Emotional Eating

 

Kemarin bener-bener having a bad day deh. Pagi bangun kesiangan, grusa-grusu dan ga sempet keramas. Padahal udah ga keramas udah tiga hari, gara-gara lembur terus dan tiap pulang udah kecapekan. Bad hair day, rambut dikuncir buntut kuda (nyaris nulis poni kuda, gegara latah pony tail, padahal poni kuda kek apa kan jauh banget dari buntut kuda).  :mrgreen:

Hari itu emang jadwal meeting ama klien, untuk presentasi apa yang udah dilemburin berhari-hari. Eeeh, pas udah siap mo presentasi, listrik mati dong. Cakep banget. Sia-sia deh lemburan kemarin. Udah gitu, klien kali ini agak riwil. Nanya-nanya hal yang menurutku ga penting dan remeh, bukan inti dari presentasiku.
Kringetan antara karena AC mati, grogi-grogi bete, dan stress.

Kelar presentasi, ughhh rasanya pengen melampiaskan dendam kesumat. Dan yang kulakukan adalah pergi ke tempat makan. Aku pesan pho yang citarasanya pedas asam, dimakan panas-panas. Ajaib, porsi yang bisa untuk berdua, habis oleh aku seorang. Itupun masih ketambahan spring roll dan es cendol.

Hwaaaaa…setelah kekenyangan, baru deh sadar. Aduh, aku makan berdasarkan dorongan emosi. Nyesel tiada guna. Kenapa aku tak bisa memenej emosiku lebih baik, dan malah justru melampiaskan pada makanan?

Gurls, ada diantara kalian yang pernah mengalami kejadian barusan?
Aku kasih contoh deh, emotional eating yang sering kulakulan. Misalnya nih, pas bosan/stress. Ga laper, sama sekali enggak. Tapi dorongan untuk mengunyah yang asin-asin atau gurih, besar sekali. Jadilah gorengan, snack-snack asin bersodium tinggi, jadi pelepasan mood.

Mungkin ada, yang pelariannya ke makanan manis, seperti eskrim, donat, cupcake, etc. Jadi kalau lagi sedih, besar dorongan untuk ngemil yang manis-manis.

Ga heran sih, kalau tahu cara kerja otak dan kandungan makanan tersebut. Jadi ketika kita sedang stress, otak melepaskan hormon stress. Sedangkan makanan yang mengandung gula dan karbohidrat sederhana, mampu memicu pelepasan hormon dopamin yang memberikan efek senang. Jadi paham kan, kenapa junk food pada saat kita sedang tidak enak hati, sangat menggoda padahal kita tidak lapar.

Well, ada cara sehat kok, untuk solusinya. Seperti aku udah sebutkan diatas, memang akarnya ada pada kemampuan kita memenej stress dan rasa kecewa. Karena kalau kita tak bisa, mungkin saja pelariannya tak hanya makanan tapi belanja *familiar banget ini mah*.   :mrgreen:

Kedua, kalau kita kesulitan mengendalikan emosi kita, ada kok alternatif makanan yang efeknya sama dengan junk food tadi. Misal pisang, jeruk, strawberry. Buah-buahan tersebut menurut ahli adalah food mood, alias bisa mempengaruhi mood juga.

So, gimana gurls? Masih kesulitan mengatasi emotional eating?

Btw, ternyata klien yang tadi nanya-nanya riwil, naksir akuuuu. Karena karena karenaaaa, dia meminta nomerku dan mengajakku makan malam, in privat, di luar konteks kerjaan.
Haduh, sekarang sumber stressnya gantian deh, hihihihi.

Advertisements

6 responses to “Emotional Eating

  1. ??? makan itu untuk orang lapar…ok? tidak lapar jangan makan…stress diatasi dengan optimis dan instropeksi… posisikan diri pada orang lain…kalau makan dijadikan pelarian…kita tinggal menunggu penyakit degeneratif menggerogoti diri kita.. dan penyesalan sudah terlambat..ok???

    • yups, kalau makan krn emotional eating dan sifatnya impulsif gitu, selain kita jd rentan penyakit degeneratif, obesitas, juga menunjukkan bahwa kita kurang mempunyai kematangan kepribadian 😀

      kalau ga cepet2 dikelola, bisa menjurus ke adiksi/ketergantungan.

  2. Aahhh… posting ini ngejelasin knp daku suka mendadak pengin makan keripik kentang gitu kalo lagi suntuk! Duhuhuhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s