Miss Universe & Putri Indonesia

kebetulan saya lagi baca profil Miss Universe, Stefania Fernandez dan ada juga tentang Puteri Indonesia di tahun yang sama, Qori Sandioriva di majalah yang sama. Melihat dua perempuan cantik itu, mau tak mau saya jadi membandingkan keduanya.

Keduanya cantik, masing-masing dengan cita rasa yang berbeda. Qori dengan senyumnya yang manis dan wajahnya yang enak dipandang meskipun bedak tebal tidak mampu menutupi jerawat di pipi dan dagunya. Sementara menatap Stefania seolah tengah menatap sosok Barbie hidup. She is simply flawless. Raganya tanpa cela. Wajahnya simetris dengan postur, kulit, rambut, dan gigi yang terlihat sempurna. Secara fisik keduanya punya pesonanya sendiri.

Nah, perbedaan jadi terlihat nyata saat sesi tanya jawab. Stefania selalu menjawab pertanyaan dengan spontan, apa adanya dan ekspresif. Tidak hanya bibirnya, matanya pun ikut berbicara setiap kali rentetan kata dalam bahasa Spanyol mengalir dari mulut perempuan Venezuela itu. Tangannya yang bergerak-gerak memberikan penekanan pada bagian-bagian penting kalimatnya, serta tawanya yang berderai sama sekali tidak mengurangi keanggunannya.

Giliran Qori menjawab pertanyaan wartawan, saya heran. Qori selalu memulai kalimatnya dengan,

“Baik. Terima kasih atas pertanyaannya…”

Kalimat itu diucapkan dengan intonasi yang sama setiap hendak menjawab pertanyaan. Apakah ini hasil dari pelatihan public speaking yang diikuti selama karantina Puteri Indonesia? Kalau iya, duuuh… alangkah kaku dan formilnya tata wicara sang puteri. Saya sampai gemes mendengar setiap jawaban Qori yang bertele-tele.

Katanya kontes Puteri Indonesia mengedepankan 3B: Brain, Beauty & Behaviour. Nah, bila dari caranya menjawab pertanyaan saja seperti itu, sulit rasanya membayangkan Qori mampu bersaing dengan ratusan perempuan semacam Stefania dari seluruh dunia dalam ajang miss Universe. Dari pada Yayasan Puteri Indonesia sibuk membela diri dalam perdebatan kepatutan Puteri Indonesia berbikini di ajang pemilihan internasional (toh selama ini pada akhirnya tetap tampil berbikini), apa nggak lebih efektif bila yayasan ini memakai waktu dan tenaganya untuk melatih sang puteri berbicara di depan publik?

Apalagi, sejak malam penobatannya Qori sudah ‘jatuh pamor’ di mata media karena pernyataannya yang tidak konsisten soal melepas jilbabnya demi pemilihan ini. Malah dia dituding berbohong. Duh! Kalau dia pesinetron sih saya nggak akan peduli mau ngomong apa. Tapi seorang Puteri Indonesia biar bagaimanapun perlu lebih ‘berisi’ dan ini terlihat dari apa yang diucapkannya serta bagaimana dia mengucapkannya.