Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

image

Takbir berkumandang. Genap sudah puasa Ramadhan kita jalankan. Well, apa yang sudah kita pelajari selama Ramadhan kemarin? Dari gaya hidup, pola makan, mengelola emosi, hingga kepedulian pada sekitar. Buat yang cewe nih, berapa lama nih rata-rata bolongnya? Apakah selama puasa bisa menahan PMSnya hingga tidak meledak ke orang sekitar? *nyengir* :mrgreen:

Lebaran sudah tiba. Momen yang tak hanya bernuansa religi tapi juga aspek kultural. Banyak yang mudik untuk berkumpul dengan kekuarga. Walau itu beresiko ditanya hal-hal personal yang kadang bikin bete. *nyengir lagi*  :mrgreen:
Memang keluarga, home -rumah-, kangen, tak tergantikan. Walau pas di rumah, tetap saja stress.

Lebaran juga identik dengan saling memaafkan. Nah omong-omong tentang memaafkan, apakah mantan termasuk dalam daftar untuk dimintai maaf/dimaafkan? Apalagi jika kisah kita dengannya terlampau menyakitkan untuk diingat. Lho kok jadi mendadak mellow galau sih?
Jadi ingat satu idiom; forgiven but not forgotten. Is it? What do you think, gurls?

Selamat lebaran, gurls, mohon maaf lahir batin yah. Jaga ingat-ingat diet kita, hihihi. Tetap perbanyak konsumsi sayur dan buah. Makan yang bersantan dan berlemak, well, kalau susah menolak sodoran tante, budhe, bahkan camer, ambil sedikit-sedikit aja. Tapiiii emang susah sih ya, menolak sodoran para tetua, apalagi camer. Atas nama kesopanan. :mrgreen:    😀

Foto diambil dari sini:
fotogambarterbaru.blogspot.com/2011/08/gambar-ketupat-lebaran-2011.html

Stress Menjelang Hari Raya

 

Menghitung hari… Lebaran makin dekat….

Anehnya aku kok malah jadi stress ya. Senang, excited, membayangkan suasana lebaran dan memuaskan kangen dengan rumah –home-, tapi di sisi lain juga ada semacam perasaan ‘tertekan’ yang mau ga mau jadi kepikiran. Dan kalau sudah kepikiran, badan juga jadi gampang capek, otot-otot jadi kaku dan tegang, pusing, tidur jadi kurang nyenyak, kepala rasanya penuuuh.

Kemarin iseng browsing-browsing. Pikiran dan kerjaan udah susah konek, sudah teracuni aroma liburan. Daripada susah konsentrasi, mendingan menyegarkan pikiran terlebih dulu dengan membaca artikel yang bisa menambah pengetahuan. Tahu-tahu, udah terdampar di sini saja. Membaca artikel tersebut, aku baru tahu bahwa ada yang namanya Stress Saat Liburan. Jangan-jangan, apa yang sedang aku alami sekarang ini, stress. Kok bisa?

Mencermati isi dari artikel tersebut, masa-masa seperti liburan dan event tertentu, berpotensi untuk menyebabkan stress. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga sih, terutama menjelang hari raya ini. Bagaimana tidak, kita yang mudik, sebulan sebelum hari H, sudah dipusingkan dengan urusan mencari tiket. Kalau sudah dapat, urusan belum selesai disitu. Masih ada hal lain yang harus dipikirkan, seperti misal, dapet THR ga, oleh-oleh untuk keluarga dan keponakan, baju dan aksesori untuk acara keluarga, dan kalau yang masih harus beres-beres rumah masih ketambahan seperti masakan/hidangan lebaran, kue-kue yang tersedia, jumlah tamu, dekorasi rumah, dan yang paling final, pertanyaan yang paling dihindari kaum lajang: kapan menikah. Yes, pertanyaan-pertanyaan yang bersifat personal seperti ini, sangat lazim ditanyakan ketika hadir di acara-acara keluarga. Kalau pasangan baru, pertanyaan tersebut diganti dengan pertanyaan: kapan hamil/kapan punya baby.

Belum lagi harus bersosialisasi-bersilaturahmi. Kegiatan ini walau kalau dilihat yah, ‘hanya’ sebentuk bertandang dan ngobrol, tapi sebenarnya melelahkan lho. Pernah mengalami dalam sehari harus muterin tujuh rumah, dari pagi sampai malam? Apalagi untuk yang baru menempuh perjalanan jauh mudik dan kekurangan waktu tidur. Belum sampai rumah masih harus memberesi sisa-sisa jamuan. Errrr….lama-lama kok jadi curcol ya :mrgreen:

 

Well, lalu apa dong yang bisa dilakukan untuk mengurangi/mengelola stress masa liburan? Jangan sampai, ketika semua berakhir, kita malah sakit dan kecapekan karena kurang istirahat.

1. Istirahat dan tidur yang cukup

2. Bagi-bagi tugas dengan anggota keluarga yang lain untuk meringankan pekerjaan.

3. Bersikap asertif, jika memang capek dan butuh istirahat, jangan sungkan-sungkan.

4. Hemat tidak ada salahnya lho, tidak harus yang menjamu tamu dengan mewah atau memaksakan diri untuk tampil wah di depan orang lain, demi pengakuan.

5. Jika dirasa memang sangat lelah dan terbebani, share, curhat, dengan mereka yang terpercaya dan mampu menyediakan dukungan.

 

So, gurls, menghitung hari-hari? Jangan sampai stress ya…enjoy the holiday 😀

Lebaran Sebentar Lagi….

Gurls, 10 hari lagi menjelang Lebaran. Rasanya kok makin deg-degan dan gimanaaaa gitu. Ada rasa menyesal karena makin mendekati paripurna Ramadhan, malah makin intensif untuk ibadah di tempat peribadatan bernama mall. Tapi selain itu juga ada semacam excitement karena sebentar lagi menjalani ritual mudik.

Oia, omong-omong lebaran nih, pada nyiapin apa sih? Buat yang mudik-mudik, selain tiket dan oleh-oleh, ada lagi ga yang disiapin? Kalau yang ga mudik, selain beres-beres rumah, apaan dong, yang disiapin? Baju baru masih pada nyiapin gitu? Udah gede ini, mungkin baju baru ga begitu penting lagi ya. Toh, tanpa lebaran pun, kita juga punya alasan untuk belanja baju baru, iya kan? *nodong* :mrgreen:

Alokasi belanja baju baru untuk sendiri bisa dialihkan untuk membelikan baju baru ponakan, ibunda ayahanda, atau mungkin mereka yang kurang beruntung. Sementara kalau kita-kita, hmmm…coba tengok lemari pakaian lebih dalam lagi deh. Maksudnya, diantara tumpukan belanjaan kita, ada ga ‘dosa-dosa belanja’ kita. Ngaku deh, dari hobi shopping, ada yang belanja tapi aitem belanjaan itu belum kepake. Ada? :mrgreen: *sendirinya tunjuk jari*

Atau mungkin bukan baju yang belum pernah dipake, tapi baju-baju yang baru sekali dua kepake. Nah, saat lebaran begini, aku mencoba untuk lebih kreatif memix’nmatch koleksi baju-bajuku, termasuk dengan rangkaian aksesori. Eh jangan salah lho, dengan sedikit kreativitas, baju lama bisa keliatan baru. Coba aja manfaatkan selendang, syal, pashmina, etc. Jadikan semacam personal signature untuk sabuk, lilitan di pinggang/panggul, etc.  Aksesoris seperti kalung, bros, corsage, payet pun bisa ditambahkan untuk meng-upgrade koleksi lawas sehingga tampil beda. Bisa juga tambahin pita, renda, apapun itu, coba deh mlipir ke toko peralatan jahit. Seriusan, lucu-lucu pisan. Warna-warni, macem-macem bentuk. Yang suka dengan hal-hal kreatif, kalo mampir toko beginian pasti berbinar-binar penuh ide, baju-baju lama mo dibikin baru gimana.

Karena lebaran identik dengan ngider dari pagi mpe malem, biasanya jenis baju seperti apa sih yang kalian kenakan? Sekadar saran nih, karena acara silaturahmi dan kumpul-kumpul ama sodara, jadi coba pilih jenis outfit yang sopan sekaligus santai tapi ga bikin gerah. Lupakan gaya dan modis, kalau dari model dan bahan ternyata bikin keringetan dan repot sendiri. Kalau acaranya pas formal seperti halal bihalal di hotel gitu, boleh deh, pilih bahan yang sebenarnya tidak menyerap keringat, seperti lace ato satin. Untuk alas kaki pun demikian. Bayangin dong, kalau pake high heels tapi acara halal bihalal ternyata outdoor di pematang sawah *eh mungkin ga ya? mungkin aja kali ya, kalau tema halal bihalal adalah back to nature*.

Untuk dandanan, aku sendiri lebih suka yang natural dan tipis-tipis aja. Bayangkan aja, seharian ngider, dan coba kalau udara pas cerah. Malu-maluin aja pas di tengah silaturahmi, lagi dikenalin ama sodara jauh yang baru tau saat itu, cowo ganteng dan potensi dijodohkan, tapi muka belang bonteng karena foundation kelunturan keringat. Malah buatku, daripada make up, aku lebih mempersiapkan perawatan kulit sih. Jadi, udah jauh-jauh hari aku rajin membersihkan kulit wajah dengan benar, scrub/peeling, masker, dan makan-makanan yang bergizi. Jadi pas hari H, kulit kenclong bersinar, bahkan tanpa bedak pun pede jaya. 😀

Hmmmm…. jadi gimana gurls? Ada tips tips lain yang bisa dibagikan terkait persiapan lebaran? Kalau persiapan untuk yang “di dalam” bagaimana? *duenggggg*

Jangan sampai karena keasyikan persiapan untuk hal-hal yang bisa dilihat, lantas lupa untuk persiapan yang sifatnya invisible. Sepuluh hari lagi, cyiiin… *brb ke midnight sale* *ditimpuk pembaca*

Midnight Late Shopping dan Ramadhan

 

Hari-hari gini benar-benar godaan di bulan Ramadhan. Kesabaran dan komitmen bener-bener diuji. Bagaimana tidak, sale, diskon, bazaar, midnight sale dimana-mana. Aaaargghh…gurls, surga (bagi keinginan kita) sekaligus neraka (untuk dompet dan tabungan kita). Keluar rumah/kost baru berapa meter, spanduk diskon menari-nari menggoda kita. Buka surat kabar, iklan midnight sale menyita hampir sehalaman, aaawww menggoyahkan iman. Ini baru di luar mall/pusat perbelanjaan lho, belum masuk di dalamnya.

So, weekend kemarin imanku tergoyahkan, ketangguhanku buyar karena iming-iming dan serbuan banjir diskon. Mampirlah aku ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta raya. Niat awal yang hanya mengincar sepatu yang nyaman dipakai jalan, berbuah. Aku kalap dan akal sehatku hampir tidak jalan melihat berbagai penawaran yang (menurutku) gila-gilaan murah. Hingga lewat dari tengah malam, keluar dari mall dengan kaki letoy, tangan menenteng segambreng tas, barulah pada saat itu akal sehatku berjalan.

Duduk santai (lebih tepatnya lemas sih, saking kelelahan memutari seluruh mall), menikmati segarnya air putih membasahi kerongkongan yang kehausan, sembari mengecek kembali belanjaan. Pada saat itu tersadar, “Omg, what have I done?” *drama mode on*

Selain sepatu yang memang aku butuhkan, yang lain-lain ini benar-benar aku butuhkan ga sih? Belum lagi ada sedikit rasa penyesalan melihat beberapa aitem belanjaan yang aku beli hanya karena impulsive atau ga enak dengan pramuniaganya. Hello, ga enak dengan pramuniaganya? Kita konsumen gitu loh, kita berhak dan bebas-bebas saja kok, masuk toko dan mau beli atau tidak. Yeah, pemikiran seperti itu baru jalan ketika kita sudah di luar “arena pertempuran” (halah) :mrgreen: .

Sudah menenteng banyak belanjaan, eh, pikiran masih juga ga mau tenang. Masih berkelana, terbayang sandal lucu nan murah di butik itu (bisa buat alternative kalau lagi jalan santai), atasan manis dengan harga yang menantang iman di butik sana (buat lebaran pas silaturahmi, okek banget dah), dll. Omg! When is enough is enough?

Well, gurls, ada beberapa catatan sih dari pengalaman tersebut. Satu, kalau midnight sale atau emang niat banget berburu diskon, lupakan high heels dan sepatu sandal cantik. Pake sandal yang paling nyaman, yang ga bakal bikin kaki dan betis teyol. Yang kedua, yang paling penting, perhatikan antara keinginan dan kebutuhan. Itu kalau gamau di akhir acara, pake nangis darah karena tabungan jebol. Ketiga, tak perlu merasa sungkan atau ga enak. Beli/belanja barang karena memang kita butuh, bukan karena kita ga enak atau ikut-ikutan.

 

Masih duduk leyeh-leyeh, aku kembali merenung. Ini puasa, ramadhan, momen yang tepat untuk mengasah kepekaan social kita. Berbagi. Beribadah. Dan lihatlah aku, di mana aku baru saja “beribadah”. Berapa banyak yang aku habiskan untuk memuaskan keinginanku, tapi berapa banyak yang aku habiskan untuk berbagi? Sudah proporsionalkah?

Diam-diam terbetik doa, “Dear God, protect me from what I want.”

Puasa Bikin Ga Produktif?

 

Masak iya? Pernah ngalamin?

Seperti siang ini, jam-jam rawan. Jam 14, ketika perut udah krucukan bunyi-bunyi mulu, mata berkali-kali ngelirik jam, mulai ga fokus mikirin kerjaan tapi malah ngalamun membayangkan segarnya es cincau dengan gula merah asli, mata berat mulut menguap, maunya nempel aja nih kepala ke bantal. Walhasil, diajak meeting, susah banget untuk konsentrasi dan fokus. Hayooo, siapa yang familiar dengan situasi seperti ini? Apalagi pas puasa, ga bisa ngabur ke pantry untuk sekadar menyeduh kopi, menambah asupan kafein dalam darah. 😆

 

Well, gurls, dari hasil baca-baca nih, ternyata ada beberapa faktor yang bisa mengganggu konsentrasi, yaitu:

1. Social media

Hahaha, kalau ini ngaku aja deh. Siapa yang belum pernah berurusan dengan not-working-tools seperti twitter, facebook, dsb. Sendirinya nih, ngaku juga. Btw udah ada yang follow akun twitterku? Follback dong, kakaaaa. :mrgreen:

Beneran deh, untuk soal twitter ini, apalagi kalau udah nyandu, hadeh. Bukan soal ngetwitnya sih, yang bikin nyandu, tapi ketika kita terlibat samber-samberan dengan akun orang. Penasaran untuk selalu melihat reply-nya dan terus pingin bales. Nah kalau udah seperti ini, cara paling efektif adalah bersikap tegas pada diri sendiri. Tutup tab atau aplikasi twitter client seperti tweetdeck, kalau perlu beneran log out deh. Jauhkan gagdet juga, karena sama aja bohong dong kalau masih pegang hape dan ngetwit dari situ. Bukannya fokus ke layar laptop tapi malah megang hape mulu.

2. Multitasking

Tentang multitasking ini pernah dibahas di postingan sebelumnya. Jadi ternyata dari berbagai penelitian, multitasking tidak seefektif yang kita kira. Lebih baik kerjakan one at a time, satu-satu diselesaikan, dan berdasar prioritas urgensinya. Untuk hal-hal yang tidak penting, seperti menelepon sambil membersihkan laptop, multitasking sih tidak masalah.

3. Nagging thought, kekhawatiran, kepikiran sesuatu, dll yang membuat kepala serasa penuh

Kalau lagi galau, kepikiran sesuatu, cemas, puspas, memang bisa bikin kita jadi ga konsen blas. Gimana mo fokus, kalau di kepala terus kepikiran soal pacar yang dicurigai selingkuh dan sekarang lagi di luar kota bareng cewe yang kita tahu dia bitchy. :mrgreen:

Atau kita tiba-tiba punya banyak ide, yang sangat random, dan kita susah untuk mengorganisirnya. Seperti meloncat-loncat, dan banyak sekali yang bersliweran di kepala. So, what are we gonna do about this? Write them down! Yap, ambil secarik kertas, yang bekas aja supaya hemat, tulis apa aja yang ada dalam kepala kita. Ide-ide, to do list, kekuatiran, kecemasan, dll. Tak usah rapi-rapi. Ketika kita membaca ulang, atau bahkan ketika kita baru menuangkan saja, percaya deh, yang serasa seperti benang munyer di kepala seperti lumayan terurai. Kita jadi lebih mudah mempetakan apa yang harus kita lakukan dan kembali fokus.

4. Stress

Stress dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental, tanpa kita sadari. Yang jelas kerasa sih, kita seperti tegang, terbebani. Kalau sudah begini, manajemen stress dipercaya dapat menurunkan tingkat stress dan kembali kita bisa berkonsentrasi.

5. Bosan

Kalau ini jelas. Bahkan kita bisa jadi mengantuk karena bosan. Coba meregangkan tubuh, berdiri, jalan-jalan sebentar ke lantai tetangga. Intinya istirahat sejenak, menyegarkan diri, asal tidak keterusan dan malah melupakan yang seharusnya jadi prioritas kita.

6. Kurang tidur

Ternyata tidur cukup masih menjadi syarat utama supaya konsentrasi kita tidak mudah menurun. Terutama tidur di malam hari. Bayangkan dong, kalau kurang tidur pada malam hari, sementara paginya kita harus meeting seharian. Tidur cukup minimal 7 jam sehari. Kalau mengalami sleeping disorder, bisa menghubungi ahlinya untuk segera mendapat treatment yang tepat. Karena tidur merupakan hal yang cukup esensial untuk kesehatan kita.

7. Lapar

Kalau ini, tidak usah ditanyakan lagi ya. Masalahnya, kalau kita puasa, bagaimana dong? Kuncinya ada pada saat sahur. Coba baca lagi deh, postingan ini yang membahas menu-menu sahur seperti apa yang bisa menjaga kita tetap berenergi selama puasa. Juga makanan yang sebaiknya dihindari karena bikin lemes.

8. Depresi, fatigue, obat-obatan, Attention Deficit Hyperactive Disorder

Nah ranah ini udah masuk ranah ahlinya. Kalau sekiranya mencurigai kurang bisa konsentrasi karena hal-hal tersebut, segera kontak pakarnya untuk mendapat penanganan yang tepat.

 

Satu hal lagi yang kalau rajin dilakukan juga bisa meninjaga konsentrasi kita selama puasa, yaitu olahraga.

 

So gurls, siapa bilang puasa bikin ga produktif? Itu mah karena belum tahu aja bagaimana menyiasatinya. Kalau sudah tahu tapi tetap tidak produktif? Yah, itu sih memang niat. 😛

 

Manajemen Kecewa

Gurls, talking about emotional distress, kecewa adalah salah satunya. Setuju tak?

“Sialnya”, kita tak bisa memprediksi kapan kita bisa kecewa. Alias banyak sekali hal-hal yang bisa bikin kita kecewa. Tak usah force majeur seperti bencana alam, perceraian orang tua, dipecat dari pekerjaan,  hal-hal kecil juga bisa bikin kita kecewa. Misal pesan di bbm/whatsapp gak kunjung dibales, curhat dengan teman tapi respon dia cuma ham hem ham hem sekilas lalu, hendak kencan dan udah dandan istimewa tapi reaksi pasangan datar-datar saja, lagi cerita hal yang bikin kesal di kantor eh reaksi teman malah menjadikan itu sebagai bahan becandaan, melemparkan topik serius di social media eh tapi respon orang-orang malah OOT abis, dll.

Hal-hal kecil yang membuat kita kecewa ini, kalau ga bisa di-handle dengan baik, bisa merusak mood bener loh. Ada gak yang pernah merasakan situasi seperti itu. Jadi yang merasa kesal, bete, bad mood, jadi males kerja, mutung, dll. Haduh, “racun” bener deh. Kerjaan jadi terbengkelai. Atau kalau kekecewaan dibiarkan berlarut-larut, bete bisa makin memuncak dan kita pulang gawe dengan membawa beban emosional. Seperti ada segumpal tanah liat di ulu hati, atau ada menusuk-nusuk di dalam dada. Rasanya ga enak bener. Kalau sudah begitu, makin stress deh kita. Apalagi kalau sedang PMS, mungkin bisa lebih meledak lagi reaksi kita kalau kita ga cerdas mengelolanya. Dhuar! :mrgreen:

Nah gimana sih, ada ga cara untuk memenej/mengelola rasa kecewa. Supaya ga berlarut-larut dan secara emosional kita tidak membawa beban yang berakibat negatif untuk keseimbangan psikis kita.

First thing first, yang perlu dilakukan adalah menyadari kalau kita kecewa. Dengan menyadari kalau kita kecewa, paling tidak memberi semacam alarm terlebih dahulu ke dalam diri kita, dan mengerem sebelum kita meledak dengan reaktif.

Kedua adalah menerimanya. Menerima bahwa kita memang sedang mengalami rasa kecewa. Tidak usah menolak, atau denial. Kalau penerimaan ini sudah berjalan mulus, maka akan lebih mudah melangkah ke tahap berikutnya.

Ketiga, memaafkan diri sendiri dan membiarkan diri kita untuk mengalami hal-hal yang tampak bodoh, membolehkan memaafkan diri kita yang sedang mengalami kegagalan, memaafkan diri sendiri jika harapan kita tidak terwujud seperti yang kita inginkan. Melihat ke sekeliling dan diri sendiri, bahwa keadaan bisa jadi lebih burul. Serendipity, sikap yang mensyukuri bahwa dalam sebuah kesialan sekalipun ada hal-hal yang patut disyukuri, happy accident. Bukan sikap denial, tapi lebih terfokus pada hal-hal positif, tapi juga tidak mengabaikan dengan sengaja hal-hal negatif.

Keempat, dengan memahami motivasi dan alasan orang lain, akan membuat kita lebih fleksibel. Sehingga kita tidak mudah merasa kecewa, lebih toleran, dan bisa menerima mengapa mereka bersikap/bereaksi seperti itu. Ada idiom yang cukup populer, mereka yang berani berharap maka harus berani kecewa. Idiom tersebut tidak bertujuan untuk membuat orang takut/berhenti berharap, tapi untuk mengingatkan kita supaya lebih realistis.

Bulan Ramadhan bisa menjadi momentum nih, untuk melatih manajemen kecewa ini. Supaya nantinya waktu Ramadhan sudah lewat, kita sudah terlatih untuk meng-handle rasa kecewa. Jadi ga perlu lah cari-cari kambing hitam PMS ketika meledak karena kecewa 😆

Sometimes, we need to be more gentle to ourself, dear gurls. 🙂 

Olahraga Saat Ramadhan

image

Gurls, akhirnya bulan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Selamat datang Ramadhan, bulan dimana seluruh umat muslim di seluruh dunia berpuasa. Ramadhan 2011 di Indonesia kali ini kebetulan pada saat musim kemarau. Eh sebentar, musim kemarau atau hujan ya? :mrgreen:

Kalau kemarin kita kita udah ngobrolin tentang menu sehat dan nutrisi selama ramadhan, kali ini kita menyinggung aktivitas fisik selama puasa. Jujur aja sih, selama puasa, rasanya aktivitas dan ritme harian jadi menurun. Sudah waktu tidur berkurang karena sahur, pengennya juga tidur di siang hari. Untuk melakukan aktivitas fisik yang agak berat seperti jalan di siang nan panas aja males, apalagi olahraga ya. Maunya di indoor, kena AC, ngadem, gimana caranya lah supaya fisik ga terforsir.

Ternyata oh ternyata, gurls, kebiasaan tersebut tidak menguntungkan untuk stamina kita. Oleh para ahli kesehatan, disarankan supaya kita tetap olahraga selama ramadhan. Lebih banyak manfaat yang didapat kalau kita berolahraga selama puasa daripada tidak. Apalagi jika sebelumnya kita rutin nge-gym/fitness. Sangat disarankan untuk meneruskan program latihan kita. Nah tapi ada tips-tips supaya kita tetap fit dan gak berakhir pingsan dehidrasi di ruang fitness.

Menurut para pakar, ada beberapa keuntungan jika kita berolahraga secara rutin di bulan ramadhan:

1. Menjaga keseimbangan mental-fisik. Puasa membantu kita mengolah mental kita, sedangkan olahraga menjaga fisik tetap prima. Olahraga juga mendorong keluarnya hormon yang berperan untuk mengurangi stress dan berpengaruh terhadap well being kita.

2. Olahraga menjaga berat badan. Sudah sering kita dengar, mereka yang berat badan justru naik selama puasa ramadhan. Selain makan tidak dijaga, aktivitas fisik benar-benar menurun. Dengan olahraga, kalori yang dihasilkan dari makanan full lemak dan gula, dibakar.

3. Menjaga stamina dan endurance. Terutama jika kita sudah rutin berolahraga sebelumnya. Kalau waktu puasa, latihan sama sekali berhenti, selain berat badan dapat bertambah, juga berpengaruh terhadap stamina kita. Jadi tidak terlatih dan kondisinya menurun.

Nah, sekarang setelah mengetahui manfaat olahraga selama ramadhan, olahraga seperti apa yang sesuai, dan kapan waktu yang tepat.

Menurut beberapa trainer yang melatih selebritis, Jilita Horton dan Amin Akhtar, menyarankan latihan kardio yang berdasarkan durasi dan intensitasnya ‘light’. Misal, jogging dengan kecepatan pelan, jalan cepat, sepeda, dll. Waktunya pun dibatasi, cukup 30 menit dan intensitas rendah, jadi tubuh tetap ‘dingin’.

Sedangkan Ravish Taori menyarankan jenis latihan kardio yang dipadu resistance training. Josh Stone sendiri lebih simpel, dia menyarankan kita to listen to our body. Tubuh kita paling tahu latihan apa yang paling sesuai dengannya. Yang penting hindari jenis high impact.

Dari jenis waktu, ada beberapa pendapat yang berbeda. Ada yang melihat, saat terbaik untuk latihan adalah beberapa saat setelah sahur. Ada yang menyarankan beberapa saat setelah berbuka. Ada juga yang berpendapat, latihan ringan di siang hari dapat membantu mem-boost energi kita yang mulai menurun.

Terlepas dari pro kontra pendapat yang berbeda, sepertinya pendapat Josh Stone dan Mohd Sazly Khan paling sreg; Listen to your body.

Okay gurls, semoga tips-tips tadi bisa bikin puasa kamu jadi makin semangat.   😀