Sudahkah SADARI?

image

Akhir pekan ini aku termangu mendengar kabar teman lamaku. Kaget ketika tahu dia masuk rumah sakit untuk operasi pengangkatan tumor payudara. Untung tumor jinak, tapi tetap saja kaget dan speechless pas tahu. Karena sehari-harinya, kalau ketemu teman ini, dia sama sekali tidak menunjukkan gejala sakit. Sama sekali tidak. Tetap lincah, jalan-jalan backpacker kemana-mana, haha-hihi. Dia juga terkenal disiplin soal makan, tidak merokok, tidak suka dugem, pokoknya gaya hidup sehat banget deh.

Kaget banget dan bengong terutama kalau tahu gaya hidupnya temen lamaku ini. Jauh dari makan-makanan junk food, jauh dari polutan seperti rokok. Katanya dari keluarga jg tidak ada sejarah tumor/kanker payudara. Kok bisa kena tumor sih? Diam-diam aku cemas memikirkan kesehatanku sendiri. Apalagi ini mengenai aset berharga perempuan, payudaranya.

Dari ngobrol-ngobrol ketika aku menjenguknya, kecemasanku mulai berkurang. Obrolan yang sebenarnya lebih ke sharing tersebut, mulai membuka mataku. Apalagi melihat kondisi temanku pasca operasi, yang tetap cerah, ketawa-ketiwi, sama sekali tak tampak raut kesakitan pada wajahnya. Memang, sadar dengan tubuh kita sendiri adalah syarat utama untuk menjaga kesehatan. Mulai dengan mengenali betul-betul tubuh kita dan mendengarkan apa yang ‘dikatakan’ olehnya.

Terkait dengan tumor payudara ini, ternyata banyak juga kenalanku yang pernah mengalami. Hal ini terungkap ketika teman ini terbuka dengan kondisinya. Yang paling penting dilakukan adalah rutin melakukan SADARI atau periksa payudara sendiri. Karena temenku ini bisa cepat terdeteksi berkat rutin SADARI tiap bulan. Hapal dengan payudaranya, jadi ketika ada yang diluar kebiasaan langsung mudah dirasakan.

Mengenai SADARI ini ternyata masih banyak yang belum ngeh pentingnya melakukan hal tersebut. Padahal kanker payudara adalah pembunuh nomer 2 pada perempuan setelah kanker leher rahim. Bahkan ketika kami-kami mendengar paparannya, masih ada yang belum mengetahui apa itu SADARI. Juga diantara kami sendiri juga banyak yang belum melakukan rutin tiap bulan. Waktu terbaik melakulan SADARI adalah seminggu setelah menstruasi. Mengapa? Karena selain kondisi payudara paling lunak, jika menemukan benjolan pada masa sebelum haid, kemungkinan cyste atau benjolan kelenjar. Nanti akan hilang dengan sendirinya ketika haid selesai.

SADARI membuat perempuan lebih akrab dan hafal dengan tubuhnya, khususnya payudara. Kalau sudah hafal, mestinya lebih peka kalau ada yg diluar kebiasaan. Seperti bentuk puting yang tidak biasanya, asimetris, keluar cairan, adanya benjolan di bawah permukaan kulit, dsb. Langkah kedua jika menemukan sesuatu yang mencurigakan, segera konsultasikan ke dokter.

Tidak perlu panik atau takut. Justru kalau makin awal terdeteksi, makin besar kesempatan sembuh total. Menjaga gaya hidup sehat juga sangat membantu pemulihan kondisi fisik jika diharuskan tindakan operasi. Lebih cepat pulih, seperti temanku yang tak lama setelah operasi dapat beraktivitas seperti biasa.

Tentang Menjadi Cantik: Mau Instan atau Awet?

image

Topik kecantikan ga pernah bosan-bosannya dibahas kaum hawa (selain pria tentunya :mrgreen: ). Iya dong, yang namanya perempuan khan memang identik dengan cantik-kecantikan. Siapa sih perempuan yang ga senang dipuji kalau ia cantik? Setomboy apapun perempuan pasti seneng deh kalau dibilang cantik oleh orang lain.

Nah, dalam rangka menjadi cantik ini, berbagai cara dilakukan. Masih inget dong postinganku yang protes tentang definisi cantik dan usaha menjadi cantik. Kalau di postingan kedua bercerita tentang usaha mati-matian perempuan supaya cantik, ternyata ada lho diantara kita yang sebaliknya, malas melakukan usaha untuk menjaga kecantikannya. Tapi anehnya, mereka maunya tampil cantik. Jadi aneh kan, males usaha tapi maunya tetep cantik. Alias instan.

Contohnya nih, males membersihkan wajah. Tapi maunya kulit bersih mulus dan komplen dengan kulitnya yang jerawatan dan kusam. Ada lagi yang tiap makan pol-polan, beneran kalap, semua keinginan diturutin. Tapi ngeluh pengen langsing. Contoh terakhir, untuk menutup ‘kekurangan’ pada wajah, lantas bermake up super tebal, kek topeng, untuk menyembunyikan jerawat dan lain-lain.

Familiar dengan contoh di atas? Well, prihatin sekaligus geregetan kalau ketemu temen yang kek gitu. Dipikirnya tampil cantik itu seperti mie instan apa ya, dalam lima menit langsung jadi. Dan yang paling menyedihkan ketika mereka mengartikan tampil cantik itu ketika di hadapan orang lain. Maunya ketika ada event tertentu langsung jreeeeng berubah bak bintang hollywood dengan make up tebal. Kalau gitu, menjadi cantik buat siapa sih? Buat orang lain atau diri sendiri?

Semua perempuan itu cantik. Tetapi ada perempuan yang tidak tahu bagaimana menonjolkan kecantikan mereka. Cantik itu juga butuh usaha dan proses. Ga mau kan, ketika umur 19 kulit masih mulus dan jins masih ukuran 6, eh 10 tahun kemudian wajah udah kusam, jerawatan, premature aging, dan jins ukuran 14. Contoh dong, Michelle Obama sang First Lady Amerika. Di usia 47 tahun, masih tampil mempesona dengan balutan terusan tanpa lengan.

Kecantikan yang tak pudar itu membutuhkan usaha, proses bukan hasil instan. Musti disiplin dan ga bisa seenaknya sendiri dengan tubuh kita kalau ingin awet cantik hingga berpuluh tahun kedepan. Selain itu, kecantikan juga tak sedalam kulit. Apa yang di dalam hati, sikap, dan kelakuan juga terpancar keluar dalam bentuk aura/kharisma. Itu bentuk kecantikan yang seutuhnya.

Lagi-lagi Kambing Hitam PMS

image

Sehabis menulis postingan terakhir tentang teman yang meradang dan dicurigai PMS sebagai penyebabnya, kini sendirinya sedang ‘disiksa’ PMS. Iya, bahasa kodenya, lagi dapet nih dan pas di-long weekend. And i tell you it was like hell. 😥

Okay, seperti aku tulis sebelumnya, mengenai mood swing tidak lantas menyebabkan aku cari pelampiasan emosi. :mrgreen:
Tetapi yang namanya pegel-pegel, kram perut, astaga…rasanya mau patah-patah deh itu panggul. Juga perut yang rasanya gak karuan, penuh, kembung, kena dingin sedikit aja langsung mules. Nafsu makan juga jadi menurun dibanding masa menjelang dapet. Hmmm kalau itu sih untung ya, membantu diet hihihi. Iya lho, menjelang dapet gitu malah biasanya nafsu makan gila-gilaan.

Yang bikin aku kecewa, karena kondisi fisik yang jadi kurang fit gara-gara dapet, terpaksa menolak ajakan liburan long weekend keluar kota. Kebayang repotnya pas di jalan gitu (tawarannya berlibur backpackeran, jadi pakai kendaraan umum) pas lagi banyak-banyaknya dan mules-mules ga karuan. 😥

Hmmm jadi pengin tahu sih, para traveller dan petualang perempuan bagaimana caranya mengurangi kerempongan gara-gara pas dapet dan PMS?
Kebayang, lagi naik gunung gitu trus dapet. Hiiiiy mbayanginnya rempong dan malesin ga sih? Padahal nih, mumpung masih muda, mumpung masih single, pengen gitu backpackeran ke daerah-daerah.

Si Kambing Hitam PMS

image

Pagi ini aku dibikin prihatin sekaligus geli dengan nasib yang  menimpa rekan sejawatku, Dodi yang aku sebut di postingan sebelum ini. Kali ini dia kena apes, bukan dari pacarnya tapi dari perempuan lain.

Waktu itu Dodi lagi asik di kubikelnya, lagi ribet dengan pekerjaannya yang dari kemarin belum kelar juga. Lewat Nina sambil menggumam berbau ngomel, “Sakit kok ada-ada aja, yang maag, yang sariawan. Huuuh!”

Dodi spontan nyeletuk, “Sawannya enggak sekalian?”

Nina tiba-tiba mengamuk hebat, ditudingnya Dodi seraya kata-kata pedas berhamburan dari mulutnya. Dodi melongo, tidak siap dengan ‘serangan’ mendadak ini. Nina masih ngamuk-ngamuk gak jelas ketika Dodi meminta maaf. Tapi Nina masih ngomel-ngomel dan langsung membuang muka pergi dari hadapan Dodi.

Aku antara shock, kaget, melihat peristiwa tersebut, juga geli dengan ekspresi Dodi. Antara kaget, menyesal, bingung, dongkol, tergambar semua. Aku sendiri juga kaget sih, karena tak biasanya Nina jadi pemarah seperti itu. Biasanya dia ceria, ceriwis, ramai, ya begitu deh. Entah kenapa pagi ini mendadak berubah jadi naga. 😀

Aku mendekati kubikel Dodi dan berbisik, “Ada apa sih, kok Nina sampai segitunya marah ama kamu?”

Dodi menggeleng. Tahu-tahu Arno sudah di dekat kamu dan nimbrung pembicaraan, “Lagi PMS kali, jadi galak gitu,” ucapnya sambil nyengir.
Dodi mengeluh, “Kalian perempuan itu menakutkan, tahu, kalau lagi PMS. Kami pria harus selalu siap jantungan dan extra sabar kalau tiba-tiba dapat serangan seperti ini.”

Aku ketawa mendengar curcolan Dodi. Tapi dua pria tersebut kok malah makin menjadi curcolannya. Masing-masing cerita tentang kelakuan ceweknya, yang pada satu waktu pasti jadi lebih sensitif. Jangankan kesenggol, tidak melakukan apa-apa saja bisa bikin mereka nyolot, nangis tanpa sebab, demanding, dsb. Geje alias ga jelas banget, dan benar-benar membingungkan, demikian curcolan mereka.

Aku sendiri mengakui, menjelang mau datang bulan, ada masa aku menjadi lebih mudah marah. Dulu salah satu indikator mau ‘dapet’ adalah kalau tanpa alasan jelas jadi lebih mudah marah. Tapi hal tersebut ternyata tidak terjadi setiap waktu. Ada kalanya emosi tidak terlalu terpengaruh alias stabil, tahu-tahu ‘dapet’.

Lagian, pernah disentil seseorang, apa iya mau jadi budak hormon. Apa iya sama sekali ga bisa mengkontrol mengendalikan reaksi ketika sedang tersinggung. Jangan-jangan PMS jadi semacam legitimasi *halah bahasanya* untuk membenarkan ego kita. Enak tau, kita bisa ngamuk-ngamuk melampiaskan emosi kita. Kalau kata seseorang, seperti kentut. Yang penting kita lega, gak peduli orang lain kena baunya.
Hah, apa bener mau jadi seperti itu? Apa iya kita perempuan benar-benar tak berdaya dengan hormon attacks ini? Menurutmu bagaimana?

Pertanyaan Mematikan Bagi Kaum Pria

image

Beberapa hari lalu, ada kejadian lucu. Rekan kerja, sebut aja namanya Nina, dia memang peduli banget dengan penampilan. Dia datang pagi-pagi itu,  ada yang berbeda dengan penampilannya. Rupanya dia potong rambut dan rambutnya dikriwil-kriwil keriting. Sepanjang hari Nina sibuk bertanya ke kami, rekan-rekan cewek, gimana rambut barunya itu, oke gak. Well, you know what, mengutarakan dengan jujur apa pendapatmu tentang penampilan orang lain itu tidak mudah. Kamu butuh skill diplomasi tingkat  tinggi untuk satu hal ini 😛

Nina juga bertanya-tanya kepada rekan prianya. Nah rupanya soal beginian membuat para pria berada di posisi serba salah. Aku tahu hal ini ketika sedang break maksi. Aku makan di kantin gedung berdua dengan Dodi. Tiba-tiba Dodi menyinggung soal Nina.

“Tau gak, jeung Vit, aku tuh selalu bingung kalo ditanya cewek tentang penampilan. Mau jawab jujur, takut marah, kalo bohong dikira nyepik.”

“Hah, maksudmu, Nina jelek?” aku tertawa demi mendengar curcolannya.

“Bukan begitu, tapi aku jadi inget kalau ditanya cewekku. Misal, ketika dia tanya apakah dia gemuk. Kalau aku jawab, perutnya sedikit buncit, dia langsung sedih dan uring-uringan trus diet habis-habisan. Tapi kalau aku jawab kurus, dia juga cemberut dan ga percaya gitu aja. Lha aku harus gimana?”

Aku garuk-garuk kepala. Betul juga yah, aku sendiri kalau tanya gituan ke cowokku, mengharap dijawab gimana ya? Maunya sih dijawab dengan pujian dan mata berbinar, bilang bahwa aku sempurna, sexy,  cantiiiik, tidak ada yang mengalahkan, dan dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Hahaha, you wish, padahal tahu bener itu gombal.

Dodi melanjutkan curcolannya, “Kamu tahu ga sih, Vit, cowok itu capek dengan perempuan yang insecure dan gak pede. Aku itu bingung mesti jawab gimana, kalau hadir di suatu event dan cewekku dandan abis  tapi dikit-dikit nanya, aku cantik ga Yang, ini rambutku cocok ga diginiin, bajuku bikin keliatan gendut ga, bla-bla-bla, aduuuhhh.”

Aku bisa membayangkan apa yang dicurcolkan Dodi. Tapi yah gimana lagi, aku bisa paham perasaan ceweknya. Ketika ingin tampil perfect sempurna di suatu event, dengan riasan dan dandanan yang beda dari biasanya. Memang jadi kurang pede, kuatir tampak aneh, kuatir kalau riasannya luntur dan membuat yang sempurna jadi berantakan, dsb.

Tapi terus-terusan bertanya kepada sang pacar,  hanya supaya diyakinkan itu juga menunjukkan betapa tidak pedenya kamu. Trus, kalau sang pacar ‘memuji’ bahwa dirimu sudah sempurna, tercantik, tiada cela, apakah lantas membuat jadi lebih tenang gitu, walau dalam hati kecil mungkin tahu itu gombal. Yeah, bisa jadi lho yang dilontarkan pacar itu hanya untuk ‘membungkam’ supaya tidak riwil. 😛

Jadi gimana, kalau bertanya kepada pasangan kita, “Yang, aku gemuk yah? Aku cantik nggak sih?” itu memang benar untuk mencari masukan atau lebih sebagai ungkapan insecure  ketidakpercayaan diri kita?

Yang jelas sih, itu pertanyaan mematikan bagi kaum adam. Lebih baik tidak menempatkan Yang Tersayang tidak di posisi buah simalakama :mrgreen:

Kalau hanya untuk mendapatkan rasa nyaman/diyakinkan, sepertinya lebih baik memoles percaya diri kamu duluan deh daripada memoles penampilan. Yakin deh, pasanganmu akan lebih respect dan kagum. Betul, gak? Yang kaum adam bagaimana tanggapannya?

Menyiksa Diri Demi Tampil Cantik, Mau?

Masih tentang kecantikan. Have you girl (and boys) ever noticed, perempuan rela untuk menyiksa diri demi tampil cantik. No pain no gain, demikian kata mereka. Tidak percaya? Lihat perempuan sekitar anda.

Paling gampang, perhatikan sepatu yang mereka pakai. Pernah berpikiran tidak, bagaimana rasanya berjalan kaki bahkan berlari-lari mengejar angkutan kota dengan high heels? I told you, gue pernah ngerasain kaki gempor letoy serasa habis jogging keliling kabupaten, gara-gara jalan-jalan mengitari kuta square pake high heels 7cm. Alasan kenapa waktu itu pakai high heels, biar matching dengan bajunya dan sepatu high heels memberi kesan kaki jenjang dan seksi.

Contoh lain, ketika menjalani facial yang komedo dicutik pakai ‘alat penyiksaan’ semacam jarum yang menggilas permukaan kulit kita. Atau ketika waing, wah jangan ditanya bagaimana rasanya bulu-bulu nan nakal itu dicabut secara paksa.

Seringkali demi kecantikan, perempuan (waria juga sih, pokoknya demi tampil cantik deh) rela menjalani proses yang beresiko tinggi dan membahayakan keselamatan dirinya. Sudah pernah mendengar kan, berita pasien meninggal karena praktek salon kecantikan ilegal. Mereka meninggal karena menjalani suntik silikon yang tidak bertanggung jawab dan tidak dibawah pengawasan dokter yang kompeten dibidangnya. Atau yang cacat wajahnya, rusak, karena lagi-lagi silikon, kosmetik pemutih wajah yang ternyata mengandung bahan berbahaya, ginjal rusak karena mengkonsumsi obat-obatan pelangsing yang ilegal, dll.

Biasanya karena tidak didukung pengetahuan & wawasan yang cukup, banyak temen-temen gue yang melakukan ‘penyiksaan’ kecil-kecilan. Misalnya nih, pengin kurus tapi caranya diet kurang tepat. Misal, Cuma minum air putih dan buah, mengurangi porsi makan secara drastis yang sehari dua kali makan, dll. Padahal, kalau udah tahu esensi diet dan how to eat right and properly, yang namanya diet sama sekali tidak menyiksa.

Banyak juga yang maunya tampil cantik, tapi instan. Paling keliatan kalo liat orang dengan make up tebel. Maunya cantik, tapi entah kenapa jadi serasa liat ondel-ondel. Maunya dia, make up tebel untuk menutupi noda jerawat, kerut, dsb. Apalagi waktu liat doi polosan tanpa make up. Huaaa….kok malah jadi serasa…. Dan akhirnya, ybs makin gak pede untuk tampil flawless, makin tenggelam dibalik pulasan topeng make up.

Memang sih, no pain no gain. Setiap perempuan itu cantik, itu juga bener. Tapi, supaya cantiknya itu bisa lebih ‘keluar’, menonjol gitu, juga butuh usaha. Usaha juga jangan diartikan dengan penyiksaan. Usaha itu proses, bener ga?

Lebih milih mana, cantik pada masa sekarang, tapi bertahun-tahun kemudian kulit makin kisut kering bermasalah, badan juga sakit-sakitan, karena upaya penyiksaan. Atau prosesnya memang lama baru keliatan hasilnya, tapi sampai bertahun-tahun mendatang tetep masih keliatan awet muda nan mempesona.

Mau dong, sampe usia 50 tahun tapi masih tetap mempesona, langsing, bahkan seksi seperti Michelle Obama. Itu yakin bukan karena usaha instan, tapi hasil dari apa yang sudah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.

Apa Sih Artinya Cantik?

Saat lunch bareng dengan seorang teman beberapa waktu lalu, ada beberapa hal yang membuatku makin tertarik mengamati serba-serbi kaumku, perempuan. Sebuah dunia yang sangat lekat dengan perempuan, yaitu kecantikan. Pertanyaannya kali ini adalah, mengapa perempuan sering sekali merasa insecure alias nggak PD dengan kecantikan mereka.

Aku dan Desi sudah 10 tahun tidak bertemu. Dulu ia teman sebangku di SMP, dan seingatku ia dulu gemuk, pemalu, rambutnya keriting. Kini ia berubah menjadi sosok yang modis dan wangi seperti layaknya perempuan urban. Tubuhnya semampai, langsing, rambut ikal tergerai panjang, dan kulit sawo matang yang mulus tak bernoda. Ketika kami ke toilet untuk touch up, aku mendengarkan keluhan Desi ketika mengaca.

“Aduuuh, ini hidung kok pesek bener sih. Gimana supaya bisa bangir ya…trus coba deh, liat payudaraku. Dari dulu ga banyak perubahan. Masak sama ama dada anak SMP, malah anak SMP sekarang banyak yang montok-montok. Apa musti ke Tokyo untuk operasi boobs ya, biar seperti Malinda Dee,” selorohnya.

Aku nyengir dan teringat pengalaman tiap pergi ke rest room di mall atau bioskop. Apa yang aku lihat disitu adalah perempuan-perempuan insecure. Setiap kali mengaca, selalu yang dilihat adalah kekurangannya. Yang jerawatanlah, yang bulu matanya kurang lentik lah, kulit berminyak, yang perut buncit lah dll. Bahkan seorang perempuan yang menurutku sudah sempurna, seperti Desi ini, juga mengeluh ketika berhadapan dengan cermin.

Iseng aku tanya Desi, memangnya sosok yang cantik itu yang seperti apa, yang bagaimana.
“Aduh bok ya, yang cantik itu ya yang kulitnya putih mulus, rambutnya luruuuus halus panjang, hidung mancung, perut rata, ya seperti di majalah dan tipi itu lah.“

“Lah elu biar ga putih tapi kan mulus gitu lho, bersih ga ada jerawat ato bekasnya. Rambut elu jg biar ga lurus tapi bagus, potongan yang sekarang cocok tuh ama wajah.”

“Eh gue mo smoothing ini rambut kok, biar bisa diponi. Jidat jenong gini, malu-maluin aja. Tapi masalahnya kalo rambut kriting gue diponi, yang ada malah rambut saru tuh. Tau dong, rambut saru. Itu tuh, rambut yang ada di tempat-tempat saru, hahahaha.”

Aku ketawa demi mendengar istilahnya, “Yah tapi kalo dilurusin, ilang dong eksotisme elu. Btw apa sih resepnya biar langsing? Errr…tapi dulu jaman SMP kan lu endut.”

“Hah, kek gini dibilang langsing? Aduuuhhh ini perut masih buncit, paha bisa buat gebug maling gitu. Aku diet keras, Vit, ples suntik.”

Aku manggut-manggut mendengar uraiannya.

Kadangkala tak habis pikir kalau denger seorang perempuan cantik ngoceh betapa ia tidak cantik, tidak sempurna, bla-bla-bla. Duh, gemes tauk. Bagaimana bisa ia tak menyadari kelebihannya dan mengukur dirinya dengan standar model & bintang iklan. Kalau semua harus diukur dengan standar bintang iklan, yang kulit harus putih, rambut harus lurus, perut harus serata papan penggilesan, dll yaaaa tenggelam dong. Lalu bagaimana dengan sosok mereka yang dikaruniai kulit hitam, rambut keriting, hidung pesek, pendek, dll. Apakah harus merogoh kocek untuk operasi plastik demi tampil cantik sesuai standar majalah televisi?

Padahal kalau ditanyakan ke pria-pria, tak semua pria menjawab yang cantik itu yang kulit putih. Macam semua pria seperti di iklan pemutih saja, hanya terpesona dan pasrah begitu si cewek menjelma jadi putih. Beauty is in the eye of beholder. Menurutku, Au Sang Sun Kyi itu cantik. Apakah ia tampil bak bintang iklan? Tidak. Ia adalah aktivis perjuangan HAM Myanmar, dan sudah berusia lebih dari 45 tahun. Christine Hakim, di usianya yang matang ia tetap terlihat cantik.

Cantik yang sempurna itu tiap daerah, tiap masa, berbeda. Gak percaya? Coba saja perhatikan majalah-majalah perempuan dari luar negeri. Mereka mengagumi dan memuja kulit sawo matang yang terbakar matahari. Menurut mereka, kulit kecoklatan karena sinar matahari itu seksi. Karena itu tak heran, ada salon untuk tanning. Malah pernah nonton di Oprah Show, standar kecantikan di suatu negara di Afrika adalah gemuk. Jadi perempuan cantik itu yang gemuk dan berbadan besar.

Definisi cantik juga ditentukan oleh tren suatu masa. Misal, di Cina kuno hingga awal abad 20, kaki yang kecil pada perempuan dinilai sangat feminin, thus kaki kecil itu cantik. Karena itu praktek ‘penyiksaan’ demi mendapatkan gelar cantik, dilakukan sejak dini. Kaki dibungkus rapat-rapat bahkan dengan sepatu besi, sehingga kaki tidak tumbuh sempurna. Akibatnya, perempuan dengan kaki kecil tersebut tak akan kuat berjalan-jalan jauh. Bahkan jika membaca link ini maka jelas terdokumentasikan, bahwa trend kecantikan selalu berubah-ubah, dari masa kitab perjanjian lama hingga masa sekarang ini.

Jadi, mengenai merasa cantik, boleh lah kita meniru sedikit para pria kalau mereka berkaca. Pernah memperhatikan, kelakuan para pria jika sedang mengaca? Mereka selalu memperhatikan kelebihannya, memamerkan lengannya, perutnya, dll. Intinya percaya diri. Kedua, penerimaan diri.
Jadi kalau dipuji cantik, ya terima saja kalau memang cantik, meski kulit tidak putih, rambut tidak lurus, hidung kurang bangir. Berhenti ingin menjadi orang lain, dan menerima apa adanya kalau dari sononya sudah cantik seperti apa adanya.

We are beautiful for what we are. Kalau menurut confucius, everything has beauty, but not everyone sees it. Teman-teman setuju nggak?