Apa Sih Artinya Cantik?

Saat lunch bareng dengan seorang teman beberapa waktu lalu, ada beberapa hal yang membuatku makin tertarik mengamati serba-serbi kaumku, perempuan. Sebuah dunia yang sangat lekat dengan perempuan, yaitu kecantikan. Pertanyaannya kali ini adalah, mengapa perempuan sering sekali merasa insecure alias nggak PD dengan kecantikan mereka.

Aku dan Desi sudah 10 tahun tidak bertemu. Dulu ia teman sebangku di SMP, dan seingatku ia dulu gemuk, pemalu, rambutnya keriting. Kini ia berubah menjadi sosok yang modis dan wangi seperti layaknya perempuan urban. Tubuhnya semampai, langsing, rambut ikal tergerai panjang, dan kulit sawo matang yang mulus tak bernoda. Ketika kami ke toilet untuk touch up, aku mendengarkan keluhan Desi ketika mengaca.

“Aduuuh, ini hidung kok pesek bener sih. Gimana supaya bisa bangir ya…trus coba deh, liat payudaraku. Dari dulu ga banyak perubahan. Masak sama ama dada anak SMP, malah anak SMP sekarang banyak yang montok-montok. Apa musti ke Tokyo untuk operasi boobs ya, biar seperti Malinda Dee,” selorohnya.

Aku nyengir dan teringat pengalaman tiap pergi ke rest room di mall atau bioskop. Apa yang aku lihat disitu adalah perempuan-perempuan insecure. Setiap kali mengaca, selalu yang dilihat adalah kekurangannya. Yang jerawatanlah, yang bulu matanya kurang lentik lah, kulit berminyak, yang perut buncit lah dll. Bahkan seorang perempuan yang menurutku sudah sempurna, seperti Desi ini, juga mengeluh ketika berhadapan dengan cermin.

Iseng aku tanya Desi, memangnya sosok yang cantik itu yang seperti apa, yang bagaimana.
“Aduh bok ya, yang cantik itu ya yang kulitnya putih mulus, rambutnya luruuuus halus panjang, hidung mancung, perut rata, ya seperti di majalah dan tipi itu lah.“

“Lah elu biar ga putih tapi kan mulus gitu lho, bersih ga ada jerawat ato bekasnya. Rambut elu jg biar ga lurus tapi bagus, potongan yang sekarang cocok tuh ama wajah.”

“Eh gue mo smoothing ini rambut kok, biar bisa diponi. Jidat jenong gini, malu-maluin aja. Tapi masalahnya kalo rambut kriting gue diponi, yang ada malah rambut saru tuh. Tau dong, rambut saru. Itu tuh, rambut yang ada di tempat-tempat saru, hahahaha.”

Aku ketawa demi mendengar istilahnya, “Yah tapi kalo dilurusin, ilang dong eksotisme elu. Btw apa sih resepnya biar langsing? Errr…tapi dulu jaman SMP kan lu endut.”

“Hah, kek gini dibilang langsing? Aduuuhhh ini perut masih buncit, paha bisa buat gebug maling gitu. Aku diet keras, Vit, ples suntik.”

Aku manggut-manggut mendengar uraiannya.

Kadangkala tak habis pikir kalau denger seorang perempuan cantik ngoceh betapa ia tidak cantik, tidak sempurna, bla-bla-bla. Duh, gemes tauk. Bagaimana bisa ia tak menyadari kelebihannya dan mengukur dirinya dengan standar model & bintang iklan. Kalau semua harus diukur dengan standar bintang iklan, yang kulit harus putih, rambut harus lurus, perut harus serata papan penggilesan, dll yaaaa tenggelam dong. Lalu bagaimana dengan sosok mereka yang dikaruniai kulit hitam, rambut keriting, hidung pesek, pendek, dll. Apakah harus merogoh kocek untuk operasi plastik demi tampil cantik sesuai standar majalah televisi?

Padahal kalau ditanyakan ke pria-pria, tak semua pria menjawab yang cantik itu yang kulit putih. Macam semua pria seperti di iklan pemutih saja, hanya terpesona dan pasrah begitu si cewek menjelma jadi putih. Beauty is in the eye of beholder. Menurutku, Au Sang Sun Kyi itu cantik. Apakah ia tampil bak bintang iklan? Tidak. Ia adalah aktivis perjuangan HAM Myanmar, dan sudah berusia lebih dari 45 tahun. Christine Hakim, di usianya yang matang ia tetap terlihat cantik.

Cantik yang sempurna itu tiap daerah, tiap masa, berbeda. Gak percaya? Coba saja perhatikan majalah-majalah perempuan dari luar negeri. Mereka mengagumi dan memuja kulit sawo matang yang terbakar matahari. Menurut mereka, kulit kecoklatan karena sinar matahari itu seksi. Karena itu tak heran, ada salon untuk tanning. Malah pernah nonton di Oprah Show, standar kecantikan di suatu negara di Afrika adalah gemuk. Jadi perempuan cantik itu yang gemuk dan berbadan besar.

Definisi cantik juga ditentukan oleh tren suatu masa. Misal, di Cina kuno hingga awal abad 20, kaki yang kecil pada perempuan dinilai sangat feminin, thus kaki kecil itu cantik. Karena itu praktek ‘penyiksaan’ demi mendapatkan gelar cantik, dilakukan sejak dini. Kaki dibungkus rapat-rapat bahkan dengan sepatu besi, sehingga kaki tidak tumbuh sempurna. Akibatnya, perempuan dengan kaki kecil tersebut tak akan kuat berjalan-jalan jauh. Bahkan jika membaca link ini maka jelas terdokumentasikan, bahwa trend kecantikan selalu berubah-ubah, dari masa kitab perjanjian lama hingga masa sekarang ini.

Jadi, mengenai merasa cantik, boleh lah kita meniru sedikit para pria kalau mereka berkaca. Pernah memperhatikan, kelakuan para pria jika sedang mengaca? Mereka selalu memperhatikan kelebihannya, memamerkan lengannya, perutnya, dll. Intinya percaya diri. Kedua, penerimaan diri.
Jadi kalau dipuji cantik, ya terima saja kalau memang cantik, meski kulit tidak putih, rambut tidak lurus, hidung kurang bangir. Berhenti ingin menjadi orang lain, dan menerima apa adanya kalau dari sononya sudah cantik seperti apa adanya.

We are beautiful for what we are. Kalau menurut confucius, everything has beauty, but not everyone sees it. Teman-teman setuju nggak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s