Empowering Ourselves

 

Membaca berita tentang perkosaan terhadap seorang karyawati di angkot beberapa hari lalu, terus terang bikin kuatir deh.

Rasanya jadi diingatkan kembali bahwa yang namanya keamanan masih berupa barang langka. Belum lagi membaca reaksi orang-orang, rasanya kok makin seram saja ya. Menjadi korban saja sudah sangat sulit, ini masih disalahkan oleh orang lain.

Ketika browsing-browsing, menemukan artikel ini dan ternyata memang mitos tentang perkosaan tidak hanya berkembang subur di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Barat. Mitos perkosaan itu apa sih? Gampangnya, seperti reaksi orang-orang dari berita pemerkosaan tersebut. Berapa banyak yang menyalahkan si korban karena bajunya. Yap, adalah salah satu mitos bahwa perkosaan dikarenakan baju.

Dari artikel tersebut, psikolog forensik, Karen Frankling menguraikan beberapa mitos perkosaan yang berkembang di negara-negara Barat;

1. Pelaku perkosaan dan pelecehan sexual adalah orang jahat.

Definisi orang jahat ini yang membingungkan, karena nyatanya pelaku bisa jadi adalah orang-orang yang kita kenal. Teman, saudara, tetangga, karyawan kita,

2. Lelaki tidak bisa mengkontrol nafsunya.

Dampak dari mitos ini adalah, perempuan yang selalu disalahkan kalau terjadi tindak kesalahan/pelecehan.

 

Wew, ternyata mitosnya kok sama ya ama yang berkembang dan dipercaya di sini. Trus bagaimana dong? Apa yang bisa kita lakukan?

Aku suka campaign dari Wellington Sexual Health Services yang bekerja sama dengan Kepolisian New Zealand berikut. Idenya adalah, kita semua bertanggungjawab atas keselamatan orang-orang di sekitar kita. Bertindak sedikit lebih peduli, seperti ditunjukkan dalam video tersebut, ternyata mampu mengubah hidup seseorang, mampu menyelamatkan seseorang. Kalau dari statistik di New Zealad, 1 dari 4 perempuan mengalami kekerasan seksual, sedangkan laki-laki 1 diantara 20 pernah mengalami penyerangan/kekerasan seksual.

Hii, seram ya. Dan angka tersebut konon masih mengandung fenomena gunung es, karena bisa jadi korbannya lebih banyak tapi tak berani melapor. Kita musti memberdayakan diri sendiri nih, untuk mencegah kejahatan terjadi. Dari situs ini, ada banyak hal yang bisa kita lakukan, misal:

  • Jika harus bepergian pada malam hari, jangan sendirian, carilah teman.
  • Jika harus bepergian malam hari dengan angkutan umum sendirian, naik taxi yang terpercaya, dan catat nomer taxi beserta nama pengemudinya. Informasikan ke teman-teman.
  • Jika naik bis/kereta, dan curiga seseorang mengikutimu, waspada. Tunggu sampai dia turun duluan, atau turun di tempat yang ramai. Minta supir bis untuk menepi di kantor polisi kalau bisa.
  • Jangan sembarangan memberikan informasi yang sifatnya pribadi apalagi di publik area.
  • Benda-benda seperti kaleng cologne atau botol parfum atau peniti, bisa menjadi alat pertahanan diri.
Okay, gurls, tetap waspada dan juga keep on eye on your mate. Be responsible for the safety of those around us. Sedikit kepedulian bisa menyelamatkan seseorang dari tindak kejahatan.

 

 

Advertisements

2 responses to “Empowering Ourselves

  1. yg bisa kita lakukan adalah antisipasi dan sanksi… kjahatan terjadi bukn hny krn niat pelaku atau krn adanya kesmpatan tpi juga ada faktor atau sbb lain yg berasal dari sikorban. kita analogikan saja misalkan korban memakai perhiasan d tmpat umum sdg kn qt tahu bhw kcnderunga kriminal masyrakat kita masih sgtlh besar tdk musykil jk org tsb adalah calon korban yg mnantang n mmpersilakn diri untuk d rampok, jambret, dsb.
    tidak beda dgn apa yg mnyebabkn pemerkosaan.. selain sebab eksternal (pelaku ygtak mmpu mngontrol syahwat/nafsu) pnyebab internal (korban) juga terlibat misalkn calon korban d tempat ramai atau sepi memakai baju yg “menantang” atau terbuka yg secara kodrati atau manusiawi bisa membuat pria terangsang hasrat seksualnya. tentu saja jika sdh ada niat n tunggu kesempatan d tambah adanya target gratis, mk pemerkosaan bisa saja terjadi.
    antisipasi ini lebih d tekankan pada korban (perempuan) untuk tdk sembarangn memakai busana yg terbuka apalagi indonesia adlah negeri timur yg masyarakatnya cenderung tertutup dlm berbusana. bukan masyarakat barat yg mmbebaskn berbusana bhkn tdk melarang telanjng d dpn umum bhkn mndapat bayaran serta mreka pun tdk tkut d perkosa bhkn ingin dperkosa (bergonta-ganti pasangan seksual). dan sangsi hrus tegas agar tdk terulng kmbli misalkn pemotongan buah zakar bgi para pelaku pemerkosaan tntunya akan mmbuat nyali mreka ciut utk berani mlkukn tindak pmrkosaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s