi bunga edelweiss, malah nyemprot abis-abisan dan menceramahi si pemberi kado. Kenapa? Karena bunga edelweiss ini bukan untuk dipetik, lebih baik dibiarkan di alam bebas.

Ketiga, setiap orang itu unik, so treat them special. Kalau ada waktu luang dan skill khusus, tak ada salahnya memberi kado yang benar-benar spesial. Tak harus mahal, malah biasanya ga mahal kado yang unik gini. Misalnya, kalo kamu punya bakat mencipta lagu, kenapa tidak membuat lagu khusus untuk dia? Cieeee bangeeeet dehhh.    :shy:

 

So, dekat-dekat Natal, masih bingung cari kado?

 

PS. Jadi inget pengalaman pribadi. Ada teman yang diem-diem suka dan lagi pedekate. Dia kasih kado, gelang yang terbuat dari kulit penyu gitu. Walhasil langsung turn off alias ilfil ama cowo ini. Dia ga tahu apa ya, kalau aku pecinta binatang dan penyu itu dilindungi? Langsung turun deh poinnya di mataku. 😀

 

 

Soal Umur, Soal Angka

Pernah merhatiin ga, kenapa cewe ogah ngomongin berapa usia dia sesungguhnya. Kalau ada yang nanya usia berapa, kelahiran berapa, angkatan berapa, waaaa jangan harap bisa dapet jawaban sesungguhnya deh. Kecuali kalo lagi di kantor kecamatan ngurus KTP atau kantor polisi ngurus SIM, hihihi. Kalo liat biodata seleb-seleb, juga jarang yang mencantumkan tahun kelahiran, paling tanggal dan bulan lahir. Kenapa sih, demikian sebagian orang bertanya-tanya.

Its simply because we’re afraid of being old. Being old identik dengan tidak menarik, thus kepercayaan diri pun berkurang.

Ga percaya? Perhatikan aja becandaan/joke orang-orang tentang menjadi tua. Disadari/tidak, joke-joke tersebut mengungkap apa yang ada di alam bawah sadar kolektif kita-kita, bahwa menjadi tua itu sesuatu yang buruk. Karena itu kita takut menjadi tua, kita ogah mengakui bahwa kita tua.

Misal nih, ada temen yang ketahuan usia sebenarnya, malah dijadikan olok-olok bahwa dia sudah tua. Mengabaikan kenyataan bahwa ia di usia yang bukan remaja lagi, dia masih sangat prima, sehat, dan masih sangat menarik.

Coba lihat Yuni Shara, di usia menjelang 40an, dia masih tetap menarik dan seksi. Bahkan secara penampilan, lebih fresh daripada adiknya, Krisdayanti, yang lebih muda.

Contoh lain, perhatikan bintang senior seperti bintang Desperate Housewife Teri Hatcher. Teri ini kelahiran 1964, tetapi di usianya yang sudah 40an ini, dia masih sangat menarik dan seksi. Dia pernah memposting sendiri fotonya yang tanpa make up sama sekali, apa adanya. Terlihat beberapa kerut, kantung mata,  tetapi Teri tidak mengacuhkan. Dan sesungguhnya, Teri masih menarik.

 

 

 

Bintang lain yang jauh lebih senior, Jamie Lee Curtis, di usia 50an lebih masih mempesona. Aura inner beauty-nya memancar, memgalahkan kerut-kerut di wajahnya. Rambutnya sudah memutih, dan ia tidak mewarnainya. Malah dengan potongan crop, Jamie terlihat sangat dinamis dan menyenangkan.

 

 

Mengapa kita menjadi begitu kuatir dengan angka? Sedemikian jahatnya kah penghakiman masyarakat terhadap –khususnya perempuan– yang tak lagi muda? Habis manis sepah dibuang, gitu?

Di sisi lain, mengapa masyarakat bisa begitu memuja hal-hal yang artifisial ya. Seperti angka/umur, kemudaan, kulit yang masih segar, dll. Mengabaikan hal-hal lain yang sesungguhnya lebih esensial, seperti kesehatan. Padahal yang namanya menjadi tua itu keniscayaan lho, dan kita bisa kok, being aging gracefully.

Apa gunanya, usia muda/remaja tetapi banyak penyakit mengintai karena gaya hidup. Sekarang ini makin banyak aja berita, usia muda tapi sudah stroke, diabetes tipe 2, obesitas, dll. Kalau liat sendiri juga, masih muda tapi naik tangga tiga lantai udah ngos-ngosan, jalan dikit aja berapa ratus meter, udah ngeluh-ngeluh capek, dsb. Masih muda tapi gaya hidupnya lebih banyak duduk ngadep layar monitor, minumnya soft drink, makanannya yang kandungan trans fat, gula, dan sodium tinggi, manja alias apa-apa maunya dilayanin, kurang peka terhadap situasi sosial/lingkungan sekitar. Duh, masih bangga ngaku-ngaku usia muda?

Make Up: Yay or Nay?

Pernah liat cewe yang kecantikannya tersembunyi di balik make up tebal?

Ato mungkin  liat ibu-ibu yang keanggunannya tertutupi oleh riasan tebal yang malah membuatnya lebih mirip seperti Cruella De Vil?

Jadi inget Syahrini atau Krisdayanti. Siapa yang setuju mereka cantik tanpa make up-nya? Ha, ga ada yang setuju? Ya iyalah, secara mereka ga pernah tampil tanpa make up.  Aku kok berat banget ya, membayangkan sehari-hari tampil kemana-mana full make up seperti itu. *palmface*

Sebenarnya tujuan ber-make up itu apa sih?

Secara umum, bisa dibilang, cewe make up-an adalah untuk tampil cantik. Lebih khusus lagi, tampil cantik dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangannya. Misal, bibir tipis, dengan lipliner dilukis diluar garis bibir dan mengenakan lipstik dua warna (lebih muda dan lebih tua) untuk menampilkan bibir yang penuh. Atau dengan shading, menyamarkan garis rahang yang terlalu kotak. Atau menonjolkan mata yang indah, dengan warna-warna eyeshadow yang intens dan bulu mata lentik.

Kalau dipikir-pikir, ajaib juga ya kuasa make up. Hanya dengan menempelkan warna-warni tersebut ke kulit muka kita, dan ta-daaaa, penampilan yang langsung berubah. Jadi jauuuh lebih ‘cantik’. Konon, bintang-bintang Korea dan J-Pop, bisa begitu imut, unyu, dan menggemaskan cantiknya, berkat make up. Katanya sih, tanpa make up, wajah mereka biasa banget. Tapi sekali lagi ini katanya.

Trus, kalau benar make up untuk mempercantik, kenapa ada cewe pake make up tapi malah jadi serem?

Kuncinya padahal gampang lho, proporsional. Gitu aja. Segala sesuatu yang berlebihan itu ga bagus kan? Lagian, dari penelitian, terungkap bahwa persepsi orang terhadap cewe yang memakai make up berlebihan ternyata negatif. Cewe yang memakai make up berlebihan dinilai cenderung kurang bisa dipercaya, karena make up tebal mereka seperti menyembunyikan sesuatu.

Sedangkan tanpa make up sama sekali alias tampil polos ketika tampil/ada acara juga kurang menguntungkan. Kenapa? Duh, lebih salah, kurang salah. Maunya apa sih?  :angry:

Weits, sabar dulu. Mengapa tanpa make up sama sekali ternyata kurang menguntungkan untuk impression, karena orang cenderung menilai dia careless. Dan tambahan, kecuali kita secakep dan secantik top model/seleb-seleb, sepertinya tidak disarankan untuk tampil polos-los kalau ingin memberi impresi menarik.   :mrgreen:

Sebenarnya, tak usah lah kita alergi dan benci sama make up. Kalau alasannya adalah ribet, well, no pain no gain. Maksudnya, untuk tampil oke, memang dibutuhkan usaha. Ga bisa, hanya dengan diam tanpa melakukan apa-apa lantas ngarep kita bisa secakep Sienna Miller. Apalagi trus ngeluh-ngeluh menyalahkan Tuhan ga adil sama kita karena ga dikaruniai wajah se-perfect Kendall Jenner. Karena itu make up ada.   :mrgreen:

Make up dalam jumlah yang sewajarnya, flawless make up, yang ringan, sudah cukup kok untuk kita tampil sehari-hari. Kalau ada acara istimewa, barulah make up sedikit glamour.

Oia, yang sering dilupakan orang, mentang-mentang make up bisa menyembunyikan kekurangan kita, kita jadi memperlakukan make up seperti topeng. Maksudnya adalah, karena kita gak pede, minder, tidak bisa menerima diri kita apa adanya, lantas sembunyi deh kita di balik topeng make up. Tanpa make up, kita jadi insecure, ga pede, ga berani tampil. Padahal kunci paling hakiki *tsaaah bahasanya* dari kecantikan adalah inner beauty, kecantikan yang muncul dari dalam dan bersinar terpancar keluar. Percaya deh, Jeung Vita udah sering ngeliat cewe, yang sebenarnya cantik, tapi kecantikannya ga bersinar/ga tampil karena dia ga pede. Sebaliknya, ada cewe yang sebenarnya secara fisik biasa aja, tapi ada sesuatu yang bersinar sehingga di mata orang dia begitu menarik.

Infeksi yang Feminin

 

 

Wiken kemaren, hangout bareng temen-temen cewek di salah satu mall di Jakarta. Ada yang kita komentari dari mall tersebut yang menginspirasi postingan ini. Toilet umumnya, yep. Bikin kita cewe-cewe rempong deh. Habis gimana dong, tissue toilet abis ga dipasang. Wastafel, sabunnya abis ga ditambah. Toilet-toiletnya juga basah, ga cepetan langsung dipel supaya kering gitu. Selain menyayangkan pengelola yang kurang care terhadap kebersihan toiletnya, juga gemes geregetan ama pengguna toilet itu sendiri. Itu kan milik bersama, kok bisa-bisanya jorok dibawa-bawa, ga mikirin orang lain? Padahal antara cewe, buang air, feminine hygiene, kesehatan reproduksi, dan toilet umum itu saling berkaitan loh. Gimana engga, kalau toilet umum tidak mendukung feminine hygiene, lalu gimana dengan kuman-kuman bertebaran di situ? Iiiihhh… Padahal yang namanya buang air kecil itu panggilan alam yang kalau ditunda-tunda malah bikin sakit.

 

Dari situ, jadi kepikiran tentang infeksi pada organ intim kita. Well, gurls, sebagai perempuan, kita harus loh ya, care pada organ reproduksi kita. Karena letaknya di dalam dan ga keliatan, so kita musti lebih aware dan care. Terkait dengan postingan kemarin, sempat aku singgung-singgung tentang vaginosis. Vaginosis apaan sik?

Vaginosis adalah (hasil dari baca-baca, tentu aja) infeksi pada vagina, sebab tidak spesifik, disebabkan oleh bakteri (umumnya bakteri Gardnerella), dan ditandai dengan aroma tak sedap pada vagina dan cairan vagina yang abnormal. Bacterial vaginosis ini biasanya penyebabnya adalah suasana lingkungan keasaman pada vagina yang berubah (normalnya tingkat keasaman/pH vagina adalah 3,8-4,5). Jika tingkat pH ini berubah, maka keseimbangan micro-organisme di dalam vagina bisa terganggu. Micro-organisme ‘jahat’ bisa berkembang biak melebihi jumlah micro-organisme ‘baik’ (yaitu Lactobacillus), dan, baaaang terjadilah infeksi.

 

Ternyata, infeksi pada vagina (jadi kenapa pake judul seperti di atas, karen infeksi ini menyerang organ feminin kita  :mrgreen:   ) ada tiga jenis:

1. Bacterial vaginosis

Seperti yang udah dijelasin di atas. Bakterinya sendiri bisa bermacam-macam ga cuma Gardnerella, tapi juga Mobiluncus, Bacteroides, atau Mycoplasma (duuuh namanya kok cakep-cakep yaaa).

Karena bersifat tidak spesifik ini, sulit untuk menebak secara pasti penyebabnya. Bisa saja berupa direct expose terhadap bakteri ‘jahat’, perubahan hormon seperti misal pas hamil/menopause, sexually transmitted disease, sedang sakit, stress, sabun yang terlalu keras, improper diet, dan metode kontrasepsi.

2. Infeksi jamur

Hah, can you imagine, ada jamur di dalam vagina kita? 😯

Tenang gurls, itu normal kok. Memang ada jamur/yeast/fungi di dalam vagina kita, tetapi dalam jumlah yang sedikit. Ketika jumlah jadi banyak, terjadi yang disebut infeksi. Umumnya jamurnya adalah candida albicans, yang menyebabkan keputihan.

Kalau keputihan ini tanda-tandanya berupa cairan yang keluar dari organ intim kita berwarna tidak seperti biasanya, kadang disertai gatal. Sebaiknya sih, tidak mengobati sendiri, tetapi berkonsultasi dengan dokter (biasanya dengan dokter kandungan atau dokter spesialis kulit dan kelamin sih?)

3. Trichomoniasis

Nah kalau infeksi yang satu ini disebabkan oleh protozoa. Infeksi jenis ini sifatnya lebih serius daripada kedua infeksi di atas, butuh penanganan dokter secepat mungkin. Tapi walau dua infeksi sebelumnya tidak seserius infeksi trichomoniasis ini, tetep loh ga bisa dianggap enteng dan kemudian mengobati sendiri.

 

Trus apa dong yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Nah, terkait dengan postingan sebelumnya, salah satunya adalah menjaga feminine hygiene.

1. Mengenakan celana dalam yang terbuat dari katun/menyerap keringat. Karen sangat penting untuk area feminin kita, tetap kering dan bisa bernapas. Area feminin yang lembab adalah surga untuk tumbuhnya micro-organisme ‘jahat’.

2. Jangan memakai vaginal douche atau sabun khusus kewanitaan. Karena vagina pada dasarnya bisa membersihkan dirinya sendiri, dan penggunaan sabun-sabun seperti itu malah bisa merubah tingkat pH kita.

3. Hindari memakai celana ketat terlalu lama.

4. Kalau misal sudah terjadi infeksi, jika terasa gatal, jangan digaruk. Digaruk akan memperburuk infeksi.

5. Perhatikan cara membasuh organ intim kita yang benar, yaitu dari depan ke belakang. Sesudahnya keringkan.

6. Jika sedang menstruasi, sering-sering mengganti pembalut.

7. Proper diet.

 

Yang perlu diperhatikan, vaginal infection tidak selalu disebabkan oleh poor feminine hygiene. Tetapi kalau kita terbiasa care dengan feminine hygiene kita, ada tiga manfaat yang bisa kita dapat:

1. Paling tidak kalau terbiasa memperhatikan kewanitaan kita, kita jadi aware kalau ada perubahan di sekitar organ intim kita.

2. Kalau kita terbiasa jorok dan tidak care dengan feminine hygiene kita, ada dua hal yang bisa terjadi: terkena infeksi atau kalau sudah terkena infeksi, maka infeksinya bisa makin parah.

3. Tindak pencegahan, alias memperkecil resiko.

 

So gurls, be beautiful inside out yah…. Cantik yang holistik, gitu *tsaaahhh istilahnyaa* :mrgreen:

 

Feminine Hygiene: Menstrual Hygiene dan Organ Intim Kita

Okay gurls, sesuai janji, postingan terbaru Jeung Vita adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang mengangkat tentang basic personal hygiene. Sekarang kita akan naik level dari basic ke advance, dengan membahas tentang feminine hygiene. Emang feminine hygiene apaan sih? Kebersihan yang sifatnya feminin gitu, serba berbunga-bunga dan berenda-renda? *plakkk*

Feminine hygiene itu gurls, kebersihan diri yang menyangkut tentang organ reproduksi kita. Yang paling ‘kelihatan’ yah tentu saja vulva (bagian terluar dari organ reproduksi kita) dan vagina. Loh kenapa dengan menjaga kebersihan organ feminin kita? Harus ya? Gimana caranya?

Grrr…terus terang geregeten gemes juga kalau ada respon begini. Karena respon tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran/informasi betapa pentingnya menjaga feminine hygiene. Hal kek gini udah terlihat dari kecil kok. Coba aja perhatikan kalau ke tempat umum misal toilet umum di mall, restoran fast food, amusement park, dll. Berapa banyak kalian pernah melihat orang tua ‘mengajarkan’ anak-anaknya (umumnya masih balita) untuk pipis di tempat umum terbuka seperti di rerimbunan/pinggir jalan. Mungkin yah, mikirnya, kalau masih kecil gapapa, ga ‘saru’. Aduh tapi perhatikan nggak, habis menemani anaknya pipis gitu, trus dinaikin gitu aja celananya. Enggak dibasuh sama sekali.

Atau kalau di desa-desa atau kampung di urban. Sering lihat anak kecil (bayi/balita) berkeliaran telanjang tanpa penutup tubuh bagian bawah. Lagi-lagi, mungkin loh ya, pembiaran tersebut karena dipikirnya bukan hal yang vulgar. Terus anak-anak kecil itu main di tanah gitu. :palmface:

Yang jadi pikiran, bukan soal vulgar/kepantasan sih, tapi, idiiih itu kebiasaan seperti itu, pantes aja, jangan basic personal hygiene, bahkan menjaga kebersihan organ paling pribadi pun mungkin tak terpikirkan. Makanya ga heran juga sih, kalau ngeliat temen-temen cewe yang sepertinya kurang begitu care dengan feminine hygiene. Keliatan lho, kebiasaan tersebut dari cara mereka mereka di kamar kecil, pakaian dalamnya, kebiasaan ketika menstruasi, hal-hal semacam itu deh. Dan kebiasaan tersebut makin dikuatkan dengan cara berpikir yang, “ah ngapain diurusin banget, toh ga keliatan dari luar. Beda dengan misal wajah.”

Wedew, yang begini ini nih, berarti masuk ke tipe cewe yang spending untuk make up dan baju, gede, tapi untuk kepedulian terhadap bagian paling pribadinya, malah rendah. Kalau dilihat-lihat memang sepertinya oke banget gitu ya, glamour, gaul, trendy. Tapi tapi, jangan-jangan nih, keputihan, gatal-gatal di area pribadinya, organ pribadinya mengeluarkan bau tidak sedap, dan bahkan mungkin terkena vaginosis. Padahal ya padahal, cukup dengan menjaga feminine hygiene, kita tidak perlu mengalami hal-hal seperti tadi.  Hayo, siapa deh yang cukup care dengan aroma yang keluar dari organ pribadinya, ngeh nggak kalo misal ternyata mengeluarkan aroma yang fishy-fishy gitu? Kyaaaaa…aduuuhhh jangan sampai yaaaa…

Untuk menjaga feminine hygiene, kebiasaan ketika menstruasi sangat berpengaruh. Siapa yang kalau sedang mens, males ganti pembalut? Ketika sedang mens dan buang air kecil, tidak ganti pembalut? Seberapa sering sih kalian ganti pembalut dalam sehari? Biasanya kalian ganti pembalut kalau bagaimana? Bagaimana kebiasaan kalian kalau ganti pembalut dan buang air kecil?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, bisa terlihat bagaimana kebiasaan feminine hygiene seorang cewe, termasuk poor atau good. Termasuk poor jika mayoritas jawabannya MALAS, JARANG/TIDAK GANTI. Sedangkan jika jawaban mayoritas RAJIN, SELALU, SERING, maka kebiasaan feminine hygiene-nya termasuk good.

Menjaga feminine hygiene ketika sedang menstruasi sebenarnya mudah kok, simpel. Rajin-rajin ganti pembalut, apalagi kalau habis dari buang air kecil/besar. Mengapa? Karena kondisi lembab, adalah kondisi yang sangat menguntungkan bagi bakteri-bakteri yang tidak menguntungkan. Coba deh buka-buka situs museum menstruasi ini, klik topik tentang odor/menstrual odor. OMG, this is something beyond your imagination 😮

Selain itu ketika sedang membasuh vagina setelah buang air kecil/besar, cara membasuhnya pun ada triknya. Basuh dari depan, bukan dari belakang ke depan. Mengapa? Karena kalau dari belakang ke depan, itu bakteri-bakteri dari rektum dan sisa-sisanya, bisa terbawa air masuk ke vagina. Akibatnya ya bisa keputihan, infeksi bakteri, dll. Usahakan area vulva untuk selalu kering. Jadi setiap kali habis buang air, keringkan dengan lembut. Kalau di toilet umum, usahakan untuk menggunakan air yang mengalir dari kran, daripada air yang tergenang di ember/bak. Kalau hendak mengganti pembalut, tangan juga sebaiknya dalam kondisi bersih, so cuci tangan dulu sebelum ganti pembalut. Setelahnya, wajib hukumnya untuk cuci tangan lagi dengan sabun.

Bagaimana dengan douche atau cairan/sabun pembersih khusus kewanitaan? Jawaban para ahli adalah, tidak perlu. Vagina sudah didesain sedemikian rupa, sangat genius dan pintar, untuk membersihkan dirinya sendiri. Adanya flora di dalam adalah untuk menjaga keseimbangan pH. Penggunaan vagina-douche malah dapat mengganggu kesetimbangan pH, sehingga bakteri-bakteri berkembang biak dan mengakibatkan infeksi, keputihan, aroma tak sedap, dll.

So, gurls, sudah jelas khan tentang serba-serbi feminine hygiene? Jangan sampai ya, kita termasuk cewek yang trendy, gaul, make up wah, tetapi untuk area privat malah dicuekin dan keluhannya macam-macam. Betul, kan? Toss dulu dooong  :mrgreen:

Personal Hiegyne dan Tampil Cantik

Gurls, masih inget khan tulisanku yang tentang kapan kita mengalami haid pertama dan disitu aku menyinggung sedikit tentang pendidikan seks. Jadi pengin nulis tentang gimana cara menjaga kebersihan pribadi.

Sebagai cewek, kita maunya selalu tampil menarik, khan? Termasuk didalamnya yaitu kita maunya tampil segar dan ga bau. Menurut kalian gimana, ada cewek cakep, cantik, dandanan oke, tapi setelah didekati ternyata bau badan. Atau dilihat lebih teliti, ternyata agak-agak jorok, dan itu tercermin dari bajunya yang agak kurang bersih dan bau, kuku yang kotor, gigi yang masih ada sisa makanan, dll. Ugh, ga tau pendapat para cowo, tapi aku sebagai sesama cewek aja bisa ilfil.

Kecantikan ga sebatas make up, dong, itu yang perlu disadari. Tampil oke juga ga sebatas baju bermerk, kan?

Terus apa dong, hubungan antara tampil cantik dan tadi sempat menyinggung tentang haid pertama? Ternyata nih, hubungannya erat lho. Dari artikel ini, dijelaskan bahwa sejak kita mengalami haid pertama, kita mengalami banyak perubahan. Perubahan fisik mencakup bentuk tubuh yang mulai membentuk (karena pengaruh hormon), juga tumbuhnya rambut-rambut halus di tempat tertentu (ini juga karena hormon), ples ternyata bau badan kita juga turut berubah lho. So, ini waktu yang tepat untuk belajar tentang personal hiegyene. Mana ketika kita mengalami masa puber, berarti kita memasuki masa remaja. Secara psikologis juga pasti berbeda. Menurut ahli psikologi perkembangan, di masa remaja ini kita mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis.

Jadi ga heran ya, ketika kita mulai beranjak remaja, penampilan mendadak menjadi fokus kita. Yang waktu kecil ga terlalu care ingin tampil cantik di mata orang lain, pada saat remaja mulai deh pengen tampil menarik. Nah, ngapain tampil dengan make up tebal dan baju branded kalau bau dan jorok? Iuugh banget, percaya deh.

Trus, apa aja dong yang mesti diperhatiin tentang personal hiegyene, terutama kita sebagai cewe?

Bau badan! Ga susah kok, yang penting rajin mandi dengan sabun yang sesuai dengan jenis kulit kita.

Tapi kenapa masih ada teman kita yang bau badan walau dia ngaku rajin mandi ya? Mungkin loh ya, kalau mengamati, kemungkinan doi rada-rada jorok. Misal nih, jarang ganti dalaman, jarang ganti baju, atau cara mencuci bajunya asal aja so malah bau baju jadi apek. Trus perhatiin, cara menggosok gigi. Bener kali, dua kali sehari, tapi masih bau mulut. Yang bener khan, habis makan dan sebelum tidur, plus lidah juga disikat. Cuci tangan juga nih, apalagi kalau habis dari toilet. Hukumnya w-a-j-i-b. Dan seperti yang udah aku sempet singgung, kalau lagi menstruasi, wajib juga tuh, sering-sering ganti pembalut, setiap lima jam gitu ganti.

Ada pertanyaan, vaginal douch atau sabun khusus kewanitaan itu perlu ga sih? Well, tentang menjaga kebersihan daerah intim kita dan khususnya selama menstruasi, aku tulis dalam satu postinganj khusus ya. Karena bakalan panjang.