Its Party Time!

 

Yak, tahun baru 2012 udah tinggal beberapa jam lagi. Sudah semenjak Kamis sore, berbagai terminal dan stasiun, padat oleh pemudik yang ingin liburan dan merayakan tahun baru di rumah. Yang enggak mudik, udah banyak juga persiapan untuk tahun baruan. Pertanyaan jamak yang sering terdengar menjelang akhir tahun begini biasanya adalah, “tahun baruan ngapain?”. Tul, gak?   😀

Tahun baru sendiri, walau setiap tahun selalu ada, tetapi tetap saja dianggap spesial. Entah siapa juga yang mulai, mengapa pergantian tanggal kok dimulai dari pukul 00. Jadi nih, dalam rangka menunggu pukul 00 nanti, banyak orang yang rela melakukan sesuatu spesial. Spesial itu tidak musti bersifat hingar bingar pesta, ada juga yang menunggu dan mengisi pukul 00 tersebut dengan keheningan dan kontemplasi.

Sementara yang ingin melewatkan pukul 00 bersama-sama dengan orang lain, ada banyak acara yang digelar. Mulai dari New Year’s Eve dinner party di hotel mewah hingga sekadar kumpul-kumpul rame-rame di rumah teman sambil potluck (bawa makanan sendiri-sendiri yang nantinya dinikmati bareng-bareng).

Nah, ngomong-omong tentang pesta kecil-kecilan di rumah teman, kalian yang datang sebagai tamu tahu tidak sih, kalau ada etiket dalam berpesta? Coba sebutkan apa saja?

Pernah gak, menjadi tuan rumah pesta, bukan di tempat-tempat seperti restoran, tapi rumah sendiri. Pastinya lebih repot daripada kalau berpesta di restoran dll, kan? Sebagai tuan rumah, apa sih yang paling bikin seneng dan kesel?

Kalau pengalam pribadi sih, paling seneng kalau bikin pesta dihadiri banyak orang dan semua senang, rame. Trus tamu-tamu memuji makanan yang dihidangkan, tidak ada yang komplen kehabisan. Setelah pesta usai, tamu-tamu pulang dengan sejuta kesan, dan besoknya cerita kalau semalam/kemarin habis seru-seruan di pesta yang aku selenggarakan.

Bagian yang paling bikin kesel sih, lebih ke attitude/sikap tamu sih. Seperti, tamu yang jorok dan bikin rumah kotor. Oke, tiap pesta pasti tempat pesta jadi berantakan setelahnya. Senang sekali kalau ada tamu yang berinisiatif untuk bantuin beresin ‘kekacauan’ pasca-party. Bahkan sekadar membereskan gelas piring kotor ke dapur, waaah senang sekali.

Nah, yang nyebelin itu kalau ada yang numpahin makanan/minuman di sofa atau malah tempat tidur. Iyaaaa, ada lho tamu yang selama pesta gitu, masuk-masuk ruang privat rumah kita. Iiihhh itu sumpah bikin kesel, dan kesel kuadrat kalo udah intruder gitu eeeh ditambah bikin kotor. Uuurggghhh kesel, besok-besok yakin deh diblacklist dari party.

Nah biar di pesta besok, kalian ga masuk daftar blacklist gara-gara attitude, baiknya sih ngerti dulu etiket berpesta itu bagaimana. Membaca artikel ini, kita jadi tau sih, etiket pesta itu bagaimana. Walau artikel tersebut berlaku di barat tapi ga ada salahnya kan kalau kita mengikuti. Tujuannya bagus kok, biar tertib gitu party-nya, baik acaranya maupun tamu-tamunya.   😆

Coba dicermati beberapa etiket pesta berikut:

1. Tepat waktu, termasuk memberitahu/mengkabari kalau akan terlambat. Terutama kalau menghadiri pesta yang sifatnya formal, seperti dinner, launch produk, dsb. Jangan sampai baru datang ketika party udah mo kelar.

2. Kalau party-nya udah jelas disebutkan potluck/BYOB, mustinya bawa makanan/minuman sendiri untuk nantinya di-share. Jangan lantas mau enaknya aja, datang bawa perut doang, sampe TKP ngembat sana-sini. Atau bawa makanan sendiri, tapi pelit ga bagi-bagi, dimakan sendiri. Kesannya pelit bener, gitu.

3. Kalau mo bawa teman yang tidak masuk dalam undangan, minta ijin dulu. Jangan  niru kelakuan norak yang sering keliatan pas kawinan. Datang dengan membawa sekeluarga lengkap sampe ke bedinde-nya. Ga mau rugi sekaleeee…

4. Jangan mengkritik dan menjelek-jelekkan hidangan selama acara. Kecuali punya riwayat alergi tertentu terhadap makanan atau vegetarian atau alasan kepercayaan, nah yang semacam itu mustinya disampaikan ke tuan rumah.

5. Pamit dan mengucapkan terimakasih untuk undangan dan acaranya. Ga sopan banget, dateng acara, makan sana-sini, eee pulangnya gitu aja ga pake pamit.

6. Mingle dan outgoing. Ga enak banget lho, jadi tuan rumah suatu acara, kalau ada tamu yang mojok sendirian dan bertampang asem. Jadi tuan rumah udah cukup repot, so ga bisa ngarepin tuan rumah untuk memperkenalkan dan menemani tamu. Jadi tamu sebaiknya berinisiatif untuk mingle dengan tamu-tamu lain. Juga jangan men-judge tuan rumah sebagai tuan rumah yang jelek hanya karena tidak menyapa. Siapa tahu memang lagi sibuk, dan bagaimana mau menyapa jika selama acara lebih seneng nyempil? Keluar dari area kenyamanan, beredar bergaul dan sapalah lebih dulu.

 

Kalau udah gitu, sama-sama enak kan? 😀

 

 

 

 

 

it’s a gift time!

 

 

Menjelang Natal, di mana-mana terutama di pusat perbelanjaan, sudah terdengar lagu-lagu natal dan dekorasi serba cemara.

Salah satu tradisi natal yang menyenangkan adalah tradisi bertukar kado. Omong-omong kado, jadi inget beberapa waktu lalu. Waktu itu lagi asik-asiknya konsen menyelesaikan proyek, dalam rangka mengejar deadline. Tiba-tiba dideketin teman seproyek, cowok. Dia pasang tampang bingung dan ragu-ragu. Ditanya, awalnya cuma cengar-cengir aja. Karena cuma cengar-cengir geje gitu, ku cuekin lagi, konsen ke kerjaan. Belum ada lima menit, tau-tau dia colek pundakku.

“Vit, tanya dong. Mau minta pendapatmu nih,” katanya masih dengan cengiran lebar.

“Pendapat tentang apa?”

“Engg… anu… istri gue ulang tahun. Kasih kado apa ya?”

 

Astagaaaa…aku langsung ketawa ngakak. Ternyata cuma masalah kado, kok bingung-bingung kek gimanaaaa gitu. Etapi, temen ini dia udah nikah setahun lho. Sempet kepikiran juga sih, kok sampe bingung kasih kado buat istri yang udah dinikahin setahun sih? Apalagi sebelum nikah, mereka pacaran juga cukup lama. Dari masa pacaran hingga menikah itu, ngapain aja, kok masih bingung mo kasih kado apa? Kan tinggal dicocokin ama hobinya?

Gara-gara pertanyaan dari teman, malah membuat jadi mikir. Kalau ada pasangan yang sampai bingung mo kasi kado apa untuk pasangannya, apakah itu berarti dia belum cukup mengenal pasangannya? Lha, sampai ga tau, apa-apa yang bisa membuat si pasangan happy dengan kado pemberiannya. Apa itu berarti si pasangan bingung itu adalah pasangan yang kurang perhatian? Masak berhubungan sekian lama tapi tidak bisa menyebutkan hobinya apa, apa saja yang disenangi.

Tapi di sisi lain, jadi mikir juga. Kalau kita fokus dengan usahanya, bukan ketidaktahuannya, patut diapresiasi juga sih. Paling nggak dia berusaha untuk menyenangkan/membahagiakan si pasangan. Pada akhirnya niat tulus si pasangan, yang harus dihargai. Meskipun, kado yang dia berikan mungkin kurang berkenan, tidak seperti yang diinginkan. Hayooo, ngaku ajaaa, pernah ada yang merasa kecewa karena mendapat kado yang tidak sesuai dengan yang diinginkan?

Nah sekarang kalau membahas dari sisi penerima, kado seperti apa sih yang akan membuatmu bersuka cita? Terutama cewe nih. Apakah kado seperti sepasang sepatu berlabel Manolo Blahnik, tas Birkin, atau seuntai kalung mutiara? Kalau iya, huwaaaa…siap-siap yang jadi pasanganmu pucat pasi harap-harap cemas lirik dompet.   😆

Atau kado berupa buku yang ingin kamu baca, cd musik dari artis yang kamu sukai, atau voucher nonton film di akhir pekan? Kalau iya, hmmm berarti bisa jadi kamu termasuk tipe cewe simpel. Sedangkan jika kamu menyukai kado berupa lukisan wajahmu yang dibuat sendiri, cakram cd berisi video keseharian kamu yang diam-diam direkam dan dihias soundtrack lagu-lagu kesukaanmu (dan membuatmu berkaca-kaca terharu), atau kue tart yang dibuat khusus oleh si dia (padahal dia ga bisa masak dan belum pernah turun dapur), maka bisa jadi kamu termasuk cewe yang sensitif dan cukup nyeni.

 

Well, tapi itu cuma tebak-tebakan karakter secara sotoy ya, jangan dipercaya gitu aja.   :mrgreen:

Kembali ke soal kado, sebenarnya ada tips buat yang lagi bingung cari inspirasi kado. Pertama-tama adalah, ketahui dulu, apa hobi si dia, apa yang dia suka, apa yang dia ga suka. Kalau perlu, ketahui juga riwayat alerginya. Soalnya pernah ada cerita nih, sungguh-sungguh terjadi. Ada temen cowo kasi buket bunga yang bagus banget untuk cewe gebetannya. Tapi respon si cewek kok datar-datar aja. Usut punya usut, ternyata si cewe alergi serbuk bunga dan buket bunga tersebut membuat asmanya kambuh. Nah lo!

Kedua, jangan percaya gitu aja mitos-mitos tentang kado. Seperti misal, cewe pasti suka bunga, cewe pasti suka kejutan/kado yang romantis, dll. Well, jadi kenapa mengenali pasangan itu penting, karena biar sama-sama cewe, tapi karakternya bisa beda-beda, alias unik. Ada kan, cewe yang macho atau penyuka outdoor activity. Cewe kek gini, dikasi bunga edelweiss, malah nyemprot abis-abisan dan menceramahi si pemberi kado. Kenapa? Karena bunga edelweiss ini bukan untuk dipetik, lebih baik dibiarkan di alam bebas.

Ketiga, setiap orang itu unik, so treat them special. Kalau ada waktu luang dan skill khusus, tak ada salahnya memberi kado yang benar-benar spesial. Tak harus mahal, malah biasanya ga mahal kado yang unik gini. Misalnya, kalo kamu punya bakat mencipta lagu, kenapa tidak membuat lagu khusus untuk dia? Cieeee bangeeeet dehhh.    :shy:

 

So, dekat-dekat Natal, masih bingung cari kado?

 

PS. Jadi inget pengalaman pribadi. Ada teman yang diem-diem suka dan lagi pedekate. Dia kasih kado, gelang yang terbuat dari kulit penyu gitu. Walhasil langsung turn off alias ilfil ama cowo ini. Dia ga tahu apa ya, kalau aku pecinta binatang dan penyu itu dilindungi? Langsung turun deh poinnya di mataku. 😀

 

 

Make Up: Yay or Nay?

Pernah liat cewe yang kecantikannya tersembunyi di balik make up tebal?

Ato mungkin  liat ibu-ibu yang keanggunannya tertutupi oleh riasan tebal yang malah membuatnya lebih mirip seperti Cruella De Vil?

Jadi inget Syahrini atau Krisdayanti. Siapa yang setuju mereka cantik tanpa make up-nya? Ha, ga ada yang setuju? Ya iyalah, secara mereka ga pernah tampil tanpa make up.  Aku kok berat banget ya, membayangkan sehari-hari tampil kemana-mana full make up seperti itu. *palmface*

Sebenarnya tujuan ber-make up itu apa sih?

Secara umum, bisa dibilang, cewe make up-an adalah untuk tampil cantik. Lebih khusus lagi, tampil cantik dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangannya. Misal, bibir tipis, dengan lipliner dilukis diluar garis bibir dan mengenakan lipstik dua warna (lebih muda dan lebih tua) untuk menampilkan bibir yang penuh. Atau dengan shading, menyamarkan garis rahang yang terlalu kotak. Atau menonjolkan mata yang indah, dengan warna-warna eyeshadow yang intens dan bulu mata lentik.

Kalau dipikir-pikir, ajaib juga ya kuasa make up. Hanya dengan menempelkan warna-warni tersebut ke kulit muka kita, dan ta-daaaa, penampilan yang langsung berubah. Jadi jauuuh lebih ‘cantik’. Konon, bintang-bintang Korea dan J-Pop, bisa begitu imut, unyu, dan menggemaskan cantiknya, berkat make up. Katanya sih, tanpa make up, wajah mereka biasa banget. Tapi sekali lagi ini katanya.

Trus, kalau benar make up untuk mempercantik, kenapa ada cewe pake make up tapi malah jadi serem?

Kuncinya padahal gampang lho, proporsional. Gitu aja. Segala sesuatu yang berlebihan itu ga bagus kan? Lagian, dari penelitian, terungkap bahwa persepsi orang terhadap cewe yang memakai make up berlebihan ternyata negatif. Cewe yang memakai make up berlebihan dinilai cenderung kurang bisa dipercaya, karena make up tebal mereka seperti menyembunyikan sesuatu.

Sedangkan tanpa make up sama sekali alias tampil polos ketika tampil/ada acara juga kurang menguntungkan. Kenapa? Duh, lebih salah, kurang salah. Maunya apa sih?  :angry:

Weits, sabar dulu. Mengapa tanpa make up sama sekali ternyata kurang menguntungkan untuk impression, karena orang cenderung menilai dia careless. Dan tambahan, kecuali kita secakep dan secantik top model/seleb-seleb, sepertinya tidak disarankan untuk tampil polos-los kalau ingin memberi impresi menarik.   :mrgreen:

Sebenarnya, tak usah lah kita alergi dan benci sama make up. Kalau alasannya adalah ribet, well, no pain no gain. Maksudnya, untuk tampil oke, memang dibutuhkan usaha. Ga bisa, hanya dengan diam tanpa melakukan apa-apa lantas ngarep kita bisa secakep Sienna Miller. Apalagi trus ngeluh-ngeluh menyalahkan Tuhan ga adil sama kita karena ga dikaruniai wajah se-perfect Kendall Jenner. Karena itu make up ada.   :mrgreen:

Make up dalam jumlah yang sewajarnya, flawless make up, yang ringan, sudah cukup kok untuk kita tampil sehari-hari. Kalau ada acara istimewa, barulah make up sedikit glamour.

Oia, yang sering dilupakan orang, mentang-mentang make up bisa menyembunyikan kekurangan kita, kita jadi memperlakukan make up seperti topeng. Maksudnya adalah, karena kita gak pede, minder, tidak bisa menerima diri kita apa adanya, lantas sembunyi deh kita di balik topeng make up. Tanpa make up, kita jadi insecure, ga pede, ga berani tampil. Padahal kunci paling hakiki *tsaaah bahasanya* dari kecantikan adalah inner beauty, kecantikan yang muncul dari dalam dan bersinar terpancar keluar. Percaya deh, Jeung Vita udah sering ngeliat cewe, yang sebenarnya cantik, tapi kecantikannya ga bersinar/ga tampil karena dia ga pede. Sebaliknya, ada cewe yang sebenarnya secara fisik biasa aja, tapi ada sesuatu yang bersinar sehingga di mata orang dia begitu menarik.

Feminine Hygiene: Menstrual Hygiene dan Organ Intim Kita

Okay gurls, sesuai janji, postingan terbaru Jeung Vita adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang mengangkat tentang basic personal hygiene. Sekarang kita akan naik level dari basic ke advance, dengan membahas tentang feminine hygiene. Emang feminine hygiene apaan sih? Kebersihan yang sifatnya feminin gitu, serba berbunga-bunga dan berenda-renda? *plakkk*

Feminine hygiene itu gurls, kebersihan diri yang menyangkut tentang organ reproduksi kita. Yang paling ‘kelihatan’ yah tentu saja vulva (bagian terluar dari organ reproduksi kita) dan vagina. Loh kenapa dengan menjaga kebersihan organ feminin kita? Harus ya? Gimana caranya?

Grrr…terus terang geregeten gemes juga kalau ada respon begini. Karena respon tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran/informasi betapa pentingnya menjaga feminine hygiene. Hal kek gini udah terlihat dari kecil kok. Coba aja perhatikan kalau ke tempat umum misal toilet umum di mall, restoran fast food, amusement park, dll. Berapa banyak kalian pernah melihat orang tua ‘mengajarkan’ anak-anaknya (umumnya masih balita) untuk pipis di tempat umum terbuka seperti di rerimbunan/pinggir jalan. Mungkin yah, mikirnya, kalau masih kecil gapapa, ga ‘saru’. Aduh tapi perhatikan nggak, habis menemani anaknya pipis gitu, trus dinaikin gitu aja celananya. Enggak dibasuh sama sekali.

Atau kalau di desa-desa atau kampung di urban. Sering lihat anak kecil (bayi/balita) berkeliaran telanjang tanpa penutup tubuh bagian bawah. Lagi-lagi, mungkin loh ya, pembiaran tersebut karena dipikirnya bukan hal yang vulgar. Terus anak-anak kecil itu main di tanah gitu. :palmface:

Yang jadi pikiran, bukan soal vulgar/kepantasan sih, tapi, idiiih itu kebiasaan seperti itu, pantes aja, jangan basic personal hygiene, bahkan menjaga kebersihan organ paling pribadi pun mungkin tak terpikirkan. Makanya ga heran juga sih, kalau ngeliat temen-temen cewe yang sepertinya kurang begitu care dengan feminine hygiene. Keliatan lho, kebiasaan tersebut dari cara mereka mereka di kamar kecil, pakaian dalamnya, kebiasaan ketika menstruasi, hal-hal semacam itu deh. Dan kebiasaan tersebut makin dikuatkan dengan cara berpikir yang, “ah ngapain diurusin banget, toh ga keliatan dari luar. Beda dengan misal wajah.”

Wedew, yang begini ini nih, berarti masuk ke tipe cewe yang spending untuk make up dan baju, gede, tapi untuk kepedulian terhadap bagian paling pribadinya, malah rendah. Kalau dilihat-lihat memang sepertinya oke banget gitu ya, glamour, gaul, trendy. Tapi tapi, jangan-jangan nih, keputihan, gatal-gatal di area pribadinya, organ pribadinya mengeluarkan bau tidak sedap, dan bahkan mungkin terkena vaginosis. Padahal ya padahal, cukup dengan menjaga feminine hygiene, kita tidak perlu mengalami hal-hal seperti tadi.  Hayo, siapa deh yang cukup care dengan aroma yang keluar dari organ pribadinya, ngeh nggak kalo misal ternyata mengeluarkan aroma yang fishy-fishy gitu? Kyaaaaa…aduuuhhh jangan sampai yaaaa…

Untuk menjaga feminine hygiene, kebiasaan ketika menstruasi sangat berpengaruh. Siapa yang kalau sedang mens, males ganti pembalut? Ketika sedang mens dan buang air kecil, tidak ganti pembalut? Seberapa sering sih kalian ganti pembalut dalam sehari? Biasanya kalian ganti pembalut kalau bagaimana? Bagaimana kebiasaan kalian kalau ganti pembalut dan buang air kecil?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, bisa terlihat bagaimana kebiasaan feminine hygiene seorang cewe, termasuk poor atau good. Termasuk poor jika mayoritas jawabannya MALAS, JARANG/TIDAK GANTI. Sedangkan jika jawaban mayoritas RAJIN, SELALU, SERING, maka kebiasaan feminine hygiene-nya termasuk good.

Menjaga feminine hygiene ketika sedang menstruasi sebenarnya mudah kok, simpel. Rajin-rajin ganti pembalut, apalagi kalau habis dari buang air kecil/besar. Mengapa? Karena kondisi lembab, adalah kondisi yang sangat menguntungkan bagi bakteri-bakteri yang tidak menguntungkan. Coba deh buka-buka situs museum menstruasi ini, klik topik tentang odor/menstrual odor. OMG, this is something beyond your imagination 😮

Selain itu ketika sedang membasuh vagina setelah buang air kecil/besar, cara membasuhnya pun ada triknya. Basuh dari depan, bukan dari belakang ke depan. Mengapa? Karena kalau dari belakang ke depan, itu bakteri-bakteri dari rektum dan sisa-sisanya, bisa terbawa air masuk ke vagina. Akibatnya ya bisa keputihan, infeksi bakteri, dll. Usahakan area vulva untuk selalu kering. Jadi setiap kali habis buang air, keringkan dengan lembut. Kalau di toilet umum, usahakan untuk menggunakan air yang mengalir dari kran, daripada air yang tergenang di ember/bak. Kalau hendak mengganti pembalut, tangan juga sebaiknya dalam kondisi bersih, so cuci tangan dulu sebelum ganti pembalut. Setelahnya, wajib hukumnya untuk cuci tangan lagi dengan sabun.

Bagaimana dengan douche atau cairan/sabun pembersih khusus kewanitaan? Jawaban para ahli adalah, tidak perlu. Vagina sudah didesain sedemikian rupa, sangat genius dan pintar, untuk membersihkan dirinya sendiri. Adanya flora di dalam adalah untuk menjaga keseimbangan pH. Penggunaan vagina-douche malah dapat mengganggu kesetimbangan pH, sehingga bakteri-bakteri berkembang biak dan mengakibatkan infeksi, keputihan, aroma tak sedap, dll.

So, gurls, sudah jelas khan tentang serba-serbi feminine hygiene? Jangan sampai ya, kita termasuk cewek yang trendy, gaul, make up wah, tetapi untuk area privat malah dicuekin dan keluhannya macam-macam. Betul, kan? Toss dulu dooong  :mrgreen:

Diet Anti Kram Perut dan Mood Swing

image

Kali ini ngomongin PMS lagi, secara pengalaman paling mutakhir tentang PMS betul-betul merepotkan. Nyaris selama sepekan aku terkapar tak berdaya karena fisik yang tak prima *hiks, lebay*. Jadi waktu itu lagi ngerjain proyek, setelah jam kantor, pintong ke kafe. Di kafe tersebut aku minum paling nggak dua mug capuccino. Baru pukul 20, pinggang rasanya yang mau patah. Pegel seperti habis ditibanin beban berat. Kepala juga rasanya pusing migraine, sampai mau muntah.

Karena sudah gak kuat, walau belum kelar dan belum jam 21, aku buru-buru pulang. Ternyata saudari-saudara, itu adalah awal dari sepekan penderitaan. Selanjutnya, pegal di punggung bertambah dengan rasa kram dan perih di perut. Malah ditambah diare. Pusing migraine ga hilang-hilang. Sariawan juga makin komplet. Haduh, sangat merepotkan.

Ketika aku mengistirahatkan tubuh agar ‘pemberontakannya’ mereda, aku baca-baca artikel kesehatan. Dari beberapa artikel tersebut, aku tiba-tiba tersadar bahwa gaya makanku beberapa waktu terakhir ini kemungkinan menyumbang PMSku memburuk. Bagaimana tidak, apalagi pada masa liburan. Kecenderungan untuk lebih ‘rakus’ daripada hari-hari biasa. Diet kaya serat jadi terlupakan.
Makanan berlemak dan berminyak, gula-gula, makanan olahan yang mengandung banyak sodium, olahan pati/tepung, kopi, malas makan buah dan sayur. Oooopss…

Menurut para pakar kesehatan dan nutrisi, gejala PMS bisa dijadikan pertanda akan status gizinya. Maksudnya, kita bisa menebak keadaan gizi seseorang baik/tidak dengan melihat gejala PMSnya. Hah, bagaimana bisa?
Tentu bisa, karena dipercaya bahwa makanan yang dikonsumsi alias nutrisi yang masuk, berpengaruh terhadap makin memburuk enggaknya gejala PMS. Karena itu, ternyata dalam makanan, kita musti aware apa yg boleh dan yang tidak boleh/dikurangi supaya PMS tidak memburuk.

Well, dari pengalaman pribadi membuktikan demikian. Sudah beberapa lama aku mematuhi diet makanan sehat. Aku memperbanyak sayur dan buah, mengurangi garam, mengurangi gula, menjauhi makanan olahan dan termasuk olahan dari pati/tepung, dan mengurangi lemak ‘jahat’. Hasilnya, aku sangat jarang mengalami gejala PMS yang merepotkan.
Tetapi kemarin-kemarin, ketika dietku terlalu longgar dan aku lalai, tak dinyana tubuhku langsung berontak. PMS selama sepekan lebih itu merepotkan dan sangat mengganggu produktivitas. Betul, tidak?
Apalagi jika emosi menjadi tidak stabil. Bisa melukai orang-orang di sekitar kita. Betul?

Oke deh, sebetulnya masih panjang kalau mau didetailkan. Di postingan ke depan saja, membahas makanan apa saja yang boleh dan tidak selama menstruasi. 😀