Infeksi yang Feminin

 

 

Wiken kemaren, hangout bareng temen-temen cewek di salah satu mall di Jakarta. Ada yang kita komentari dari mall tersebut yang menginspirasi postingan ini. Toilet umumnya, yep. Bikin kita cewe-cewe rempong deh. Habis gimana dong, tissue toilet abis ga dipasang. Wastafel, sabunnya abis ga ditambah. Toilet-toiletnya juga basah, ga cepetan langsung dipel supaya kering gitu. Selain menyayangkan pengelola yang kurang care terhadap kebersihan toiletnya, juga gemes geregetan ama pengguna toilet itu sendiri. Itu kan milik bersama, kok bisa-bisanya jorok dibawa-bawa, ga mikirin orang lain? Padahal antara cewe, buang air, feminine hygiene, kesehatan reproduksi, dan toilet umum itu saling berkaitan loh. Gimana engga, kalau toilet umum tidak mendukung feminine hygiene, lalu gimana dengan kuman-kuman bertebaran di situ? Iiiihhh… Padahal yang namanya buang air kecil itu panggilan alam yang kalau ditunda-tunda malah bikin sakit.

 

Dari situ, jadi kepikiran tentang infeksi pada organ intim kita. Well, gurls, sebagai perempuan, kita harus loh ya, care pada organ reproduksi kita. Karena letaknya di dalam dan ga keliatan, so kita musti lebih aware dan care. Terkait dengan postingan kemarin, sempat aku singgung-singgung tentang vaginosis. Vaginosis apaan sik?

Vaginosis adalah (hasil dari baca-baca, tentu aja) infeksi pada vagina, sebab tidak spesifik, disebabkan oleh bakteri (umumnya bakteri Gardnerella), dan ditandai dengan aroma tak sedap pada vagina dan cairan vagina yang abnormal. Bacterial vaginosis ini biasanya penyebabnya adalah suasana lingkungan keasaman pada vagina yang berubah (normalnya tingkat keasaman/pH vagina adalah 3,8-4,5). Jika tingkat pH ini berubah, maka keseimbangan micro-organisme di dalam vagina bisa terganggu. Micro-organisme ‘jahat’ bisa berkembang biak melebihi jumlah micro-organisme ‘baik’ (yaitu Lactobacillus), dan, baaaang terjadilah infeksi.

 

Ternyata, infeksi pada vagina (jadi kenapa pake judul seperti di atas, karen infeksi ini menyerang organ feminin kita  :mrgreen:   ) ada tiga jenis:

1. Bacterial vaginosis

Seperti yang udah dijelasin di atas. Bakterinya sendiri bisa bermacam-macam ga cuma Gardnerella, tapi juga Mobiluncus, Bacteroides, atau Mycoplasma (duuuh namanya kok cakep-cakep yaaa).

Karena bersifat tidak spesifik ini, sulit untuk menebak secara pasti penyebabnya. Bisa saja berupa direct expose terhadap bakteri ‘jahat’, perubahan hormon seperti misal pas hamil/menopause, sexually transmitted disease, sedang sakit, stress, sabun yang terlalu keras, improper diet, dan metode kontrasepsi.

2. Infeksi jamur

Hah, can you imagine, ada jamur di dalam vagina kita? 😯

Tenang gurls, itu normal kok. Memang ada jamur/yeast/fungi di dalam vagina kita, tetapi dalam jumlah yang sedikit. Ketika jumlah jadi banyak, terjadi yang disebut infeksi. Umumnya jamurnya adalah candida albicans, yang menyebabkan keputihan.

Kalau keputihan ini tanda-tandanya berupa cairan yang keluar dari organ intim kita berwarna tidak seperti biasanya, kadang disertai gatal. Sebaiknya sih, tidak mengobati sendiri, tetapi berkonsultasi dengan dokter (biasanya dengan dokter kandungan atau dokter spesialis kulit dan kelamin sih?)

3. Trichomoniasis

Nah kalau infeksi yang satu ini disebabkan oleh protozoa. Infeksi jenis ini sifatnya lebih serius daripada kedua infeksi di atas, butuh penanganan dokter secepat mungkin. Tapi walau dua infeksi sebelumnya tidak seserius infeksi trichomoniasis ini, tetep loh ga bisa dianggap enteng dan kemudian mengobati sendiri.

 

Trus apa dong yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Nah, terkait dengan postingan sebelumnya, salah satunya adalah menjaga feminine hygiene.

1. Mengenakan celana dalam yang terbuat dari katun/menyerap keringat. Karen sangat penting untuk area feminin kita, tetap kering dan bisa bernapas. Area feminin yang lembab adalah surga untuk tumbuhnya micro-organisme ‘jahat’.

2. Jangan memakai vaginal douche atau sabun khusus kewanitaan. Karena vagina pada dasarnya bisa membersihkan dirinya sendiri, dan penggunaan sabun-sabun seperti itu malah bisa merubah tingkat pH kita.

3. Hindari memakai celana ketat terlalu lama.

4. Kalau misal sudah terjadi infeksi, jika terasa gatal, jangan digaruk. Digaruk akan memperburuk infeksi.

5. Perhatikan cara membasuh organ intim kita yang benar, yaitu dari depan ke belakang. Sesudahnya keringkan.

6. Jika sedang menstruasi, sering-sering mengganti pembalut.

7. Proper diet.

 

Yang perlu diperhatikan, vaginal infection tidak selalu disebabkan oleh poor feminine hygiene. Tetapi kalau kita terbiasa care dengan feminine hygiene kita, ada tiga manfaat yang bisa kita dapat:

1. Paling tidak kalau terbiasa memperhatikan kewanitaan kita, kita jadi aware kalau ada perubahan di sekitar organ intim kita.

2. Kalau kita terbiasa jorok dan tidak care dengan feminine hygiene kita, ada dua hal yang bisa terjadi: terkena infeksi atau kalau sudah terkena infeksi, maka infeksinya bisa makin parah.

3. Tindak pencegahan, alias memperkecil resiko.

 

So gurls, be beautiful inside out yah…. Cantik yang holistik, gitu *tsaaahhh istilahnyaa* :mrgreen:

 

Advertisements