Woman and Stress Nowadays

image

Girls, boleh dong ya, sekali-kali postingan jeung vita isinya curhat gitu. Terus terang nih, sebagai freelance, orang sering memandang kerjaan freelancer itu santai, enak, bisa semaunya ngatur waktu, thus less stress. Sebenarnya enggak juga. Masa sekarang ini, apalagi di kota metropolitan yang serba cepat, di mana-mana kemacetan, tuntutan terhadap freelancer juga tinggi. Bisa banget gitu, kita kerja 24 jam sehari. Malah pas weekend juga masih kerja. Belum dikontak klien di jam-jam ajaib. Ada ga rekan jeung vita yang familiar dengan situasi di atas. Ga kebayang deh, mereka yang berperan ganda sekaligus juga sebagai ibu rumah tangga. Lajang ga ada tanggungan saja stressnya begini, apalagi yang masih banyak PR di rumah.

Walau perempuan dikaruniai kemampuan multitasking, ternyata karunia tersebut juga bisa sebagai ‘kutukan’ lho. Kenapa? Dari penelitian, ternyata didapat fakta bahwa multitasking secara ga langsung bisa menyumbang terhadap stress. Pertama, harus membagi-bagi perhatian. Dan itu membutuhkan effort. Multitasking bukan hal yang mudah dan ternyata malah tidak menguntungkan untuk kita. Dari berbagai hasil penelitian psikologi dan neuroscience, terungkap bahwa multitasking dapat ‘mengganggu’ memori. Mereka yang terbiasa multitasking, mempunyai akurasi ingatan yang rendah dibanding mereka yang terbiasa fokus one at a time. Mengapa, karena para multitasker ini jadi mengingat hal-hal yang seharusnya tidak usah diingat.

Selain itu, anggapan bahwa bekerja multitasking bisa membuat kerjaan bisa selesai lebih cepat dan efisien, ternyata kenyataannya tidak demikian. Penelitian menyatakan bahwa mengerjakan beberapa tugas sekaligus malah membuatnya selesai lebih lama, karena tiap tugas diselingi yang lain. Otak harus bekerja lebih keras, dan dari segi memori juga akurasi ingatan jadi berkurang.

Kembali ke soal stress. Tuntutan jaman sekarang, pekerjaan semakin demanding dan sifatnya kompleks. Multitasking ternyata malah semakin membuat stress. Sebenarnya apa saja sih, sumber stress itu?
Ada dua sumber stress, yaitu yang bersifat internal dan eksteral. Stress yang disebabkan hal-hal eksternal seperti misal pekerjaan, relasi dengan pacar, berita kriminal, dll. Stress yang bersifat internal atau berasal dari dalam, seperti misal fear, attitudes, perception, harapan yang tidak realistis, hal-hal seperti ini bisa membuat stressor external bisa berakibat lebih buruk. Jadi nih, misal, tentu heran dong, kok ada orang yang situasinya sama tapi mengapa si A lebih gampang stress sedangkan si B santai-santai saja. Ya karena si A mempunyai persepsi negatif, kalau ada apa-apa sudah panik duluan. Sedangkan B dia santai-santai saja karena dia memandang segala sesuatunya dari sudut pandang yang positif. Serendipity mentality, kalau istilahku.

Situasi yang terjadi dalam tubuh kita, ketika kita stress, tubuh mengeluarkan hormon kortisol. Hormon ini sebenarnya tidak menguntungkan untuk tubuh kita. Karena hormon ini erat hubungannya dengan peningkatan intra-abdominal fat. Jadi ga heran tuh, kalau orang stress, umumnya lingkar pinggang dan perut juga bertambah. Kerugian lainnya kalau si stress ini tidak segera ditangani, lingkar pinggang yang bertambah ini juga meningkatkan resiko jantung, diabetes, juga menyebabkan susah tidur, dll.
Selain itu ketika orang sedang stress, orang cenderung untuk mencari makan-makanan yang citarasanya asin/manis, makan makanan dari tepung, mengandung gula, dan berkalori tinggi. Tak heran jika orang stress beratnya juga bertambah, karena mereka makan disebabkan emosi. Bukan makan karena memang butuh nutrisinya, tapi untuk membuat perasaan mereka lebih baik.

Kalau begitu apa dong yang harus dilakukan untuk memenej stress?
Terinspirasi quote dari Bapak Evolusi, Charles Darwin, ” It’s not the smartest who survive, nor the strongest. It’s those who can adapt who survive.”
Jadi kuncinya adalah adaptasi dan penyesuaian diri; adapt and adjust. Adapting adalah sikap menerima realitas apa adanya, mungkin lebih seperti ke ikhlas, sedangkan adjusting adalah membuat strategi untuk memenej stress, atau sudah berupa tindakan.
Jadi kalau dari internal kita, kita perlu untuk bersikap adapting. Ikhlas, tidak memaksakan, menerima –sikap mental yang sehat–. Sedangkan kalau dari eksternal, kita perlu bersikap adjusting. Ada tindakan untuk mengelola stress supaya lebih maksimal. Misal, meditasi, yoga, olahraga, makan makanan bergizi —not just fun food–, support system alias adanya sahabat-sahabat yang bisa diajak berbagi.
Okay girls, semoga curhatan dan sedikit tips tadi bisa membuat kita-kita menjadi lebih tangguh dan tahan banting dengan tuntutan zaman. 😀

Advertisements

7 responses to “Woman and Stress Nowadays

  1. Pingback: Puasa Bikin Ga Produktif? | jeungvita

  2. Pingback: Stress Menjelang Hari Raya | jeungvita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s