Make Up: Yay or Nay?

Pernah liat cewe yang kecantikannya tersembunyi di balik make up tebal?

Ato mungkin  liat ibu-ibu yang keanggunannya tertutupi oleh riasan tebal yang malah membuatnya lebih mirip seperti Cruella De Vil?

Jadi inget Syahrini atau Krisdayanti. Siapa yang setuju mereka cantik tanpa make up-nya? Ha, ga ada yang setuju? Ya iyalah, secara mereka ga pernah tampil tanpa make up.  Aku kok berat banget ya, membayangkan sehari-hari tampil kemana-mana full make up seperti itu. *palmface*

Sebenarnya tujuan ber-make up itu apa sih?

Secara umum, bisa dibilang, cewe make up-an adalah untuk tampil cantik. Lebih khusus lagi, tampil cantik dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangannya. Misal, bibir tipis, dengan lipliner dilukis diluar garis bibir dan mengenakan lipstik dua warna (lebih muda dan lebih tua) untuk menampilkan bibir yang penuh. Atau dengan shading, menyamarkan garis rahang yang terlalu kotak. Atau menonjolkan mata yang indah, dengan warna-warna eyeshadow yang intens dan bulu mata lentik.

Kalau dipikir-pikir, ajaib juga ya kuasa make up. Hanya dengan menempelkan warna-warni tersebut ke kulit muka kita, dan ta-daaaa, penampilan yang langsung berubah. Jadi jauuuh lebih ‘cantik’. Konon, bintang-bintang Korea dan J-Pop, bisa begitu imut, unyu, dan menggemaskan cantiknya, berkat make up. Katanya sih, tanpa make up, wajah mereka biasa banget. Tapi sekali lagi ini katanya.

Trus, kalau benar make up untuk mempercantik, kenapa ada cewe pake make up tapi malah jadi serem?

Kuncinya padahal gampang lho, proporsional. Gitu aja. Segala sesuatu yang berlebihan itu ga bagus kan? Lagian, dari penelitian, terungkap bahwa persepsi orang terhadap cewe yang memakai make up berlebihan ternyata negatif. Cewe yang memakai make up berlebihan dinilai cenderung kurang bisa dipercaya, karena make up tebal mereka seperti menyembunyikan sesuatu.

Sedangkan tanpa make up sama sekali alias tampil polos ketika tampil/ada acara juga kurang menguntungkan. Kenapa? Duh, lebih salah, kurang salah. Maunya apa sih?  :angry:

Weits, sabar dulu. Mengapa tanpa make up sama sekali ternyata kurang menguntungkan untuk impression, karena orang cenderung menilai dia careless. Dan tambahan, kecuali kita secakep dan secantik top model/seleb-seleb, sepertinya tidak disarankan untuk tampil polos-los kalau ingin memberi impresi menarik.   :mrgreen:

Sebenarnya, tak usah lah kita alergi dan benci sama make up. Kalau alasannya adalah ribet, well, no pain no gain. Maksudnya, untuk tampil oke, memang dibutuhkan usaha. Ga bisa, hanya dengan diam tanpa melakukan apa-apa lantas ngarep kita bisa secakep Sienna Miller. Apalagi trus ngeluh-ngeluh menyalahkan Tuhan ga adil sama kita karena ga dikaruniai wajah se-perfect Kendall Jenner. Karena itu make up ada.   :mrgreen:

Make up dalam jumlah yang sewajarnya, flawless make up, yang ringan, sudah cukup kok untuk kita tampil sehari-hari. Kalau ada acara istimewa, barulah make up sedikit glamour.

Oia, yang sering dilupakan orang, mentang-mentang make up bisa menyembunyikan kekurangan kita, kita jadi memperlakukan make up seperti topeng. Maksudnya adalah, karena kita gak pede, minder, tidak bisa menerima diri kita apa adanya, lantas sembunyi deh kita di balik topeng make up. Tanpa make up, kita jadi insecure, ga pede, ga berani tampil. Padahal kunci paling hakiki *tsaaah bahasanya* dari kecantikan adalah inner beauty, kecantikan yang muncul dari dalam dan bersinar terpancar keluar. Percaya deh, Jeung Vita udah sering ngeliat cewe, yang sebenarnya cantik, tapi kecantikannya ga bersinar/ga tampil karena dia ga pede. Sebaliknya, ada cewe yang sebenarnya secara fisik biasa aja, tapi ada sesuatu yang bersinar sehingga di mata orang dia begitu menarik.

Advertisements

Diet Anti Kram Perut dan Mood Swing

image

Kali ini ngomongin PMS lagi, secara pengalaman paling mutakhir tentang PMS betul-betul merepotkan. Nyaris selama sepekan aku terkapar tak berdaya karena fisik yang tak prima *hiks, lebay*. Jadi waktu itu lagi ngerjain proyek, setelah jam kantor, pintong ke kafe. Di kafe tersebut aku minum paling nggak dua mug capuccino. Baru pukul 20, pinggang rasanya yang mau patah. Pegel seperti habis ditibanin beban berat. Kepala juga rasanya pusing migraine, sampai mau muntah.

Karena sudah gak kuat, walau belum kelar dan belum jam 21, aku buru-buru pulang. Ternyata saudari-saudara, itu adalah awal dari sepekan penderitaan. Selanjutnya, pegal di punggung bertambah dengan rasa kram dan perih di perut. Malah ditambah diare. Pusing migraine ga hilang-hilang. Sariawan juga makin komplet. Haduh, sangat merepotkan.

Ketika aku mengistirahatkan tubuh agar ‘pemberontakannya’ mereda, aku baca-baca artikel kesehatan. Dari beberapa artikel tersebut, aku tiba-tiba tersadar bahwa gaya makanku beberapa waktu terakhir ini kemungkinan menyumbang PMSku memburuk. Bagaimana tidak, apalagi pada masa liburan. Kecenderungan untuk lebih ‘rakus’ daripada hari-hari biasa. Diet kaya serat jadi terlupakan.
Makanan berlemak dan berminyak, gula-gula, makanan olahan yang mengandung banyak sodium, olahan pati/tepung, kopi, malas makan buah dan sayur. Oooopss…

Menurut para pakar kesehatan dan nutrisi, gejala PMS bisa dijadikan pertanda akan status gizinya. Maksudnya, kita bisa menebak keadaan gizi seseorang baik/tidak dengan melihat gejala PMSnya. Hah, bagaimana bisa?
Tentu bisa, karena dipercaya bahwa makanan yang dikonsumsi alias nutrisi yang masuk, berpengaruh terhadap makin memburuk enggaknya gejala PMS. Karena itu, ternyata dalam makanan, kita musti aware apa yg boleh dan yang tidak boleh/dikurangi supaya PMS tidak memburuk.

Well, dari pengalaman pribadi membuktikan demikian. Sudah beberapa lama aku mematuhi diet makanan sehat. Aku memperbanyak sayur dan buah, mengurangi garam, mengurangi gula, menjauhi makanan olahan dan termasuk olahan dari pati/tepung, dan mengurangi lemak ‘jahat’. Hasilnya, aku sangat jarang mengalami gejala PMS yang merepotkan.
Tetapi kemarin-kemarin, ketika dietku terlalu longgar dan aku lalai, tak dinyana tubuhku langsung berontak. PMS selama sepekan lebih itu merepotkan dan sangat mengganggu produktivitas. Betul, tidak?
Apalagi jika emosi menjadi tidak stabil. Bisa melukai orang-orang di sekitar kita. Betul?

Oke deh, sebetulnya masih panjang kalau mau didetailkan. Di postingan ke depan saja, membahas makanan apa saja yang boleh dan tidak selama menstruasi. 😀