Feminine Hygiene: Menstrual Hygiene dan Organ Intim Kita

Okay gurls, sesuai janji, postingan terbaru Jeung Vita adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang mengangkat tentang basic personal hygiene. Sekarang kita akan naik level dari basic ke advance, dengan membahas tentang feminine hygiene. Emang feminine hygiene apaan sih? Kebersihan yang sifatnya feminin gitu, serba berbunga-bunga dan berenda-renda? *plakkk*

Feminine hygiene itu gurls, kebersihan diri yang menyangkut tentang organ reproduksi kita. Yang paling ‘kelihatan’ yah tentu saja vulva (bagian terluar dari organ reproduksi kita) dan vagina. Loh kenapa dengan menjaga kebersihan organ feminin kita? Harus ya? Gimana caranya?

Grrr…terus terang geregeten gemes juga kalau ada respon begini. Karena respon tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran/informasi betapa pentingnya menjaga feminine hygiene. Hal kek gini udah terlihat dari kecil kok. Coba aja perhatikan kalau ke tempat umum misal toilet umum di mall, restoran fast food, amusement park, dll. Berapa banyak kalian pernah melihat orang tua ‘mengajarkan’ anak-anaknya (umumnya masih balita) untuk pipis di tempat umum terbuka seperti di rerimbunan/pinggir jalan. Mungkin yah, mikirnya, kalau masih kecil gapapa, ga ‘saru’. Aduh tapi perhatikan nggak, habis menemani anaknya pipis gitu, trus dinaikin gitu aja celananya. Enggak dibasuh sama sekali.

Atau kalau di desa-desa atau kampung di urban. Sering lihat anak kecil (bayi/balita) berkeliaran telanjang tanpa penutup tubuh bagian bawah. Lagi-lagi, mungkin loh ya, pembiaran tersebut karena dipikirnya bukan hal yang vulgar. Terus anak-anak kecil itu main di tanah gitu. :palmface:

Yang jadi pikiran, bukan soal vulgar/kepantasan sih, tapi, idiiih itu kebiasaan seperti itu, pantes aja, jangan basic personal hygiene, bahkan menjaga kebersihan organ paling pribadi pun mungkin tak terpikirkan. Makanya ga heran juga sih, kalau ngeliat temen-temen cewe yang sepertinya kurang begitu care dengan feminine hygiene. Keliatan lho, kebiasaan tersebut dari cara mereka mereka di kamar kecil, pakaian dalamnya, kebiasaan ketika menstruasi, hal-hal semacam itu deh. Dan kebiasaan tersebut makin dikuatkan dengan cara berpikir yang, “ah ngapain diurusin banget, toh ga keliatan dari luar. Beda dengan misal wajah.”

Wedew, yang begini ini nih, berarti masuk ke tipe cewe yang spending untuk make up dan baju, gede, tapi untuk kepedulian terhadap bagian paling pribadinya, malah rendah. Kalau dilihat-lihat memang sepertinya oke banget gitu ya, glamour, gaul, trendy. Tapi tapi, jangan-jangan nih, keputihan, gatal-gatal di area pribadinya, organ pribadinya mengeluarkan bau tidak sedap, dan bahkan mungkin terkena vaginosis. Padahal ya padahal, cukup dengan menjaga feminine hygiene, kita tidak perlu mengalami hal-hal seperti tadi.  Hayo, siapa deh yang cukup care dengan aroma yang keluar dari organ pribadinya, ngeh nggak kalo misal ternyata mengeluarkan aroma yang fishy-fishy gitu? Kyaaaaa…aduuuhhh jangan sampai yaaaa…

Untuk menjaga feminine hygiene, kebiasaan ketika menstruasi sangat berpengaruh. Siapa yang kalau sedang mens, males ganti pembalut? Ketika sedang mens dan buang air kecil, tidak ganti pembalut? Seberapa sering sih kalian ganti pembalut dalam sehari? Biasanya kalian ganti pembalut kalau bagaimana? Bagaimana kebiasaan kalian kalau ganti pembalut dan buang air kecil?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, bisa terlihat bagaimana kebiasaan feminine hygiene seorang cewe, termasuk poor atau good. Termasuk poor jika mayoritas jawabannya MALAS, JARANG/TIDAK GANTI. Sedangkan jika jawaban mayoritas RAJIN, SELALU, SERING, maka kebiasaan feminine hygiene-nya termasuk good.

Menjaga feminine hygiene ketika sedang menstruasi sebenarnya mudah kok, simpel. Rajin-rajin ganti pembalut, apalagi kalau habis dari buang air kecil/besar. Mengapa? Karena kondisi lembab, adalah kondisi yang sangat menguntungkan bagi bakteri-bakteri yang tidak menguntungkan. Coba deh buka-buka situs museum menstruasi ini, klik topik tentang odor/menstrual odor. OMG, this is something beyond your imagination 😮

Selain itu ketika sedang membasuh vagina setelah buang air kecil/besar, cara membasuhnya pun ada triknya. Basuh dari depan, bukan dari belakang ke depan. Mengapa? Karena kalau dari belakang ke depan, itu bakteri-bakteri dari rektum dan sisa-sisanya, bisa terbawa air masuk ke vagina. Akibatnya ya bisa keputihan, infeksi bakteri, dll. Usahakan area vulva untuk selalu kering. Jadi setiap kali habis buang air, keringkan dengan lembut. Kalau di toilet umum, usahakan untuk menggunakan air yang mengalir dari kran, daripada air yang tergenang di ember/bak. Kalau hendak mengganti pembalut, tangan juga sebaiknya dalam kondisi bersih, so cuci tangan dulu sebelum ganti pembalut. Setelahnya, wajib hukumnya untuk cuci tangan lagi dengan sabun.

Bagaimana dengan douche atau cairan/sabun pembersih khusus kewanitaan? Jawaban para ahli adalah, tidak perlu. Vagina sudah didesain sedemikian rupa, sangat genius dan pintar, untuk membersihkan dirinya sendiri. Adanya flora di dalam adalah untuk menjaga keseimbangan pH. Penggunaan vagina-douche malah dapat mengganggu kesetimbangan pH, sehingga bakteri-bakteri berkembang biak dan mengakibatkan infeksi, keputihan, aroma tak sedap, dll.

So, gurls, sudah jelas khan tentang serba-serbi feminine hygiene? Jangan sampai ya, kita termasuk cewek yang trendy, gaul, make up wah, tetapi untuk area privat malah dicuekin dan keluhannya macam-macam. Betul, kan? Toss dulu dooong  :mrgreen:

Advertisements

Personal Hiegyne dan Tampil Cantik

Gurls, masih inget khan tulisanku yang tentang kapan kita mengalami haid pertama dan disitu aku menyinggung sedikit tentang pendidikan seks. Jadi pengin nulis tentang gimana cara menjaga kebersihan pribadi.

Sebagai cewek, kita maunya selalu tampil menarik, khan? Termasuk didalamnya yaitu kita maunya tampil segar dan ga bau. Menurut kalian gimana, ada cewek cakep, cantik, dandanan oke, tapi setelah didekati ternyata bau badan. Atau dilihat lebih teliti, ternyata agak-agak jorok, dan itu tercermin dari bajunya yang agak kurang bersih dan bau, kuku yang kotor, gigi yang masih ada sisa makanan, dll. Ugh, ga tau pendapat para cowo, tapi aku sebagai sesama cewek aja bisa ilfil.

Kecantikan ga sebatas make up, dong, itu yang perlu disadari. Tampil oke juga ga sebatas baju bermerk, kan?

Terus apa dong, hubungan antara tampil cantik dan tadi sempat menyinggung tentang haid pertama? Ternyata nih, hubungannya erat lho. Dari artikel ini, dijelaskan bahwa sejak kita mengalami haid pertama, kita mengalami banyak perubahan. Perubahan fisik mencakup bentuk tubuh yang mulai membentuk (karena pengaruh hormon), juga tumbuhnya rambut-rambut halus di tempat tertentu (ini juga karena hormon), ples ternyata bau badan kita juga turut berubah lho. So, ini waktu yang tepat untuk belajar tentang personal hiegyene. Mana ketika kita mengalami masa puber, berarti kita memasuki masa remaja. Secara psikologis juga pasti berbeda. Menurut ahli psikologi perkembangan, di masa remaja ini kita mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis.

Jadi ga heran ya, ketika kita mulai beranjak remaja, penampilan mendadak menjadi fokus kita. Yang waktu kecil ga terlalu care ingin tampil cantik di mata orang lain, pada saat remaja mulai deh pengen tampil menarik. Nah, ngapain tampil dengan make up tebal dan baju branded kalau bau dan jorok? Iuugh banget, percaya deh.

Trus, apa aja dong yang mesti diperhatiin tentang personal hiegyene, terutama kita sebagai cewe?

Bau badan! Ga susah kok, yang penting rajin mandi dengan sabun yang sesuai dengan jenis kulit kita.

Tapi kenapa masih ada teman kita yang bau badan walau dia ngaku rajin mandi ya? Mungkin loh ya, kalau mengamati, kemungkinan doi rada-rada jorok. Misal nih, jarang ganti dalaman, jarang ganti baju, atau cara mencuci bajunya asal aja so malah bau baju jadi apek. Trus perhatiin, cara menggosok gigi. Bener kali, dua kali sehari, tapi masih bau mulut. Yang bener khan, habis makan dan sebelum tidur, plus lidah juga disikat. Cuci tangan juga nih, apalagi kalau habis dari toilet. Hukumnya w-a-j-i-b. Dan seperti yang udah aku sempet singgung, kalau lagi menstruasi, wajib juga tuh, sering-sering ganti pembalut, setiap lima jam gitu ganti.

Ada pertanyaan, vaginal douch atau sabun khusus kewanitaan itu perlu ga sih? Well, tentang menjaga kebersihan daerah intim kita dan khususnya selama menstruasi, aku tulis dalam satu postinganj khusus ya. Karena bakalan panjang.

Mitos Seputar Menstruasi

 

Sore itu sedang hujan. Duduk di samping jendela, sambil menghirup coklat hangat. Sendu menikmati rintik aliran air dari langit. Menghirup aroma wangi coklat, sembari hangatnya menenangkan menstrual cramp. Tiba-tiba nih, biar hujan tapi ga ada angin, seseorang yang lebih tua dariku memberi nasihat, “Kalau sedang menstruasi jangan keramas dulu, karena nanti darah yang keluar jadi sedikit.”

Mendadak bengong dengan nasihat yang tak pernah diminta barusan. Familiar dengan nasihat ini? Wah dasar ilmiahnya apa ya?

Karena penasaran, jadilah browsing-browsing. Ternyata, sodaraaaa….dari hasil browsing tersebut, nasihat di atas lebih berupa mitos yang telanjur dipercaya turun-temurun. Secara ilmiah sih, ga ada hubungannya, antara keramas dan volume menstruasi yang keluar.

Mitos tentang menstruasi ini, ternyata lebih banyak yang kita tahu, yang beredar di sana. Mungkin malah banyak diantara kita yang terlanjur mempercayainya. Agak sulit juga sih melacak dari mana asal mitos ini berasal. Bisa jadi kepercayaan jaman nenek kita, yang belum terbukti kebenarannya secara ilmiah dan lewat penelitian. Tapi terlanjur menyebar dan dipercaya.

Selain mitos jangan keramas, apa lagi sih, mitos-mitos menstruasi yang berkembang di daerahmu? Eh, bener lho, kadang tiap daerah punya mitosnya sendiri. Misal, tidak boleh makan ikan dan telur pada saat menstruasi karena bisa menyebabkan bau tak sedap/amis. Padahal nih yaaa, justru bagus banget makan ikan, telur, tempe, tahu, dll yang kandungan protein tinggi. Kalau tentang bau tak sedap mah, tergantung pada self-hygiene aja. Asal rajin membersihkan dan rajin ganti pembalut, ga ada cerita seperti di mitos itu. Atau kalau masih kurang pede, coba resep tradisional nenek moyang, jejamuan yang masih asli.

Selain itu, ada mitos aneh-aneh lainnya. Misal, perempuan yang sedang menstruasi dilarang untuk ikut berproses dalam pembuatan tape. Karena nanti tapenya bisa rusak/singkongnya ga jadi tape. Atau larangan menggunting rambut, menggunting kuku selama haid. Hahhhh, beneran mitos kalau ini.   😆

Coba didaftar yuk, mitos-mitos yang terkait dengan menstruasi dan kebenarannya:

1. Kalau ingin lancar menstruasi, minum soda.

Walah, malah baru dengar ini. Menurut situs kesehatan reproduksi ini, tidak ada hubungannya antara soda dengan lancar/tidaknya haid. Kalau dari segi kesehatan sih, malah sebaiknya mengurangi soda, apalagi kalau yang mengandung gula tinggi seperti soft drink. Lebih baik minum air putih. Bukan terkait langsung dengan lancarnya haid sih, tapi lebih ke kesehatan pada umumnya.

2. Tampon sebaiknya tidak dipakai oleh perempuan yang belum menikah.

Alasannya, bisa merusak selaput dara. Padahal nih, menurut situs ini, tampon aman-aman saja, asal tahu cara memakainya. Mungkin karena mitos ini juga, yang membuat tampon tidak populer dibanding pembalut biasa di Indonesia. Tips selebihnya sama dengan pemakaian pembalut, sering-sering ganti.

3.  Tidak boleh olahraga berat selama menstruasi.

Ini juga salah kaprah deh. Olahraga malah justru bagus, bisa mengurangi menstrual cramp. Kalau dirasa terlalu lemas, bisa kok olahraga yang ringan-ringan.

4. Selama menstruasi bisa bikin badan lemas, karena darah yang keluar.

Percaya gak, kalau selama menstruasi, darah yang keluar per hari sekitar 1-2 sdm. Kalau selama menstruasi, badan krasa kurang fit, selain olahraga ringan, dianjurkan untuk makan-makanan yang banyak mengandung serat, segar, kurangi garam, gula, kafein.

5. Siklus menstruasi yang normal 28 hari, dan lamanya 7 hari.

Waduh, kalau udah nyebut normal begini, ini juga salah kaprah. Siklus haid perempuan tak selalu harus 28 hari, walau memang rata-rata 28 hari. ada yang sampai 35 hari. Lamanya haid juga ada yang lima hari sudah selesai. Tetap makan-makanan sehat demi lancarnya menstruasi, plus rileksasi dan istirahat cukup supaya stress tetap terkendali.

 

 

Saran nih, gurls, daripada mempercayai mentah-mentah apa kata orang yang belum tentu terbukti kebenarannya, lebih baik tanyakan ke dokter yang memang ahlinya.

 

Dan lanjutannya gimana dong, yang ngasih nasihat untuk ga keramas tadi? Respon Jeung Vita bagaimana?

Pelan-pelan meletakkan mug berisi coklat panasku, tersenyum, mengundangnya untuk duduk bersamaku, aku mengeluarkan smartphone-ku, dan menunjukkan blogku ini dong.   :mrgreen:

 

Diet Anti Kram Perut dan Mood Swing

image

Kali ini ngomongin PMS lagi, secara pengalaman paling mutakhir tentang PMS betul-betul merepotkan. Nyaris selama sepekan aku terkapar tak berdaya karena fisik yang tak prima *hiks, lebay*. Jadi waktu itu lagi ngerjain proyek, setelah jam kantor, pintong ke kafe. Di kafe tersebut aku minum paling nggak dua mug capuccino. Baru pukul 20, pinggang rasanya yang mau patah. Pegel seperti habis ditibanin beban berat. Kepala juga rasanya pusing migraine, sampai mau muntah.

Karena sudah gak kuat, walau belum kelar dan belum jam 21, aku buru-buru pulang. Ternyata saudari-saudara, itu adalah awal dari sepekan penderitaan. Selanjutnya, pegal di punggung bertambah dengan rasa kram dan perih di perut. Malah ditambah diare. Pusing migraine ga hilang-hilang. Sariawan juga makin komplet. Haduh, sangat merepotkan.

Ketika aku mengistirahatkan tubuh agar ‘pemberontakannya’ mereda, aku baca-baca artikel kesehatan. Dari beberapa artikel tersebut, aku tiba-tiba tersadar bahwa gaya makanku beberapa waktu terakhir ini kemungkinan menyumbang PMSku memburuk. Bagaimana tidak, apalagi pada masa liburan. Kecenderungan untuk lebih ‘rakus’ daripada hari-hari biasa. Diet kaya serat jadi terlupakan.
Makanan berlemak dan berminyak, gula-gula, makanan olahan yang mengandung banyak sodium, olahan pati/tepung, kopi, malas makan buah dan sayur. Oooopss…

Menurut para pakar kesehatan dan nutrisi, gejala PMS bisa dijadikan pertanda akan status gizinya. Maksudnya, kita bisa menebak keadaan gizi seseorang baik/tidak dengan melihat gejala PMSnya. Hah, bagaimana bisa?
Tentu bisa, karena dipercaya bahwa makanan yang dikonsumsi alias nutrisi yang masuk, berpengaruh terhadap makin memburuk enggaknya gejala PMS. Karena itu, ternyata dalam makanan, kita musti aware apa yg boleh dan yang tidak boleh/dikurangi supaya PMS tidak memburuk.

Well, dari pengalaman pribadi membuktikan demikian. Sudah beberapa lama aku mematuhi diet makanan sehat. Aku memperbanyak sayur dan buah, mengurangi garam, mengurangi gula, menjauhi makanan olahan dan termasuk olahan dari pati/tepung, dan mengurangi lemak ‘jahat’. Hasilnya, aku sangat jarang mengalami gejala PMS yang merepotkan.
Tetapi kemarin-kemarin, ketika dietku terlalu longgar dan aku lalai, tak dinyana tubuhku langsung berontak. PMS selama sepekan lebih itu merepotkan dan sangat mengganggu produktivitas. Betul, tidak?
Apalagi jika emosi menjadi tidak stabil. Bisa melukai orang-orang di sekitar kita. Betul?

Oke deh, sebetulnya masih panjang kalau mau didetailkan. Di postingan ke depan saja, membahas makanan apa saja yang boleh dan tidak selama menstruasi. 😀

Sudahkah SADARI?

image

Akhir pekan ini aku termangu mendengar kabar teman lamaku. Kaget ketika tahu dia masuk rumah sakit untuk operasi pengangkatan tumor payudara. Untung tumor jinak, tapi tetap saja kaget dan speechless pas tahu. Karena sehari-harinya, kalau ketemu teman ini, dia sama sekali tidak menunjukkan gejala sakit. Sama sekali tidak. Tetap lincah, jalan-jalan backpacker kemana-mana, haha-hihi. Dia juga terkenal disiplin soal makan, tidak merokok, tidak suka dugem, pokoknya gaya hidup sehat banget deh.

Kaget banget dan bengong terutama kalau tahu gaya hidupnya temen lamaku ini. Jauh dari makan-makanan junk food, jauh dari polutan seperti rokok. Katanya dari keluarga jg tidak ada sejarah tumor/kanker payudara. Kok bisa kena tumor sih? Diam-diam aku cemas memikirkan kesehatanku sendiri. Apalagi ini mengenai aset berharga perempuan, payudaranya.

Dari ngobrol-ngobrol ketika aku menjenguknya, kecemasanku mulai berkurang. Obrolan yang sebenarnya lebih ke sharing tersebut, mulai membuka mataku. Apalagi melihat kondisi temanku pasca operasi, yang tetap cerah, ketawa-ketiwi, sama sekali tak tampak raut kesakitan pada wajahnya. Memang, sadar dengan tubuh kita sendiri adalah syarat utama untuk menjaga kesehatan. Mulai dengan mengenali betul-betul tubuh kita dan mendengarkan apa yang ‘dikatakan’ olehnya.

Terkait dengan tumor payudara ini, ternyata banyak juga kenalanku yang pernah mengalami. Hal ini terungkap ketika teman ini terbuka dengan kondisinya. Yang paling penting dilakukan adalah rutin melakukan SADARI atau periksa payudara sendiri. Karena temenku ini bisa cepat terdeteksi berkat rutin SADARI tiap bulan. Hapal dengan payudaranya, jadi ketika ada yang diluar kebiasaan langsung mudah dirasakan.

Mengenai SADARI ini ternyata masih banyak yang belum ngeh pentingnya melakukan hal tersebut. Padahal kanker payudara adalah pembunuh nomer 2 pada perempuan setelah kanker leher rahim. Bahkan ketika kami-kami mendengar paparannya, masih ada yang belum mengetahui apa itu SADARI. Juga diantara kami sendiri juga banyak yang belum melakukan rutin tiap bulan. Waktu terbaik melakulan SADARI adalah seminggu setelah menstruasi. Mengapa? Karena selain kondisi payudara paling lunak, jika menemukan benjolan pada masa sebelum haid, kemungkinan cyste atau benjolan kelenjar. Nanti akan hilang dengan sendirinya ketika haid selesai.

SADARI membuat perempuan lebih akrab dan hafal dengan tubuhnya, khususnya payudara. Kalau sudah hafal, mestinya lebih peka kalau ada yg diluar kebiasaan. Seperti bentuk puting yang tidak biasanya, asimetris, keluar cairan, adanya benjolan di bawah permukaan kulit, dsb. Langkah kedua jika menemukan sesuatu yang mencurigakan, segera konsultasikan ke dokter.

Tidak perlu panik atau takut. Justru kalau makin awal terdeteksi, makin besar kesempatan sembuh total. Menjaga gaya hidup sehat juga sangat membantu pemulihan kondisi fisik jika diharuskan tindakan operasi. Lebih cepat pulih, seperti temanku yang tak lama setelah operasi dapat beraktivitas seperti biasa.