Family Moments, Moment of Truth

Lebaran sudah H++, liburan sudah lewat. Siapa yang masih dari liburan, balik rutinitas sehari-hari langsung dihajar kerjaan? *angkat tangan tinggi-tinggi* :mrgreen:
Rasanya seperti jetlag, betul tidak? Biasanya setelah liburan agak panjang, jadi agak kesulitan menyesuaikan diri dengan ritme sebelum liburan. Mental psikologis terlanjur dimanjakan dengan suasana liburan yang santai dan ga ada beban pikiran kerjaan.
Oke gurls, apa saja cerita kamu habis lebaran dan kumpul dengan keluarga? Akhirnya jawaban apa yang diberikan untuk ngeles dari pertanyaan-pertanyaan membetekan? Atau cerita gosip-gosip konflik keluarga? :mrgreen:   😆
Lebaran yang identik dengan momen-momen berkumpul dengan keluarga, ternyata tak sepenuhnya bisa dinikmati yah. Ironis ga sih, tapi bener lho. Dari ngobrol-ngobrol dan cerita ketika ketemuan dengan teman-teman, ternyata banyak yang mengeluh males kalau ikutan acara keluarga pas lebaran. Alasannya selain bosan, juga males ngadepin pertanyaan yang itu-itu juga. Well, okay, pertanyaan bisa meningkat sih, tapi ga jauh-jauh dari hal-hal yang bikin bete. Kalau masih sekolah/kuliah ditanya, udah lulus/ranking berapa. Yang masih lajang ditanya, kapan kawin. Malah belum lulus kadang udah ada yang nanya aja. Ntar kalau udah nikah, ditanya, udah isi belum, kok belum hamil. Lalu yang udah punya buntut, ditanya, kapan adeknya dibikin, ada rencana punya adek lagi gak. Kalau buntutnya dah sekolah, ditanya, ranking berapa, dst. Oh, capeeeee deeeeeh. Siapa yang ga cape, oh, please deh, apa sih tipsnya biar ga cape ngadepin pertanyaan tak berkesudahan seperti itu? :mrgreen:
Bisa memahami sih, pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah lebih banyak ke basa-basi. Kalau ada yang melihat pertanyaan seperti itu adalah sebagai wujud kepedulian, seringkali malah wujudnya menjurus ke kepo alias mengurusi hal-hal yang bukan urusan yang bersangkutan sih, sebenarnya. Mungkin kalau memang pertanyaan-pertanyaan tadi benar-benar sebagai bentuk kepedulian, caranya bagaimana supaya tidak mengganggu. Misal, tidak terus-terusan ditanyakan. Kesannya jadi intimidatif dan annoying, malah kadang untuk individu yang sensitif (kan kita gak tahu ya, isi hati orang), bisa dianggap mengancam/mengejek.
Kepedulian juga tak harus disampaikan dalam bentuk pertanyaan langsung. Bisa dengan mendengarkan betul-betul cerita dia. Karena kalau kita betul-betul mendengarkan, tanpa bertanya yang gimana, kita sudah bisa mendapatkan jawabannya sendiri kok dari ceritanya. Sebenarnya lagi, yang dibutuhkan adalah dukunguan/support, pengertian, dan empati untuk situasinya.
Tidak semua value/prinsip yang kita yakini, sesuai untuk orang lain lho. Wah apalagi kalau dipaksakan, wassalam deh. Bukannya dianggap sebagai bentuk kepedulian, tapi malah gangguan dan ancaman.
Well, tapi seni bersosialisasi, salah satunya adalah ber-tepa selira alias berkompromi dengan situasi. Jadi dari segi kita yang merasa terganggu, yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan respon kita: lebih sabar. Dan sebagai pihak yang lebih ‘sadar’, mungkin kita bisa lebih memahami mereka yang kepo-kepo itu yah memang mereka belum tahu dan belum bisa memahami kita.
Kalau demikian terus-terusan, apa tidak makan hati? Senyum sopan, dan permisi untuk kemudian ninggalin doi.  :mrgreen:
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s