Make Up: Yay or Nay?

Pernah liat cewe yang kecantikannya tersembunyi di balik make up tebal?

Ato mungkin  liat ibu-ibu yang keanggunannya tertutupi oleh riasan tebal yang malah membuatnya lebih mirip seperti Cruella De Vil?

Jadi inget Syahrini atau Krisdayanti. Siapa yang setuju mereka cantik tanpa make up-nya? Ha, ga ada yang setuju? Ya iyalah, secara mereka ga pernah tampil tanpa make up.  Aku kok berat banget ya, membayangkan sehari-hari tampil kemana-mana full make up seperti itu. *palmface*

Sebenarnya tujuan ber-make up itu apa sih?

Secara umum, bisa dibilang, cewe make up-an adalah untuk tampil cantik. Lebih khusus lagi, tampil cantik dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangannya. Misal, bibir tipis, dengan lipliner dilukis diluar garis bibir dan mengenakan lipstik dua warna (lebih muda dan lebih tua) untuk menampilkan bibir yang penuh. Atau dengan shading, menyamarkan garis rahang yang terlalu kotak. Atau menonjolkan mata yang indah, dengan warna-warna eyeshadow yang intens dan bulu mata lentik.

Kalau dipikir-pikir, ajaib juga ya kuasa make up. Hanya dengan menempelkan warna-warni tersebut ke kulit muka kita, dan ta-daaaa, penampilan yang langsung berubah. Jadi jauuuh lebih ‘cantik’. Konon, bintang-bintang Korea dan J-Pop, bisa begitu imut, unyu, dan menggemaskan cantiknya, berkat make up. Katanya sih, tanpa make up, wajah mereka biasa banget. Tapi sekali lagi ini katanya.

Trus, kalau benar make up untuk mempercantik, kenapa ada cewe pake make up tapi malah jadi serem?

Kuncinya padahal gampang lho, proporsional. Gitu aja. Segala sesuatu yang berlebihan itu ga bagus kan? Lagian, dari penelitian, terungkap bahwa persepsi orang terhadap cewe yang memakai make up berlebihan ternyata negatif. Cewe yang memakai make up berlebihan dinilai cenderung kurang bisa dipercaya, karena make up tebal mereka seperti menyembunyikan sesuatu.

Sedangkan tanpa make up sama sekali alias tampil polos ketika tampil/ada acara juga kurang menguntungkan. Kenapa? Duh, lebih salah, kurang salah. Maunya apa sih?  :angry:

Weits, sabar dulu. Mengapa tanpa make up sama sekali ternyata kurang menguntungkan untuk impression, karena orang cenderung menilai dia careless. Dan tambahan, kecuali kita secakep dan secantik top model/seleb-seleb, sepertinya tidak disarankan untuk tampil polos-los kalau ingin memberi impresi menarik.   :mrgreen:

Sebenarnya, tak usah lah kita alergi dan benci sama make up. Kalau alasannya adalah ribet, well, no pain no gain. Maksudnya, untuk tampil oke, memang dibutuhkan usaha. Ga bisa, hanya dengan diam tanpa melakukan apa-apa lantas ngarep kita bisa secakep Sienna Miller. Apalagi trus ngeluh-ngeluh menyalahkan Tuhan ga adil sama kita karena ga dikaruniai wajah se-perfect Kendall Jenner. Karena itu make up ada.   :mrgreen:

Make up dalam jumlah yang sewajarnya, flawless make up, yang ringan, sudah cukup kok untuk kita tampil sehari-hari. Kalau ada acara istimewa, barulah make up sedikit glamour.

Oia, yang sering dilupakan orang, mentang-mentang make up bisa menyembunyikan kekurangan kita, kita jadi memperlakukan make up seperti topeng. Maksudnya adalah, karena kita gak pede, minder, tidak bisa menerima diri kita apa adanya, lantas sembunyi deh kita di balik topeng make up. Tanpa make up, kita jadi insecure, ga pede, ga berani tampil. Padahal kunci paling hakiki *tsaaah bahasanya* dari kecantikan adalah inner beauty, kecantikan yang muncul dari dalam dan bersinar terpancar keluar. Percaya deh, Jeung Vita udah sering ngeliat cewe, yang sebenarnya cantik, tapi kecantikannya ga bersinar/ga tampil karena dia ga pede. Sebaliknya, ada cewe yang sebenarnya secara fisik biasa aja, tapi ada sesuatu yang bersinar sehingga di mata orang dia begitu menarik.

Advertisements

Pertanyaan Mematikan Bagi Kaum Pria

image

Beberapa hari lalu, ada kejadian lucu. Rekan kerja, sebut aja namanya Nina, dia memang peduli banget dengan penampilan. Dia datang pagi-pagi itu,  ada yang berbeda dengan penampilannya. Rupanya dia potong rambut dan rambutnya dikriwil-kriwil keriting. Sepanjang hari Nina sibuk bertanya ke kami, rekan-rekan cewek, gimana rambut barunya itu, oke gak. Well, you know what, mengutarakan dengan jujur apa pendapatmu tentang penampilan orang lain itu tidak mudah. Kamu butuh skill diplomasi tingkat  tinggi untuk satu hal ini 😛

Nina juga bertanya-tanya kepada rekan prianya. Nah rupanya soal beginian membuat para pria berada di posisi serba salah. Aku tahu hal ini ketika sedang break maksi. Aku makan di kantin gedung berdua dengan Dodi. Tiba-tiba Dodi menyinggung soal Nina.

“Tau gak, jeung Vit, aku tuh selalu bingung kalo ditanya cewek tentang penampilan. Mau jawab jujur, takut marah, kalo bohong dikira nyepik.”

“Hah, maksudmu, Nina jelek?” aku tertawa demi mendengar curcolannya.

“Bukan begitu, tapi aku jadi inget kalau ditanya cewekku. Misal, ketika dia tanya apakah dia gemuk. Kalau aku jawab, perutnya sedikit buncit, dia langsung sedih dan uring-uringan trus diet habis-habisan. Tapi kalau aku jawab kurus, dia juga cemberut dan ga percaya gitu aja. Lha aku harus gimana?”

Aku garuk-garuk kepala. Betul juga yah, aku sendiri kalau tanya gituan ke cowokku, mengharap dijawab gimana ya? Maunya sih dijawab dengan pujian dan mata berbinar, bilang bahwa aku sempurna, sexy,  cantiiiik, tidak ada yang mengalahkan, dan dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Hahaha, you wish, padahal tahu bener itu gombal.

Dodi melanjutkan curcolannya, “Kamu tahu ga sih, Vit, cowok itu capek dengan perempuan yang insecure dan gak pede. Aku itu bingung mesti jawab gimana, kalau hadir di suatu event dan cewekku dandan abis  tapi dikit-dikit nanya, aku cantik ga Yang, ini rambutku cocok ga diginiin, bajuku bikin keliatan gendut ga, bla-bla-bla, aduuuhhh.”

Aku bisa membayangkan apa yang dicurcolkan Dodi. Tapi yah gimana lagi, aku bisa paham perasaan ceweknya. Ketika ingin tampil perfect sempurna di suatu event, dengan riasan dan dandanan yang beda dari biasanya. Memang jadi kurang pede, kuatir tampak aneh, kuatir kalau riasannya luntur dan membuat yang sempurna jadi berantakan, dsb.

Tapi terus-terusan bertanya kepada sang pacar,  hanya supaya diyakinkan itu juga menunjukkan betapa tidak pedenya kamu. Trus, kalau sang pacar ‘memuji’ bahwa dirimu sudah sempurna, tercantik, tiada cela, apakah lantas membuat jadi lebih tenang gitu, walau dalam hati kecil mungkin tahu itu gombal. Yeah, bisa jadi lho yang dilontarkan pacar itu hanya untuk ‘membungkam’ supaya tidak riwil. 😛

Jadi gimana, kalau bertanya kepada pasangan kita, “Yang, aku gemuk yah? Aku cantik nggak sih?” itu memang benar untuk mencari masukan atau lebih sebagai ungkapan insecure  ketidakpercayaan diri kita?

Yang jelas sih, itu pertanyaan mematikan bagi kaum adam. Lebih baik tidak menempatkan Yang Tersayang tidak di posisi buah simalakama :mrgreen:

Kalau hanya untuk mendapatkan rasa nyaman/diyakinkan, sepertinya lebih baik memoles percaya diri kamu duluan deh daripada memoles penampilan. Yakin deh, pasanganmu akan lebih respect dan kagum. Betul, gak? Yang kaum adam bagaimana tanggapannya?

Menyiksa Diri Demi Tampil Cantik, Mau?

Masih tentang kecantikan. Have you girl (and boys) ever noticed, perempuan rela untuk menyiksa diri demi tampil cantik. No pain no gain, demikian kata mereka. Tidak percaya? Lihat perempuan sekitar anda.

Paling gampang, perhatikan sepatu yang mereka pakai. Pernah berpikiran tidak, bagaimana rasanya berjalan kaki bahkan berlari-lari mengejar angkutan kota dengan high heels? I told you, gue pernah ngerasain kaki gempor letoy serasa habis jogging keliling kabupaten, gara-gara jalan-jalan mengitari kuta square pake high heels 7cm. Alasan kenapa waktu itu pakai high heels, biar matching dengan bajunya dan sepatu high heels memberi kesan kaki jenjang dan seksi.

Contoh lain, ketika menjalani facial yang komedo dicutik pakai ‘alat penyiksaan’ semacam jarum yang menggilas permukaan kulit kita. Atau ketika waing, wah jangan ditanya bagaimana rasanya bulu-bulu nan nakal itu dicabut secara paksa.

Seringkali demi kecantikan, perempuan (waria juga sih, pokoknya demi tampil cantik deh) rela menjalani proses yang beresiko tinggi dan membahayakan keselamatan dirinya. Sudah pernah mendengar kan, berita pasien meninggal karena praktek salon kecantikan ilegal. Mereka meninggal karena menjalani suntik silikon yang tidak bertanggung jawab dan tidak dibawah pengawasan dokter yang kompeten dibidangnya. Atau yang cacat wajahnya, rusak, karena lagi-lagi silikon, kosmetik pemutih wajah yang ternyata mengandung bahan berbahaya, ginjal rusak karena mengkonsumsi obat-obatan pelangsing yang ilegal, dll.

Biasanya karena tidak didukung pengetahuan & wawasan yang cukup, banyak temen-temen gue yang melakukan ‘penyiksaan’ kecil-kecilan. Misalnya nih, pengin kurus tapi caranya diet kurang tepat. Misal, Cuma minum air putih dan buah, mengurangi porsi makan secara drastis yang sehari dua kali makan, dll. Padahal, kalau udah tahu esensi diet dan how to eat right and properly, yang namanya diet sama sekali tidak menyiksa.

Banyak juga yang maunya tampil cantik, tapi instan. Paling keliatan kalo liat orang dengan make up tebel. Maunya cantik, tapi entah kenapa jadi serasa liat ondel-ondel. Maunya dia, make up tebel untuk menutupi noda jerawat, kerut, dsb. Apalagi waktu liat doi polosan tanpa make up. Huaaa….kok malah jadi serasa…. Dan akhirnya, ybs makin gak pede untuk tampil flawless, makin tenggelam dibalik pulasan topeng make up.

Memang sih, no pain no gain. Setiap perempuan itu cantik, itu juga bener. Tapi, supaya cantiknya itu bisa lebih ‘keluar’, menonjol gitu, juga butuh usaha. Usaha juga jangan diartikan dengan penyiksaan. Usaha itu proses, bener ga?

Lebih milih mana, cantik pada masa sekarang, tapi bertahun-tahun kemudian kulit makin kisut kering bermasalah, badan juga sakit-sakitan, karena upaya penyiksaan. Atau prosesnya memang lama baru keliatan hasilnya, tapi sampai bertahun-tahun mendatang tetep masih keliatan awet muda nan mempesona.

Mau dong, sampe usia 50 tahun tapi masih tetap mempesona, langsing, bahkan seksi seperti Michelle Obama. Itu yakin bukan karena usaha instan, tapi hasil dari apa yang sudah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.

Apa Sih Artinya Cantik?

Saat lunch bareng dengan seorang teman beberapa waktu lalu, ada beberapa hal yang membuatku makin tertarik mengamati serba-serbi kaumku, perempuan. Sebuah dunia yang sangat lekat dengan perempuan, yaitu kecantikan. Pertanyaannya kali ini adalah, mengapa perempuan sering sekali merasa insecure alias nggak PD dengan kecantikan mereka.

Aku dan Desi sudah 10 tahun tidak bertemu. Dulu ia teman sebangku di SMP, dan seingatku ia dulu gemuk, pemalu, rambutnya keriting. Kini ia berubah menjadi sosok yang modis dan wangi seperti layaknya perempuan urban. Tubuhnya semampai, langsing, rambut ikal tergerai panjang, dan kulit sawo matang yang mulus tak bernoda. Ketika kami ke toilet untuk touch up, aku mendengarkan keluhan Desi ketika mengaca.

“Aduuuh, ini hidung kok pesek bener sih. Gimana supaya bisa bangir ya…trus coba deh, liat payudaraku. Dari dulu ga banyak perubahan. Masak sama ama dada anak SMP, malah anak SMP sekarang banyak yang montok-montok. Apa musti ke Tokyo untuk operasi boobs ya, biar seperti Malinda Dee,” selorohnya.

Aku nyengir dan teringat pengalaman tiap pergi ke rest room di mall atau bioskop. Apa yang aku lihat disitu adalah perempuan-perempuan insecure. Setiap kali mengaca, selalu yang dilihat adalah kekurangannya. Yang jerawatanlah, yang bulu matanya kurang lentik lah, kulit berminyak, yang perut buncit lah dll. Bahkan seorang perempuan yang menurutku sudah sempurna, seperti Desi ini, juga mengeluh ketika berhadapan dengan cermin.

Iseng aku tanya Desi, memangnya sosok yang cantik itu yang seperti apa, yang bagaimana.
“Aduh bok ya, yang cantik itu ya yang kulitnya putih mulus, rambutnya luruuuus halus panjang, hidung mancung, perut rata, ya seperti di majalah dan tipi itu lah.“

“Lah elu biar ga putih tapi kan mulus gitu lho, bersih ga ada jerawat ato bekasnya. Rambut elu jg biar ga lurus tapi bagus, potongan yang sekarang cocok tuh ama wajah.”

“Eh gue mo smoothing ini rambut kok, biar bisa diponi. Jidat jenong gini, malu-maluin aja. Tapi masalahnya kalo rambut kriting gue diponi, yang ada malah rambut saru tuh. Tau dong, rambut saru. Itu tuh, rambut yang ada di tempat-tempat saru, hahahaha.”

Aku ketawa demi mendengar istilahnya, “Yah tapi kalo dilurusin, ilang dong eksotisme elu. Btw apa sih resepnya biar langsing? Errr…tapi dulu jaman SMP kan lu endut.”

“Hah, kek gini dibilang langsing? Aduuuhhh ini perut masih buncit, paha bisa buat gebug maling gitu. Aku diet keras, Vit, ples suntik.”

Aku manggut-manggut mendengar uraiannya.

Kadangkala tak habis pikir kalau denger seorang perempuan cantik ngoceh betapa ia tidak cantik, tidak sempurna, bla-bla-bla. Duh, gemes tauk. Bagaimana bisa ia tak menyadari kelebihannya dan mengukur dirinya dengan standar model & bintang iklan. Kalau semua harus diukur dengan standar bintang iklan, yang kulit harus putih, rambut harus lurus, perut harus serata papan penggilesan, dll yaaaa tenggelam dong. Lalu bagaimana dengan sosok mereka yang dikaruniai kulit hitam, rambut keriting, hidung pesek, pendek, dll. Apakah harus merogoh kocek untuk operasi plastik demi tampil cantik sesuai standar majalah televisi?

Padahal kalau ditanyakan ke pria-pria, tak semua pria menjawab yang cantik itu yang kulit putih. Macam semua pria seperti di iklan pemutih saja, hanya terpesona dan pasrah begitu si cewek menjelma jadi putih. Beauty is in the eye of beholder. Menurutku, Au Sang Sun Kyi itu cantik. Apakah ia tampil bak bintang iklan? Tidak. Ia adalah aktivis perjuangan HAM Myanmar, dan sudah berusia lebih dari 45 tahun. Christine Hakim, di usianya yang matang ia tetap terlihat cantik.

Cantik yang sempurna itu tiap daerah, tiap masa, berbeda. Gak percaya? Coba saja perhatikan majalah-majalah perempuan dari luar negeri. Mereka mengagumi dan memuja kulit sawo matang yang terbakar matahari. Menurut mereka, kulit kecoklatan karena sinar matahari itu seksi. Karena itu tak heran, ada salon untuk tanning. Malah pernah nonton di Oprah Show, standar kecantikan di suatu negara di Afrika adalah gemuk. Jadi perempuan cantik itu yang gemuk dan berbadan besar.

Definisi cantik juga ditentukan oleh tren suatu masa. Misal, di Cina kuno hingga awal abad 20, kaki yang kecil pada perempuan dinilai sangat feminin, thus kaki kecil itu cantik. Karena itu praktek ‘penyiksaan’ demi mendapatkan gelar cantik, dilakukan sejak dini. Kaki dibungkus rapat-rapat bahkan dengan sepatu besi, sehingga kaki tidak tumbuh sempurna. Akibatnya, perempuan dengan kaki kecil tersebut tak akan kuat berjalan-jalan jauh. Bahkan jika membaca link ini maka jelas terdokumentasikan, bahwa trend kecantikan selalu berubah-ubah, dari masa kitab perjanjian lama hingga masa sekarang ini.

Jadi, mengenai merasa cantik, boleh lah kita meniru sedikit para pria kalau mereka berkaca. Pernah memperhatikan, kelakuan para pria jika sedang mengaca? Mereka selalu memperhatikan kelebihannya, memamerkan lengannya, perutnya, dll. Intinya percaya diri. Kedua, penerimaan diri.
Jadi kalau dipuji cantik, ya terima saja kalau memang cantik, meski kulit tidak putih, rambut tidak lurus, hidung kurang bangir. Berhenti ingin menjadi orang lain, dan menerima apa adanya kalau dari sononya sudah cantik seperti apa adanya.

We are beautiful for what we are. Kalau menurut confucius, everything has beauty, but not everyone sees it. Teman-teman setuju nggak?

Lagu Paling Inspiratif

“Sometimes I shave my legs and sometimes I dont
Sometimes I comb my hair and sometimes I wont
Depend on how the wind blows I might even paint my toes
It really just depends on whatever feels good in my soul

I’m not the average girl from your video
And I aint built like a supermodel
But, I learned to love myself unconditionally
Because I am a queen
I’m not the average girl from your video
My worth is not determined by the price of my clothes
No matter what I’m wearing I will always be India Arie”

Itulah petikan lirik lagu favorit saya sepanjang masa. Judulnya Video, penyanyinya India Arie. Saya suka lagu itu terutama karena liriknya meneriakkan apa yang ada di kepala ratusan ribu, mungkin jutaan, perempuan muda di dunia termasuk saya.

Jutaan perempuan di dunia mempermak penampilannya dengan berbagai cara, demi sebuah konformitas pada pencitraan yang diciptakan manusia dan disebarkan melalui media. Iklan berbagai produk, mulai dari sabun mandi sampai oli, menampilkan perempuan-perempuan dengan bentuk fisik yang seolah tidak ada cacatnya. Begitu pula film, televisi, internet dan media lain. Para model itupun cenderung mengenakan baju yang sedang tren saat itu.

Apa iya semua perempuan harus tampil demikian?

Saya setuju banget, bahwa saya bukan tipikal perempuan dalam video itu, saya pun tidak terlahir dengan postur bak super model. Tapi saya belajar untuk mencintai diri saya apa adanya, meski dalam proses pembelajaran ini sering jatuh bangun. Ada kalanya saya begitu mensyukuri apa yang ada di diri. Namun tak jarang saya merutuki dan berangan-angan seandainya kulit saya lebih putih atau tulang pipi saya lebih tinggi.

Jika rasa gelisah mendera, satu hal yang tidak boleh lupa. I’m counting my blessings. Tak ada yang lebih menenangkan dari pada rasa syukur atas apapun yang saya punya. Maka, mencintai diri sendiri bagi saya adalah sebuah proses yang mungkin tiada henti.

Cantik Itu Mahal?

“10 Juta menguap gitu aja!”

Itu adalah SMS dari ibu saya yang tinggal di luar Jawa, kemarin pagi. Saya pun terserang panic attack tingkat ringan karena sebelumnya beliau kemalingan, HP yang saya berikan dicuri orang. Tak disangka, beginilah jawaban ibunda: Ilang di kantongi dokter! Lah pipiku kempot peyot meneh, ra ono bedane babar blas! (Pipiku kembali kempot, nggak ada bedanya sama sekali!)

Oalaaah… rupanya beliau tengah menyesali hasil suntik lemak yang dilakukannya saat berkunjung ke Jakarta pekan lalu. Ceritanya, ibu saya di usianya yang ke-59 tahun merasa pipinya kempot-peyot, sehingga perlu dipermak. Pergilah beliau ke salah satu klinik kecantikan ternama di Radio Dalam, sendirian. Sang dokter memeriksa ibu saya dan menyarankan prosedur fat transfer cheek augmentation alias sedot-suntik lemak. Jadi, lemak di bagian perut/paha disedot secukupnya lalu disuntikkan di pipi. *glek*

Pak dokter sempat kesulitan mencari lemak di perut ibu, karena memang beliau kuyuuuus yus! Namun, dalam hitungan jam, pipi ibu sudah montok persis seperti keinginannya. Ibu pun bahagia. Saya? Well… mixed feeling.

Menyambung tulisan Beauty is Pain sebelumnya, sebenarnya nggak terlalu setuju tapi ibu dari dulu terbiasa mengambil sendiri keputusan dalam hidupnya, jadi pendapat saya nggak ngaruh banyak. Saya coba liat sisi positifnya, ikut seneng liat ibu seneng. Ya toh?

Tiga hari berlalu. Ibu sudah mau pulang ke kotanya. Sambil bercermin, ibu curhat kalau pipinya kok agak kempes ya? Oooh.. mungkin waktu itu masih ada pengaruh anastesi-nya jadi montok banget, jawab saya. Lagi pula, dengan kondisi agak kempes gini malah terlihat natural tapi masih kenceng kok Bu… imbuh saya, jujur sekaligus menghibur.

Seminggu berlalu. Ibu sudah pulang ke kotanya. Dan datanglah SMS itu. Beliau menyesal menyuntik pipinya… Saya menjawab SMSnya dengan “Mending uangnya dibeliin blackberry, dapat dua” karena ibu memang pengin punya BB. Jawaban yang kemudian agak saya sesali, karena kesannya kok saya tega ya?

Ibu saya membalas begini: “Iya, aku nggak mau neko-neko lagi..”

Nyeeess… ada segores rasa ngilu di dada saya. Itu persis ucapan saya belasan tahun lalu, saat saya dimarahi ibu krn langsung main sepulang sekolah sampai malam dan dicari-cari ibu sepanjang hari.

Modis vs Fungsional

Seorang ibu muda yang modis melenggang di lorong mall, menenteng handbag Gucci di tangan kanan dan tas belanja Zara di tangan kiri. Blus sifonnya halus melambai, seiring kakinya yang melenggang santai mengenakan stiletto setinggi 9 senti. Busana modis, tata rambut stylish, rias wajah pun kinyis-kinyis.

Saya suka sebel melihat pemandangan macam ini, terutama di akhir pekan. Bukan soal dandanan atau belanjaannya, tapi karena apa yang terlihat persis di belakang ibu muda itu. Seorang baby sitter menggendong bayinya, kira-kira umur 1 tahun lebih dikit. Dan di berbagai mall ultra modern di Jakarta, duet ibu muda dan baby sitter macam ini adalah pemandangan biasa.

Wahai ibu-ibu urban, tidakkah sebaiknya si bayi berada dalam gendonganmu dan sang asisten menenteng belanjaan? Saya memang belum punya anak siiih…. Tapi saya berani bilang, punya anak harus siap dengan sederet konsekuensi. Salah satunya, menyimpan handbag mungil di lemari dan menggantinya dengan tas multi fungsi. Tetep bisa trendy kok.. Pilih saja Le Sport Sac, Kipling, atau andalan saya dalam segala suasana, Crumpler! Nggak harus bermerk juga, banyak tas-tas keren untuk memuat aneka perlengkapan balita yang memang ribyek itu.

Menggendong anak bikin baju jadi kusut? Ya memang. Untuk itu diciptakanlah aneka model baju kasual yang biarpun sedikit kusut tetap enak dilihat. Sepatu dan selop hak tinggi juga saatnya dikasih cuti, simpan di lemari. Banyak model sepatu teplek, mokasin bahkan sendal jepitpun bisa tampil trendy dan bergengsi.

Saya sama sekali nggak bermaksud jadi fashion police (dan memang nggak kompeten juga siiih…), cuma ‘gerah’ aja lihat yang beginian. Kalau memang niatnya pergi bawa anak, mbok ya dandanan disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya biar bisa leluasa mengejar kalau si kecil berlarian di lorong mall. Kan lain waktu pas pergi nggak sama anak bisa dandan pol dan suka-suka?