Midnight Late Shopping dan Ramadhan

 

Hari-hari gini benar-benar godaan di bulan Ramadhan. Kesabaran dan komitmen bener-bener diuji. Bagaimana tidak, sale, diskon, bazaar, midnight sale dimana-mana. Aaaargghh…gurls, surga (bagi keinginan kita) sekaligus neraka (untuk dompet dan tabungan kita). Keluar rumah/kost baru berapa meter, spanduk diskon menari-nari menggoda kita. Buka surat kabar, iklan midnight sale menyita hampir sehalaman, aaawww menggoyahkan iman. Ini baru di luar mall/pusat perbelanjaan lho, belum masuk di dalamnya.

So, weekend kemarin imanku tergoyahkan, ketangguhanku buyar karena iming-iming dan serbuan banjir diskon. Mampirlah aku ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta raya. Niat awal yang hanya mengincar sepatu yang nyaman dipakai jalan, berbuah. Aku kalap dan akal sehatku hampir tidak jalan melihat berbagai penawaran yang (menurutku) gila-gilaan murah. Hingga lewat dari tengah malam, keluar dari mall dengan kaki letoy, tangan menenteng segambreng tas, barulah pada saat itu akal sehatku berjalan.

Duduk santai (lebih tepatnya lemas sih, saking kelelahan memutari seluruh mall), menikmati segarnya air putih membasahi kerongkongan yang kehausan, sembari mengecek kembali belanjaan. Pada saat itu tersadar, “Omg, what have I done?” *drama mode on*

Selain sepatu yang memang aku butuhkan, yang lain-lain ini benar-benar aku butuhkan ga sih? Belum lagi ada sedikit rasa penyesalan melihat beberapa aitem belanjaan yang aku beli hanya karena impulsive atau ga enak dengan pramuniaganya. Hello, ga enak dengan pramuniaganya? Kita konsumen gitu loh, kita berhak dan bebas-bebas saja kok, masuk toko dan mau beli atau tidak. Yeah, pemikiran seperti itu baru jalan ketika kita sudah di luar “arena pertempuran” (halah) :mrgreen: .

Sudah menenteng banyak belanjaan, eh, pikiran masih juga ga mau tenang. Masih berkelana, terbayang sandal lucu nan murah di butik itu (bisa buat alternative kalau lagi jalan santai), atasan manis dengan harga yang menantang iman di butik sana (buat lebaran pas silaturahmi, okek banget dah), dll. Omg! When is enough is enough?

Well, gurls, ada beberapa catatan sih dari pengalaman tersebut. Satu, kalau midnight sale atau emang niat banget berburu diskon, lupakan high heels dan sepatu sandal cantik. Pake sandal yang paling nyaman, yang ga bakal bikin kaki dan betis teyol. Yang kedua, yang paling penting, perhatikan antara keinginan dan kebutuhan. Itu kalau gamau di akhir acara, pake nangis darah karena tabungan jebol. Ketiga, tak perlu merasa sungkan atau ga enak. Beli/belanja barang karena memang kita butuh, bukan karena kita ga enak atau ikut-ikutan.

 

Masih duduk leyeh-leyeh, aku kembali merenung. Ini puasa, ramadhan, momen yang tepat untuk mengasah kepekaan social kita. Berbagi. Beribadah. Dan lihatlah aku, di mana aku baru saja “beribadah”. Berapa banyak yang aku habiskan untuk memuaskan keinginanku, tapi berapa banyak yang aku habiskan untuk berbagi? Sudah proporsionalkah?

Diam-diam terbetik doa, “Dear God, protect me from what I want.”

Advertisements

6 responses to “Midnight Late Shopping dan Ramadhan

  1. Pingback: shopping diet, puasa belanja | jeungvita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s