Personal Hiegyne dan Tampil Cantik

Gurls, masih inget khan tulisanku yang tentang kapan kita mengalami haid pertama dan disitu aku menyinggung sedikit tentang pendidikan seks. Jadi pengin nulis tentang gimana cara menjaga kebersihan pribadi.

Sebagai cewek, kita maunya selalu tampil menarik, khan? Termasuk didalamnya yaitu kita maunya tampil segar dan ga bau. Menurut kalian gimana, ada cewek cakep, cantik, dandanan oke, tapi setelah didekati ternyata bau badan. Atau dilihat lebih teliti, ternyata agak-agak jorok, dan itu tercermin dari bajunya yang agak kurang bersih dan bau, kuku yang kotor, gigi yang masih ada sisa makanan, dll. Ugh, ga tau pendapat para cowo, tapi aku sebagai sesama cewek aja bisa ilfil.

Kecantikan ga sebatas make up, dong, itu yang perlu disadari. Tampil oke juga ga sebatas baju bermerk, kan?

Terus apa dong, hubungan antara tampil cantik dan tadi sempat menyinggung tentang haid pertama? Ternyata nih, hubungannya erat lho. Dari artikel ini, dijelaskan bahwa sejak kita mengalami haid pertama, kita mengalami banyak perubahan. Perubahan fisik mencakup bentuk tubuh yang mulai membentuk (karena pengaruh hormon), juga tumbuhnya rambut-rambut halus di tempat tertentu (ini juga karena hormon), ples ternyata bau badan kita juga turut berubah lho. So, ini waktu yang tepat untuk belajar tentang personal hiegyene. Mana ketika kita mengalami masa puber, berarti kita memasuki masa remaja. Secara psikologis juga pasti berbeda. Menurut ahli psikologi perkembangan, di masa remaja ini kita mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis.

Jadi ga heran ya, ketika kita mulai beranjak remaja, penampilan mendadak menjadi fokus kita. Yang waktu kecil ga terlalu care ingin tampil cantik di mata orang lain, pada saat remaja mulai deh pengen tampil menarik. Nah, ngapain tampil dengan make up tebal dan baju branded kalau bau dan jorok? Iuugh banget, percaya deh.

Trus, apa aja dong yang mesti diperhatiin tentang personal hiegyene, terutama kita sebagai cewe?

Bau badan! Ga susah kok, yang penting rajin mandi dengan sabun yang sesuai dengan jenis kulit kita.

Tapi kenapa masih ada teman kita yang bau badan walau dia ngaku rajin mandi ya? Mungkin loh ya, kalau mengamati, kemungkinan doi rada-rada jorok. Misal nih, jarang ganti dalaman, jarang ganti baju, atau cara mencuci bajunya asal aja so malah bau baju jadi apek. Trus perhatiin, cara menggosok gigi. Bener kali, dua kali sehari, tapi masih bau mulut. Yang bener khan, habis makan dan sebelum tidur, plus lidah juga disikat. Cuci tangan juga nih, apalagi kalau habis dari toilet. Hukumnya w-a-j-i-b. Dan seperti yang udah aku sempet singgung, kalau lagi menstruasi, wajib juga tuh, sering-sering ganti pembalut, setiap lima jam gitu ganti.

Ada pertanyaan, vaginal douch atau sabun khusus kewanitaan itu perlu ga sih? Well, tentang menjaga kebersihan daerah intim kita dan khususnya selama menstruasi, aku tulis dalam satu postinganj khusus ya. Karena bakalan panjang.

Masih Muda, Stroke?

image

Minggu-minggu, sekian jam menjelang Senin. Bukan terkena sindrom I Hate Monday, tapi obrolan singkat dari kawan-kawan lama membawa pencerahan menjelang akhir weekend ini.

Yup, pagi tadi sempat kaget pas denger kabar, ada teman yang terkena stroke ringan. Wah, padahal teman tersebut masih muda banget. Menjelang 30 tahun, masih produktif-produktifnya tuh. Stroke kan biasanya menyerang orang-orang tua? Sudah gitu, temen satu ini juga ga obesitas yang gendut banget.

Obrolan jadi beralih ke topik kesehatan. Ternyata, beberapa teman yang masih masuk usia muda dan produktif, udah ada tanda-tanda musti waspada. Bayangkan, ada yang kolestrolnya ketika dicek, tinggi banget. Ada yang kena asam urat. Ada yang didiagnosis diabetes tipe 2. Duh, duh, ini masih muda-muda tapi kok udah penyakit degeneratif kek gini?

Ketika dicek, kenapa mereka sampe kena, rata-rata ternyata sama: gaya hidup. Antara lain, pola makan, tingkat stress, tingkat merokok, dan kurang gerak.
Mereka ini yang udah gejala ini  umumnya cuek bebek soal makan. Asal enak, gitu deh. Enak itu identik dengan minim serat karena umumnya daging-dagingan, kaya trans-fat, tinggi garam/sodium, tinggi gula.

Ketika mereka divonis dokter dengan diagnosis demikian, mulailah mereka musti patuh berpantang makan (kecuali kalo pengen penyakitnya cepet kumat). Apalagi yang asam urat tuh, pantangannya sejauh yang aku tahu, banyak beneeeer. Sayur pun ada pantangannya.

Kalau udah gini, suka sedih. Dulu temen-temen ini kalau diingatkan untuk jaga makan, diet, suka ngeyel. Katanya, masih muda ngapain diet, ga bisa menikmati hidup. Malah kadang suka mengolok-olok yang diet sebagai orang yang ga bisa menikmati hidup.
Sekarang kalau udah gini, siapa yang menikmati hidup?    :palmface:

Diet itu khan bukan untuk kurus, tapi sehat. Dan seperti yang udah sering aku tulis, diet itu gampang, ga mahal, bisa murah, dan ga aneh-aneh. Asal tahu prinsipnya aja.
Kalau orang menerima sakit kolestrol, asam urat, diabetes, sebagai suatu kewajaran, konsekwensi dari menikmati hidup, duh kok gimana ya… 
Ironis bukan, niat ingin menikmati hidup tapi berakhir dengan keterbatasan sana-sini.

Jadi, mo menikmati hidup untuk sekian tahun yang singkat atau mo menikmati hidup sampai usia tua? The choice is yours.

Emotional Eating

 

Kemarin bener-bener having a bad day deh. Pagi bangun kesiangan, grusa-grusu dan ga sempet keramas. Padahal udah ga keramas udah tiga hari, gara-gara lembur terus dan tiap pulang udah kecapekan. Bad hair day, rambut dikuncir buntut kuda (nyaris nulis poni kuda, gegara latah pony tail, padahal poni kuda kek apa kan jauh banget dari buntut kuda).  :mrgreen:

Hari itu emang jadwal meeting ama klien, untuk presentasi apa yang udah dilemburin berhari-hari. Eeeh, pas udah siap mo presentasi, listrik mati dong. Cakep banget. Sia-sia deh lemburan kemarin. Udah gitu, klien kali ini agak riwil. Nanya-nanya hal yang menurutku ga penting dan remeh, bukan inti dari presentasiku.
Kringetan antara karena AC mati, grogi-grogi bete, dan stress.

Kelar presentasi, ughhh rasanya pengen melampiaskan dendam kesumat. Dan yang kulakukan adalah pergi ke tempat makan. Aku pesan pho yang citarasanya pedas asam, dimakan panas-panas. Ajaib, porsi yang bisa untuk berdua, habis oleh aku seorang. Itupun masih ketambahan spring roll dan es cendol.

Hwaaaaa…setelah kekenyangan, baru deh sadar. Aduh, aku makan berdasarkan dorongan emosi. Nyesel tiada guna. Kenapa aku tak bisa memenej emosiku lebih baik, dan malah justru melampiaskan pada makanan?

Gurls, ada diantara kalian yang pernah mengalami kejadian barusan?
Aku kasih contoh deh, emotional eating yang sering kulakulan. Misalnya nih, pas bosan/stress. Ga laper, sama sekali enggak. Tapi dorongan untuk mengunyah yang asin-asin atau gurih, besar sekali. Jadilah gorengan, snack-snack asin bersodium tinggi, jadi pelepasan mood.

Mungkin ada, yang pelariannya ke makanan manis, seperti eskrim, donat, cupcake, etc. Jadi kalau lagi sedih, besar dorongan untuk ngemil yang manis-manis.

Ga heran sih, kalau tahu cara kerja otak dan kandungan makanan tersebut. Jadi ketika kita sedang stress, otak melepaskan hormon stress. Sedangkan makanan yang mengandung gula dan karbohidrat sederhana, mampu memicu pelepasan hormon dopamin yang memberikan efek senang. Jadi paham kan, kenapa junk food pada saat kita sedang tidak enak hati, sangat menggoda padahal kita tidak lapar.

Well, ada cara sehat kok, untuk solusinya. Seperti aku udah sebutkan diatas, memang akarnya ada pada kemampuan kita memenej stress dan rasa kecewa. Karena kalau kita tak bisa, mungkin saja pelariannya tak hanya makanan tapi belanja *familiar banget ini mah*.   :mrgreen:

Kedua, kalau kita kesulitan mengendalikan emosi kita, ada kok alternatif makanan yang efeknya sama dengan junk food tadi. Misal pisang, jeruk, strawberry. Buah-buahan tersebut menurut ahli adalah food mood, alias bisa mempengaruhi mood juga.

So, gimana gurls? Masih kesulitan mengatasi emotional eating?

Btw, ternyata klien yang tadi nanya-nanya riwil, naksir akuuuu. Karena karena karenaaaa, dia meminta nomerku dan mengajakku makan malam, in privat, di luar konteks kerjaan.
Haduh, sekarang sumber stressnya gantian deh, hihihihi.

My First Menarche

 

 

Gurls, masih inget ga, pengalaman kamu ketika dapat haid pertama kali? Umur berapa sih kamu mengalami momen bersejarah itu?

Ternyata, terungkap ada kecenderungan bahwa ada penurunan usia pertama mendapat haid, dari masa ke masa. Penelitian menyebutkan, tahun 1860, rata-rata gadis-gadis di Eropa mendapat haid pertama kali pada usia 16,6 tahun. Tahun 1920, menjadi 14,6 tahun. Pada tahun 1950 menjadi 13,1 tahun, dan tahun 1980 rata-rata gadis mendapat menarche pada usia 12,5 tahun.
Profesor Norbert Kluge dr Universitas Koblenz-Landau menyatakan, tahun 1992, haid pertama rata-rata pada usia 12,2 tahun, dan tahun 2010 menurun lagi rata-rata usia 10-11 tahun.

Waow, kira-kira kenapa ya? Kata para ahli sih, nutrisi yang lebih baik dan kesadaran yang lebih tinggi mengenai kesehatan, berpengaruh terhadap makin mudanya seorang gadis mendapat haid pertamanya.

Kalau dari kalian sendiri, inget gak, kapan pertama mendapat haid? Apa perasaan waktu itu? Sebelumnya udah dapet cerita-cerita gitu gak, atau setelah dapet baru tau kalau itu menstruasi/haid?

Kalau Jeung Vita sendiri, masih inget, pengalaman pertama mendapat haid pas masih SD. Tepatnya pas kelas 5 SD. Sebelumnya udah dapet cerita dari sepupu-sepupu yang lebih tua dan teman-teman yang udah dapet duluan. Seingatku sih, hal ini kok gak diterangkan di SD oleh guru sekolah ya. Serius lho.

Kakak-kakak sepupu inilah yang berjasa memberikan pengenalan tentang gimana itu pengalaman ‘berdarah’ pertama kali. Kebetulan Jeung Vita ga punya kakak cewek sih ya, jadi ga ada yang bisa dijadikan tempat curhat. Teman-teman juga. Jadi mereka ini yang mengatakan, ada masa cewe mengeluarkan darah dan itu normal, tidak sakit, jadi tak perlu panik.

Sedangkan dari Ibu, beliau baru menerangkan apa itu menstruasi ketika Jeung Vita akhirnya mendapat haid pertamanya. Mungkin beliau tak mengira kalau anak gadisnya mendapatkan haid di usia yang lebih muda.
Di sinilah sex education terasa sangat diperlukan. Iya tak? Bayangkan, gadis kecil yang sama sekali tak mendapat pengetahuan tentang serba serbi menstruasi. Kalau saat itu tiba, apa ga panik setengah mati mendapati tiba2 dirinya mengeluarkan darah. Aku aja, meski udah dapet cerita, pas waktunya ya tetep aja sempet krasa takut, ada yang abnormal.

Trus yang kedua, yang sangat penting dari sex education adalah personal hygiene. Ya iya doooong, menjaga kebersihan genital terutama pas menstruasi itu khan penting benjeeet. Kalau engga, iiih yeyek sekaliiii.

Masiiih inget, pas pertama dulu dapet. Oleh Ibu diajarkan untuk sering ganti pembalut, terutama habis buang air dan mandi. Juga tiap hendak tidur. Lalu bagaimana membuangnya, kemana membuangnya juga sangat penting. Pamali dan norma bahwa kalau sampai pembalut bekas itu keliatan orang. Ugh, enggak banget.
Ples, dulu diajarkan untuk mencuci bersih pembalut sebelum dibuang. Itu pada masa pembalut belum sepraktis sekarang. Intinya hygiene deh.
Belum kalau menengok tradisi kraton. Jeung Vita juga disempatkan minum jamu lho, supaya ga bau dan tetap segar.

Oia, ada yang lucu tentang pengalaman masa menstruasi dulu dan sekarang. Dulu, keknya tabu gitu ya, ngomongin tentang haid dan aksesorisnya secara terbuka. Dulu, beli pembalut di warung, kalau yang.jual cowo, malu banget, sampe bingung gimana ngomongnya biar ga ketahuan kalau mo beli pembalut. Sekarang, makin terbuka. Bahkan curhat ama temen cowo, ketika sedang menstrual cramps, pun udah biasa. Hayo, sapa yang pernah curhat sama temen cowo ketika badan lagi ga karuan ketika haid/PMS?    :mrgreen:

Nah, kalau kalian gimana, gurls?

Mitos Seputar Menstruasi

 

Sore itu sedang hujan. Duduk di samping jendela, sambil menghirup coklat hangat. Sendu menikmati rintik aliran air dari langit. Menghirup aroma wangi coklat, sembari hangatnya menenangkan menstrual cramp. Tiba-tiba nih, biar hujan tapi ga ada angin, seseorang yang lebih tua dariku memberi nasihat, “Kalau sedang menstruasi jangan keramas dulu, karena nanti darah yang keluar jadi sedikit.”

Mendadak bengong dengan nasihat yang tak pernah diminta barusan. Familiar dengan nasihat ini? Wah dasar ilmiahnya apa ya?

Karena penasaran, jadilah browsing-browsing. Ternyata, sodaraaaa….dari hasil browsing tersebut, nasihat di atas lebih berupa mitos yang telanjur dipercaya turun-temurun. Secara ilmiah sih, ga ada hubungannya, antara keramas dan volume menstruasi yang keluar.

Mitos tentang menstruasi ini, ternyata lebih banyak yang kita tahu, yang beredar di sana. Mungkin malah banyak diantara kita yang terlanjur mempercayainya. Agak sulit juga sih melacak dari mana asal mitos ini berasal. Bisa jadi kepercayaan jaman nenek kita, yang belum terbukti kebenarannya secara ilmiah dan lewat penelitian. Tapi terlanjur menyebar dan dipercaya.

Selain mitos jangan keramas, apa lagi sih, mitos-mitos menstruasi yang berkembang di daerahmu? Eh, bener lho, kadang tiap daerah punya mitosnya sendiri. Misal, tidak boleh makan ikan dan telur pada saat menstruasi karena bisa menyebabkan bau tak sedap/amis. Padahal nih yaaa, justru bagus banget makan ikan, telur, tempe, tahu, dll yang kandungan protein tinggi. Kalau tentang bau tak sedap mah, tergantung pada self-hygiene aja. Asal rajin membersihkan dan rajin ganti pembalut, ga ada cerita seperti di mitos itu. Atau kalau masih kurang pede, coba resep tradisional nenek moyang, jejamuan yang masih asli.

Selain itu, ada mitos aneh-aneh lainnya. Misal, perempuan yang sedang menstruasi dilarang untuk ikut berproses dalam pembuatan tape. Karena nanti tapenya bisa rusak/singkongnya ga jadi tape. Atau larangan menggunting rambut, menggunting kuku selama haid. Hahhhh, beneran mitos kalau ini.   😆

Coba didaftar yuk, mitos-mitos yang terkait dengan menstruasi dan kebenarannya:

1. Kalau ingin lancar menstruasi, minum soda.

Walah, malah baru dengar ini. Menurut situs kesehatan reproduksi ini, tidak ada hubungannya antara soda dengan lancar/tidaknya haid. Kalau dari segi kesehatan sih, malah sebaiknya mengurangi soda, apalagi kalau yang mengandung gula tinggi seperti soft drink. Lebih baik minum air putih. Bukan terkait langsung dengan lancarnya haid sih, tapi lebih ke kesehatan pada umumnya.

2. Tampon sebaiknya tidak dipakai oleh perempuan yang belum menikah.

Alasannya, bisa merusak selaput dara. Padahal nih, menurut situs ini, tampon aman-aman saja, asal tahu cara memakainya. Mungkin karena mitos ini juga, yang membuat tampon tidak populer dibanding pembalut biasa di Indonesia. Tips selebihnya sama dengan pemakaian pembalut, sering-sering ganti.

3.  Tidak boleh olahraga berat selama menstruasi.

Ini juga salah kaprah deh. Olahraga malah justru bagus, bisa mengurangi menstrual cramp. Kalau dirasa terlalu lemas, bisa kok olahraga yang ringan-ringan.

4. Selama menstruasi bisa bikin badan lemas, karena darah yang keluar.

Percaya gak, kalau selama menstruasi, darah yang keluar per hari sekitar 1-2 sdm. Kalau selama menstruasi, badan krasa kurang fit, selain olahraga ringan, dianjurkan untuk makan-makanan yang banyak mengandung serat, segar, kurangi garam, gula, kafein.

5. Siklus menstruasi yang normal 28 hari, dan lamanya 7 hari.

Waduh, kalau udah nyebut normal begini, ini juga salah kaprah. Siklus haid perempuan tak selalu harus 28 hari, walau memang rata-rata 28 hari. ada yang sampai 35 hari. Lamanya haid juga ada yang lima hari sudah selesai. Tetap makan-makanan sehat demi lancarnya menstruasi, plus rileksasi dan istirahat cukup supaya stress tetap terkendali.

 

 

Saran nih, gurls, daripada mempercayai mentah-mentah apa kata orang yang belum tentu terbukti kebenarannya, lebih baik tanyakan ke dokter yang memang ahlinya.

 

Dan lanjutannya gimana dong, yang ngasih nasihat untuk ga keramas tadi? Respon Jeung Vita bagaimana?

Pelan-pelan meletakkan mug berisi coklat panasku, tersenyum, mengundangnya untuk duduk bersamaku, aku mengeluarkan smartphone-ku, dan menunjukkan blogku ini dong.   :mrgreen:

 

Mengajarkan Anak Mengelola Uang Saku

 

 

Hai Gurls, kali ini kok pengen ngomong sedikit nyerempet-nyerempet masalah parenting, hehehe. Biar masih single dan fabulous gini :mrgreen:  ga ada salahnya lho, intip-intip ilmu tentang parenting, karena parenting adalah ilmu yang bisa dipelajari. Menurutku sih malah harus dipelajari, supaya kelak kalau kita sudah berkeluarga, bisa menjadi orang tua yang baik, dan mengasuh anak-anak kita dengan tepat.

Kenapa Jeung Vita jadi kesambet gini sih? 😆

Awalnya gara-gara pas lagi ikutan arisan keluarga. Ngeliat beberapa ponakan yang masih krucil alias masih SD, udah pegang hape mihil, hape smartphone gitu. Jadi minder deh, gegara kalah gadget sama anak kecil. Trus mikir, wah, anak kecil aja pegangannya udah hape-hape mihil gitu, trus berapa tuh uang sakunya, berapa ortunya kasih duit.

Pas ketemu temen-temen besoknya, ngobrol-ngobrol, eeh ternyata mereka punya uneg-uneg serupa. Heran dengan kelakuan anak sekarang yang gadgetnya ngalahin tante omnya. Dan berapa duit yang mereka pegang ke sekolah untuk jajan. Udah gitu, anak-anak SD sekarang, mainnya ke mall, ke kafe, hang-out, adddduuuuuhhhh beda bener ama lagak kita-kita dulu yang kecilnya boro-boro ke mall, tapi main gundu dan nyari ikan di kali. :mrgreen:

Orang tua jaman sekarang kalau ngasih uang saku ke anak, harian, mingguan, atau bulanan sih? Nominal yang dianggap wajar itu berapa ya? Dan kebutuhan anak sekolah dasar – menengah, kalau sehari-hari di sekolah, apa sih, diluar yang menyangkut sekolahnya? Hiburan seperti kebutuhan untuk kumpul hangout dengan teman-temannya, gitu?

Pertanyaannya, kalau memberi uang saku ke anak, padahal sudah memenuhi kebutuhan seperti buku, sepatu, dll begitu, nanti si anak jadi boros ga ya? Atau seperti postingan di sini, jangan-jangan si anak nanti malah jadi konsumtif. Memangnya mau, sebagai orang tua mengajarkan anak untuk boros dan konsumtif?

Bagaimana sih mengajarkan anak berhemat dan pandai menabung? Mengajarkan anak untuk sedikit bertanggung jawab terhadap keuangan mereka?

Kan, kalau dilatih dari kecil, maka ketika dewasa ia menjadi figur yang cermat, cerdas mengatur keuangan alias ga impulsif, hemat alias ga boros, dan syukur-syukur malah menjadi wirausahawan. Mungkin tidak, untuk mengajarkan sedari kecil, hal-hal demikian termasuk sense of wirausaha, kepada anak?

Coba temukan jawabnya di seminar berikut, mungkin ketemu tuh jawabnya. 😀

Besok tanggal 1 Oktober nih, di Titan Centre Jl. Boulevard Bintaro Blok B7/1 no. 05, Bintaro Sektor 7.

Semoga nanti diadakan lagi yaaa…jadi yang ga kebagian, bisa tanya-tanya. 😀

 

 

 

Stress dan Dampaknya ke Siklus Menstruasi

 

Beberapa hari lalu, pas lagi ngobrol ama temen, tiba-tiba dia nanya dengan nada khawatir, “Bulan ini aku kok belum dapet ya. Udah telat dari tanggal yang seharusnya nih…”

 

Well, kalau ada yang kebetulan duduk dekat kami waktu itu pasti ada yang mikir dikaitkan dengan hamil. Telat dapet selalu diasosiasikan dengan hamil. Padahal belum tentu lho. Kembali ke teman tadi, dia melanjutkan:

“Sepertinya aku kebanyakan pikiran nih. Memang udah beberapa waktu, suasana kantor lagi ga enak banget. Atasan-atasan lagi pada konflik, sementara karyawan protes karena ada ketidaksesuaian kontrak. Kerjaanku jadi makin menggila nih. Ada rekan kerja yang resign karena situasi kantor, dan kerjaan dilimpahkan ke aku. Deadline makin ketat. Udah gitu, aku lagi tengkar ama Baim. Gara-gara rencana pertunangan kami yang terancam mundur dari tanggal yang udah direncanakan. Haduuuh…”

Curcolnya disambung ke pertanyaan, “Eh stress bisa ya, mempengaruhi siklus menstruasi?”

Aku agak-agak ga yakin sih, secara aku bukan dokter. Sampai kos, aku jadi browsing-browsing karena penasaran dengan pertanyaan temanku tadi.

Hasilnya, dari berbagai penelitian dengan mengetikkan kata kunci stress menstrual cycles, ada dua pendapat.

Pendapat pertama mengatakan, stress dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Dampaknya bisa yang telat dapet seperti temanku tadi, lama masa haid jadi lebih panjang/lebih pendek, atau pendarahan yang lebih banyak/lebih sedikit dari biasanya. Pendapat kedua, seperti artikel ini, menyatakan bahwa dari penelitian yang sudah dikontrol sedemikian rupa, membuktikan bahwa stress pikiran tidak mempengaruhi siklus menstruasi.

Membaca dua pendapat yang berbeda seperti ini, terus terang malah jadi membingungkan sih. Tapi kalau melihat list hasil browsing yang lebih banyak artikel menyatakan, iya, bahwa stress dapat berdampak terhadap siklus menstruasi, sepertinya memang demikian adanya.

Lalu apa dong yang bisa dilakukan?

Terhadap teman tadi, saranku adalah supaya dia mengelola stress dengan baik. Karena suka atau tidak, stress ga bisa dihindari dari hidup kita. Kalau udah gitu, yang bisa kita lakukan adalah mengelola reaksi kita supaya stress tersebut tidak terlalu jauh mempengaruhi diri kita terutama secara fisik. Secara psikis pun, supaya kita lebih resilient dan lentur/fleksibel. Kalau udah gitu kan enak, mood kita bisa kita ciptakan supaya ga drop-drop amat, performa kerja juga ga terpengaruh atau bahkan memacu kita untuk cepat menyelesaikan problem kita, dan secara emosional lebih sehat.

Selain itu, kita juga perlu memperhatikan asupan nutrisi nih, apalagi stress sampai mempengaruhi siklus haid gini. Kurangi kafein, kurangi gula, kurangi garam. Perbanyak sayur dan buah-buahan segar. Air putih juga ga boleh kurang. Olahraga dan seperti yoga, berdampak positif bagi detak jantung dan gelombang otak sehingga tidur malam kita menjadi lebih nyenyak. Kita menjadi lebih rileks.

 

So, jika suatu waktu kita menyadari, kok aku belum juga dapet ya, bisa jadi memang lagi stress tuh. Work it out, gurls. 😀