Si Kambing Hitam PMS

image

Pagi ini aku dibikin prihatin sekaligus geli dengan nasib yang  menimpa rekan sejawatku, Dodi yang aku sebut di postingan sebelum ini. Kali ini dia kena apes, bukan dari pacarnya tapi dari perempuan lain.

Waktu itu Dodi lagi asik di kubikelnya, lagi ribet dengan pekerjaannya yang dari kemarin belum kelar juga. Lewat Nina sambil menggumam berbau ngomel, “Sakit kok ada-ada aja, yang maag, yang sariawan. Huuuh!”

Dodi spontan nyeletuk, “Sawannya enggak sekalian?”

Nina tiba-tiba mengamuk hebat, ditudingnya Dodi seraya kata-kata pedas berhamburan dari mulutnya. Dodi melongo, tidak siap dengan ‘serangan’ mendadak ini. Nina masih ngamuk-ngamuk gak jelas ketika Dodi meminta maaf. Tapi Nina masih ngomel-ngomel dan langsung membuang muka pergi dari hadapan Dodi.

Aku antara shock, kaget, melihat peristiwa tersebut, juga geli dengan ekspresi Dodi. Antara kaget, menyesal, bingung, dongkol, tergambar semua. Aku sendiri juga kaget sih, karena tak biasanya Nina jadi pemarah seperti itu. Biasanya dia ceria, ceriwis, ramai, ya begitu deh. Entah kenapa pagi ini mendadak berubah jadi naga. 😀

Aku mendekati kubikel Dodi dan berbisik, “Ada apa sih, kok Nina sampai segitunya marah ama kamu?”

Dodi menggeleng. Tahu-tahu Arno sudah di dekat kamu dan nimbrung pembicaraan, “Lagi PMS kali, jadi galak gitu,” ucapnya sambil nyengir.
Dodi mengeluh, “Kalian perempuan itu menakutkan, tahu, kalau lagi PMS. Kami pria harus selalu siap jantungan dan extra sabar kalau tiba-tiba dapat serangan seperti ini.”

Aku ketawa mendengar curcolan Dodi. Tapi dua pria tersebut kok malah makin menjadi curcolannya. Masing-masing cerita tentang kelakuan ceweknya, yang pada satu waktu pasti jadi lebih sensitif. Jangankan kesenggol, tidak melakukan apa-apa saja bisa bikin mereka nyolot, nangis tanpa sebab, demanding, dsb. Geje alias ga jelas banget, dan benar-benar membingungkan, demikian curcolan mereka.

Aku sendiri mengakui, menjelang mau datang bulan, ada masa aku menjadi lebih mudah marah. Dulu salah satu indikator mau ‘dapet’ adalah kalau tanpa alasan jelas jadi lebih mudah marah. Tapi hal tersebut ternyata tidak terjadi setiap waktu. Ada kalanya emosi tidak terlalu terpengaruh alias stabil, tahu-tahu ‘dapet’.

Lagian, pernah disentil seseorang, apa iya mau jadi budak hormon. Apa iya sama sekali ga bisa mengkontrol mengendalikan reaksi ketika sedang tersinggung. Jangan-jangan PMS jadi semacam legitimasi *halah bahasanya* untuk membenarkan ego kita. Enak tau, kita bisa ngamuk-ngamuk melampiaskan emosi kita. Kalau kata seseorang, seperti kentut. Yang penting kita lega, gak peduli orang lain kena baunya.
Hah, apa bener mau jadi seperti itu? Apa iya kita perempuan benar-benar tak berdaya dengan hormon attacks ini? Menurutmu bagaimana?

Advertisements

One response to “Si Kambing Hitam PMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s